Langsung ke konten utama

Perintah dan Larangan Terbesar


6⃣✅ : materi ke-4

-----------------------------------

بسم الله الرحمن الرحيم

🌴 perintah dan larangan terbesar 🌵

🌿 Allàh Azza wa Jalla berfirman :

 وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِالْوٰلِدَيْنِ إِحْسٰنًا وَبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِينِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنۢبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمٰنُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,

[QS. An-Nisa': Ayat 36]


🌎 makna ayat secara global :

📶 Allàh ta'ala memerintahkan hamba hamba Nya untuk beribadah hanya kepada Nya yang tidak ada sekutu bagi Nya dan melarang dari syirik,  Allah tidak mengkhususkan satu macam ibadahpun baik itu doa, shalat dan yang selain dari keduanya agar perintah itu mencakup segala jenis ibadah. dan Allah tidak mengkhususkan satu macam kesyirikan agar larangan itu mencakup seluruh macam kesyirikan.

🍃 faidah :

1⃣ wajibnya mengesakan Allah dengan beribadah, karena Allah perintahkan ini yang pertama kali,  dan ini merupakan kewajiban yang paling wajib.

2⃣ haramnya kesyirikan, karena Allah melarangnya dan ini merupakan bentuk keharaman yang paling besar.

3⃣ sesungguhnya meninggalkan kesyirikan merupakan syarat diterimanya ibadah,  karena Allah menggandengkan perintah untuk beribadah dengan larangan berbuat syirik.

4⃣ sesungguhnya kesyirikan itu haram baik sedikit maupun banyak, besar maupun kecil, karena ayat ini bersifat umum.

5⃣ tidak boleh menyekutukan Allah dengan seorangpun,  baik itu seorang nabi,  malaikat, orang shaleh dari para wali,  atau berhala,  bahkan tidak boleh menyekutukan Allah dalam satu perkara duniapun, karena ayat ini bersifat umum,  maka janganlah jadikan dunia tandingan bagi Allah, seorang manusia apabila ambisinya adalah dunia, maka dia telah menjadi hamba bagi dunia.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ ؛ تَعِسَ عَبْدُ الْقَطِيفَةِ ؛ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ

“Celakalah wahai budak (hamba) dirham. Celakalah wahai budak (hamba) dinar. Celakalah wahai budak (hamba) qothifah (pakaian).  Celakalah wahai budak (hamba) khomishoh (pakaian).” [ HR. Al Bukhari]

wallàhu A'lam.

و صلى الله على محمد و على اله و صحبه و سلم، و الحمد لله رب العالمين.

 📚 (al Mulakhas fii syarhi Kitabit Tauhid,  Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullah,  hal.15, syarah kitabuttauhid I/35 , Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah)

------------------------------------

🔊 diposting melalui grup WA "faidah" oleh Abu Nuaim
no. 085726569843
silahkan disebarkan tulisan ini sebagaimana aslinya.
semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Ketaatan dalam perkara yang ma'ruf. (Kaidah ke-8)

Shahabat Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu mengatakan, "Taatilah aku selama aku menaati Allah ﷻ dan Rasul Nya, apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasulullah maka tidak boleh kalian menaatiku." Asal muasal kaidah ini memiliki sebab yang tetap dua kitab sahih dari hadits Amirul mukminin Ali Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ mengutus sebuah ekspedisi dan mengangkat sahabat anshar sebagai pemimpin mereka, dan beliau perintahkan mereka untuk menaatinya. Selanjutnya sahabat anshar marah dan mengatakan; "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?" 'Ya' Jawab mereka. Sahabat anshar meneruskan; "Karena itu, aku ingin jika kalian mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, kemudian kalian masuk kedalamnya." Mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Tatkala mereka ingin memasukinya, satu sama lain saling memandang. Sebagian mengatakan; 'bukankah kita ikut Nabi ﷺ untuk menjauhkan diri dari api, apakah (sekarang) ki...

Jangan terjatuh kedalam lubang yang sama.

"Seorang mukmin haruslah bersikap tegas, tegar (penuh tekad), dan waspada; ia tidak boleh lengah sehingga bisa ditipu berulang kali dan terperosok ke dalam hal yang tidak diinginkan (keburukan). Hal ini bisa terjadi dalam urusan agama sebagaimana terjadi dalam urusan dunia, dan urusan agama adalah hal yang paling utama untuk diwaspadai." Dalam sebuah hadits disebutkan,  لا يُلْدَغُ المؤمِنُ من جُحْرٍ مَرَّتيْنِ "Tidak selayaknya seorang mukmin disengat [oleh binatang berbisa] dari lubang yang sama dua kali." [(HR. al-Bukhari (6133), Muslim (2998), dan Abu Dawud (4862), dan lafaz ini adalah milik mereka. Shahih al-Jami' (7779)] Terdapat dua makna dari hadits yang mulia ini: Yang pertama: bahwa seorang mukmin dia adalah seorang yang cerdas/cerdik lagi teguh pendiriannya (waspada/tegas) yang tidak lalai Sehingga ia tertipu berulang kali (beberapa kali) tanpa menyadarinya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pada perkara agama. Kedua: janganlah seorang mukmin tertipu...