Langsung ke konten utama

Keutamaan mengajari manusia dan mengajak mereka kepada kebaikan

Keutamaan mengajari manusia dan mengajak mereka kepada kebaikan[1]
Allah berfirman : “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf  seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Qs Al Jumuah : 2)
Firman-Nya: “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (Qs Ali Imran : 110)
Dari abu Masud uqbah bin Amir Al Anshari رضي الله عنه berkata : Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan maka baginya pahala semisal orang yang melakukannya” (HR. Muslim)[2]
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “ barangsiapa menyeru kepada petunjuk baginya pahala semisal pahala orang yang mengikutinya tidak terkurangi pahalanya sedikitpun, dan barang siapa mengajak kepada kesesatan maka dia mendapatkan dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tidak terkurangi sedikitpun dosanya” (HR. Muslim)[3]
Dari abi Umamah Al Bahili رضي الله عنه Rasulullah ﷺ bersabda, “sesungguhnya Allah, para Malaikat, dan penduduk langit dan bumi sampai semut di sarangnya bersholawat kepada orang yang mengajari manusia kebaikan “ (HR. At Tirmidzi berkata hasan shahih).[4]
 Makna bersholawat kepadanya adalah mendoakannya dan memohonkan ampunan kepadanya.
Penjelasan:
Mengajari manusia perkara agama dan mengajak mereka kepada kebaikan adalah amalan para nabi yang diutus Allah untuk hal tersebut, dan itu adalah tugas paling mulia, untuk hal tersebut Allah memilih makhluk-Nya yang mulia, maka barangsiapa yang Allah beri taufik untuk menempuh jalan mereka dalam mengajari manusia agama mereka dan membimbing mereka kepada kebaikan sungguh dia telah memperoleh kebaikan yang banyak dikarenakan telah sampai dengan sebab menyebarkan ilmu dan amar ma’ruf nahi munkar berupa kebaikan di bumi, dan dikarenakan didalamnya terdapat tegaknya hujjah kepada manusia.
Pelajaran:
1.      sesungguhnya mengajari manusia kebaikan termasuk amalan para nabi.
2.      keutamaan mengajari manusia perkara agama dimana orang yang mengajarkan ilmu atau mengajak kepada kebaikan baginya pahala orang yang mengerjakannya.
3.      besarnya pahala orang yang mengajari manusia kebaikan dimana Allah memuji orang tersebut dan dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi dikarenakan sampainya kebaikan di bumi dari tersebarnya ilmu.
4.      keutamaan dakwah kepada Allah dan amar ma’ruf  nahi munkar.[5]




[1] Lihat Taudhihul Ahkam 6/273, shahihut Targhib 1/49, dan Ghidaul Albab 1/47.
[2] HR. Muslim Al Imarah no. 1893,  At Tirmidzi Al Ilmu no. 1762,Abu Dawud Al Adab no. 5129, dan Ahmad 4/120
[3] HR. Muslim Al Ilmu no.2674, At Tirmidzi Al Ilmu no. 2674, Abu Dawud As Sunnah no. 4609, Ahmad 2/397, Ad Darimi Al Muqaddimah 513, dan Ibnu Majah 194
[4] HR. At Tirmidzi Al Ilmu no. 2685, Ad Darimi Al Muqaddimah no. 289, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib no. 1/36, dan Shahihul Jami’ no. 1883
[5] Diterjemahkan oleh Abdurrohman Hidayat dari kitab Ad Durus al Yaumiyyah minas sunan wal ahkamisy syar’iah oleh Dr. Rasyid bin Husain Abdul Karim hal. 24-25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Ketaatan dalam perkara yang ma'ruf. (Kaidah ke-8)

Shahabat Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu mengatakan, "Taatilah aku selama aku menaati Allah ﷻ dan Rasul Nya, apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasulullah maka tidak boleh kalian menaatiku." Asal muasal kaidah ini memiliki sebab yang tetap dua kitab sahih dari hadits Amirul mukminin Ali Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ mengutus sebuah ekspedisi dan mengangkat sahabat anshar sebagai pemimpin mereka, dan beliau perintahkan mereka untuk menaatinya. Selanjutnya sahabat anshar marah dan mengatakan; "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?" 'Ya' Jawab mereka. Sahabat anshar meneruskan; "Karena itu, aku ingin jika kalian mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, kemudian kalian masuk kedalamnya." Mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Tatkala mereka ingin memasukinya, satu sama lain saling memandang. Sebagian mengatakan; 'bukankah kita ikut Nabi ﷺ untuk menjauhkan diri dari api, apakah (sekarang) ki...

Jangan terjatuh kedalam lubang yang sama.

"Seorang mukmin haruslah bersikap tegas, tegar (penuh tekad), dan waspada; ia tidak boleh lengah sehingga bisa ditipu berulang kali dan terperosok ke dalam hal yang tidak diinginkan (keburukan). Hal ini bisa terjadi dalam urusan agama sebagaimana terjadi dalam urusan dunia, dan urusan agama adalah hal yang paling utama untuk diwaspadai." Dalam sebuah hadits disebutkan,  لا يُلْدَغُ المؤمِنُ من جُحْرٍ مَرَّتيْنِ "Tidak selayaknya seorang mukmin disengat [oleh binatang berbisa] dari lubang yang sama dua kali." [(HR. al-Bukhari (6133), Muslim (2998), dan Abu Dawud (4862), dan lafaz ini adalah milik mereka. Shahih al-Jami' (7779)] Terdapat dua makna dari hadits yang mulia ini: Yang pertama: bahwa seorang mukmin dia adalah seorang yang cerdas/cerdik lagi teguh pendiriannya (waspada/tegas) yang tidak lalai Sehingga ia tertipu berulang kali (beberapa kali) tanpa menyadarinya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pada perkara agama. Kedua: janganlah seorang mukmin tertipu...