إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً
أما بعد:
Ibadallah bertakwalah kepada Allah ﷻ, teruslah beramal shaleh, sesungguhnya Allah menghendaki para hamba untuk kontinyu dalam beramal shaleh, dan itu adalah perintah Allah ﷻ kepada para Nabi dan rasul.
Allah ﷻ berfirman kepada Nabi Nya,
“وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
"sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepastian (kematian)". (QS. Al Hijr:99)
Dan berfirman kepada Nabi Isa 'alaihissalam,
: {وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا}
"dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” (QS. Maryam:31)
Allah ﷻ mensifati penduduk surga,
ٱلتَّٰٓئِبُونَ ٱلْعَٰبِدُونَ ٱلْحَٰمِدُونَ ٱلسَّٰٓئِحُونَ ٱلرَّٰكِعُونَ ٱلسَّٰجِدُونَ ٱلْءَامِرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱلنَّاهُونَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱلْحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُؤْمِنِينَ
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu." (QS. At Taubah:112)
Orang-orang yang berhak menyandang sifat-sifat mulia ini adalah mereka yang terus-menerus melaksanakannya.
Berkata imam Hasan Al Bashri rahimahullah mengenai ayat ini,
والمستحقونَ لهذه الأوصاف هم المداومونَ
عليها، قال الحسنُ البصريُّ رحمه الله في قولهِ {العابدون}
"Mereka beribadah kepada Allah ﷻ pada setiap saat, adapun Demi Allah, bukan seorang yang beribadah hanya satu bulan, dua bulan, satu tahun, dua tahun, akan tetapi dialah sebagaimana yang Allah firmankan,
: {وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا}
"dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” (QS. Maryam:31)
Rasulullah ﷺ bersabda,
“”الأَعْمَالُ بِالخَوَاتِيمِ” رواه البخاري،
"Amalan itu tergantung bagaimana akhirnya." (HR. Al Bukhari)
Yaitu sesungguhnya kebahagiaan seorang hamba atau celaka ditentukan di akhir amalnya. Siapa yang akhir amalnya adalah amal penduduk surga maka dia masuk kedalam surga, sedangkan siapa saja yang akhir amalnya amal penghuni neraka maka dia masuk kedalam neraka. Rasulullah ﷺ bersabda,
فَوَالله الَّذِيْ لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلاذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَايَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إلا ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا)
Demi Allah, Dzat yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia, sesungguhnya salah seorang dari kalian, benar-benar beramal dengan amalan penduduk jannah (surga) sehingga jarak antara dia dengan jannah itu tinggal sehasta. Namun dia didahului oleh al kitab (catatan takdirnya) sehingga dia beramal dengan amalan penduduk neraka, maka diapun masuk ke dalamnya. Dan sunguh, salah deorang dari kalian beramal dengan amalan penduduk neraka hingga jarak antara di dengan neraka tinggal satu hasta. Namun dia didahului oleh catatan takdir, sehingga dia beramal dengan amalan penduduk jannah, maka dia masuk ke dalamnya.” (HR Al Bukhari dan Muslim)
“إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ، ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ”.
"Ada orang yang mengamalkan amalan ahli surga pada waktu yang sangat lama, lalu ia menutup akhir hidupnya dengan amalan ahli neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amalan ahli neraka pada waktu yang sangat lama, tetapi kemudian ia menutup akhir hidupnya dengan amalan ahli surga." (HR. Muslim:4791)
Seseorang apabila tidak pernah tahu kapan umurnya berakhir, maka hendaknya dirinya terus beramal shaleh sampai dirinya beruntung mendapatkan Husnul khatimah yang dengan izin Allah ﷻ bisa memasukkan dirinya kedalam surga.
Ibadallah,
Sesungguhnya terus menerus beramal shaleh memiliki manfaat yang amat agung, diantaranya adalah:
Pertama: Mendapatkan keberuntungan berupa Husnul khatimah. Maka siapa saja yang terus-menerus beramal shaleh niscaya akan baik akhir hidupnya.
Kedua: mendapatkan keberuntungan berupa cinta dari Allah ﷻ.
Rasulullah ﷺ bersabda,
: “إن أحبَ العملِ إلى الله أَدْوَمُهُ وإن قَلَّ” متفق عليه.
"Sesungguhnya amalan yang sangat dicintai Allah ﷻ adalah yang terus-menerus meskipun sedikit." (Muttafaq alaihi)
Ketiga: diantara tanda bahwa Allah ﷻ menghendaki kebaikan kepada hamba Nya, Rasulullah ﷺ bersabda,
“إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ فَقِيلَ: كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ” رواه الترمذي وصححه.
"Apabila Allah ﷻ menghendaki kebaikan pada seorang hamba,
Maka Allah akan mempekerjakannya.
Para sahabat bertanya,
Bagaimana mempekerjakannya?
Beliau menjawab, Allah akan memberikan taufiq kepadanya untuk beramal shaleh sebelum kematiannya."
(HR. Ahmad dan At Tirmidzi. Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam As Silsilah Ash Shahih 1334)
Keempat: akan dibangkitkan dengan kondisi yang baik setelah mati.
Sebagaimana sabda nabi Muhammad ﷺ,
«يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ» رواه مسلم.
"Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya." (HR. Muslim)
Ibadallah,
Sesungguhnya tetap istiqamah, terus menerus beramal shaleh terdapat sebab-sebab yang mendahuluinya setelah Taufiq dari Allah ﷻ,
Diantara yang terpenting adalah:
1. meminta pertolongan dari Allah ﷻ, dan bertawakal kepada Nya.
2. Doa yang jujur dan penuh permohonan.
3. Berjuang dan bersabar untuk mengekang hawa nafsu,
4. Berteman dengan orang yang istiqamah dan bersungguh-sungguh dalam ketaatan, karena seseorang tergantung agama temannya.
5. Tetap menjalankan ketaatan dengan sikap pertengahan dan proporsional. Siapa saja yang bersikap pertengahan dan proporsional niscaya akan meraih cita-citanya, dan siapa saja yang melampaui batas niscaya akan mengalami kejenuhan dan terputus dalam beramal.
أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
...
الخطبة الثانية:
الحمد لله على إحسانه والشكر له على توفيقه وامتنانه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً،
أما بعد:
Bertakwalah kepada Allah ﷻ ibadallah, mohonlah pertolongan kepada Allah ﷻ dan bertawakal kepada Nya, bertaubatlah dan kembalilah kepada Allah, ingatlah keadaan dibulan Ramadhan berupa puasa, shalat malam, berbuat baik, dan Al Quran.
Ketahuilah sesungguhnya mendekatkan diri Allah ﷻ adalah dengan mengerjakan amal fardhu pada semua umur dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan amal Sunnah juga disyariatkan pada keseluruhan umur.
Seorang muslim bersemangat penuh semangat untuk mengerjakan yang Allah ﷻ wajibkan kepadanya, dan meninggalkan apa yang Allah ﷻ haramkan kepadanya sama saja itu di bulan Ramadhan atau diluar bulan Ramadhan.
Membiasakan diri untuk amal ketaatan yang bersifat Sunnah, seperti Sunnah rawatib, shalat malam dan witir yang mudah, membiasakan membaca Al Quran baik siang maupun malam hari, bersemangat untuk melaksanakan sesuatu berupa puasa Sunnah yang memungkinkannya untuk dirutinkan seperti puasa tiga hari setiap bulan atau puasa Sunnah yang lainnya.
Siapa saja yang mengerjakan ini niscaya dia menjadi wali Allah ﷻ, dicintai oleh Allah ﷻ, jika ada yang berbuat buruk akan dilindungi, jika meminta kepada Allah ﷻ akan diberi, jika minta perlindungan kepada Allah ﷻ niscaya akan dilindungi sebagaimana terdapat dalam hadits qudsi yang shahih.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: ” {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}
اللهم تقبل صيامَنا وقيامَنا، وأَحْسِنْ خواتيمنا، واعتِقْ رقابَنا ورقابَ والدِينا من النار، وأدخلنا الجنة مع الأبرار، اللهم وفق إمامنا ووليَّ عهدِه بتوفيقك، اللهم انصر بهم دينَك، وأَعلِ بهم كلمتَك، وارزقهم البطانَةَ الصالحةَ الناصحةَ يا ربَّ العالمين. اللهم آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار، اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات، اللهم صل وسلم على عبدك ورسولك محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An Nisaa:1)
Petunjuk dari ayat :
1. Keutamaan ayat ini, manakala Rosulullah selalu membacanya tatkala berkhutbah untuk suatu keperluan. ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ اﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮا اﺗﻘﻮا اﻟﻠﻪ ﺣﻖ ﺗﻘﺎﺗﻪ ﻭﻻ ﺗﻤﻮﺗﻦ ﺇﻻ ﻭﺃﻧﺘﻢ ﻣﺴﻠﻤﻮﻥ}} membaca ayat ini dan kemudian membaca ayat dari surat al ahzab
{ﻳﺎ ﺃﻳﻬﺎ اﻟﺬﻳﻦ ﺁﻣﻨﻮا اﺗﻘﻮا اﻟﻠﻪ ﻭﻗﻮﻟﻮا ﻗﻮﻻ ﺳﺪﻳﺪا ﻳﺼﻠﺢ ﻟﻜﻢ ﺃﻋﻤﺎﻟﻜﻢ ﻭﻳﻐﻔﺮ ﻟﻜﻢ ﺫﻧﻮﺑﻜﻢ ﻭﻣﻦ ﻳﻄﻊ اﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ ﻓﻘﺪ ﻓﺎﺯ ﻓﻮﺯا ﻋﻈﻴﻤﺎ}
Kemudian berkata amma ba’du lalu dilanjutkan dengan menyebutkan hajat keperluannya.
2. Pentingnya bertakwa kepada Allah yang mana terulang dua kali dalam satu ayat di awal dan akhirnya.
3. Keharusan untuk menyambung silaturahim dan haram untuk memutusnya.
4. Memperhatikan persaudaraan antar indidvidu dan memperhitungkannya dalam pergaulan.
. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ
“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR. Muslim no.2567).
Komentar
Posting Komentar