Langsung ke konten utama

Standar Kebahagiaan Menurut Nabi ﷺ


 

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأن محمدًا عبده ورسوله.

وبعد:


Nikmat-nikmat dari Allah ﷻ kepada para hamba Nya sangatlah banyak tidak terhingga, rezeki itu sangatlah banyak dan beragam, rezeki tidak dibatasi hanya pada harta saja. Di dalam sebuah hadits, Nabi ﷺ bersabda, 

مَن أصبحَ منكم آمنًا في سربِهِ ، مُعافًى في جسدِهِ عندَهُ قوتُ يومِهِ ، فَكَأنَّما حيزت لَهُ الدُّنيا

“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan [1] aman pada keluarganya, [2] sehat badannya, dia [3] memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya” (HR. At Tirmidzi no. 2346 dan Ibnu Majah no. 4141)

Beliau ﷺ mengajarkan kepada para sahabatnya dan umat setelah mereka tiga hal:

Yang pertama:“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi"

Yaitu hamba manapun yang berada di pagi harinya dalam keadaan aman pada keluarganya. Terpenuhi rasa aman pada dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya. Atau bermakna rasa aman tampak di jalan atau rumah.

Rasa aman merupakan nikmat Allah ﷻ yang sangat agung terhadap para hamba Nya setelah nikmat iman dan Islam, tidaklah merasakan nikmat ini kecuali seseorang yang telah kehilangannya, seperti halnya orang-orang yang hidup di negeri yang dicabut kestabilan dan keamanannya atau mereka yang berada ditengah-tengah gejolak perang sehingga menghancurkan tanaman dan memakan banyak korban. Mereka tidurpun sambil mendengarkan suara bising pesawat dan meriam, Masing-masing dari mereka menaruh tangannya di dada, menunggu kematian datang kapan saja.

 ﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ ﴾ 

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al An'am:82)


Kedua: "Sehat badannya"

Yaitu mendapatkan kesehatan pada jasadnya, selamat dari penyakit dan bencana, serta dalam keadaan sehat.

Dikarenakan berharganya nikmat sehat ini, Nabi ﷺ seringkali berdoa, 

 "اللهم إني أعوذ بك من البرص 

والجنون والجذام، ومن سيء الأسقام"

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang (kusta), gila, lepra, dan dari segala keburukan segala macam penyakit".

(HR. Ahmad dari Anas)

Beliau  ﷺ mengabarkan bahwa kebanyakan manusia meremehkan dan terlena dengan nikmat ini.

Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan: Nabi ﷺ bersabda,

"نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس: الصحة والفراغ"

"Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu pada keduanya, yakni kesehatan dan waktu luang."  ([Sahih] - [HR. Al Bukhari] - [Sahih Al Bukhari - 6412])

Nabi  ﷺ memberikan arahan kepada ummatnya untuk menggunakan masa sehat dengan sebaik-baiknya sebelum datangnya masa sakit. Seseorang yang mengunjungi rumah sakit-rumah sakit dia akan menyaksikan apa yang menimpa saudara-saudaranya berupa penyakit-penyakit kronis yang pengobatan modern dibuat angkat tangan tidak sanggup menangani sebagiannya, maka hendaknya seseorang memuji Allah ﷻ di waktu pagi dan sore hari atas nikmat sehat ini. Maha benar Allah ﷻ yang berfirman, 

 ﴿ وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ ﴾

"Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." (QS. Ibrahim:34)

 

Ketiga: "Dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu"

Yaitu dirinya terpenuhi dengan rezeki yang cukup untuk hari itu, dan kebutuhan pokoknya untuk hari itu berupa makanan dan minuman.

Allah ﷻ berfirman, 

﴿ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ * الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ﴾ 


"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (QS. Quraisy:3-4)


Nabi ﷺ seringkali berlindung kepada Allah ﷻ dari kelaparan, diriwayatkan oleh imam Abu Dawud dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ berdoa, 

 "اللهم إني أعوذ بك من الجوع، فإنه بئس الضجيع"[9].

Dan sungguh Nabi ﷺ senantiasa meminta kepada Allah ﷻ kecukupan yaitu sesuai kadar untuk mencukupi dirinya.


Maka apa kata Nabi ﷺ?

"فكأنَّما حِيزَتْ له الدُّنيا"

"Maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya”

Yaitu seolah-olah dia memiliki dunia ini dan mengumpulkannya seluruhnya. 


Oleh karenanya siapa saja yang dirinya terpenuhi rasa aman, kesehatan, serta rezeki, dia tidak membutuhkan kepada sesuatupun setelahnya, dirinya seakan telah memiliki dunia dan mengumpulkannya, dia tidak butuh kepada yang lainnya lagi, maka wajib bagi seorang hamba untuk memuji Allah ﷻ dan bersyukur atas nikmat-nikmat ini.

Kesimpulan yang bisa kita ambil adalah bahwa hadits ini menjelaskan akan sangat butuhnya seorang manusia kepada rasa aman, kesehatan, dan rezeki berupa kebutuhan pokok.

Dari apa yang telah disampaikan menjadi jelas bahwa seseorang yang terkumpul padanya tiga sifat ini pada hari itu, maka seolah dia telah memiliki dunia secara keseluruhan, dan sungguh telah terkumpul pada kebanyakan orang lebih dari sekedar yang disebutkan dalam hadits ini, namun ironisnya bersamaan dengan itu mereka mengingkarinya, meremehkan nikmat Allah ﷻ yang begitu melimpah.

Mereka itu seperti yang Allah ﷻ firmankan, 

 ﴿ يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ ﴾

"Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir".

﴿ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ ﴾



"Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?." (QS. An Nahl:71)

Obat dari penyakit ini adalah seseorang melihat kepada orang lain yang tidak mendapatkan nikmat-nikmat ini atau sebagiannya, hal ini sebagaimana arahan Nabi ﷺ dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, 

انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kalian.” (Muttafaq ‘Alaihi).

Kita tutup dengan sebuah hadits yang menjelaskan bahwa kebanyakan dari manusia hidup dengan kehidupan layaknya para raja.

Diriwayatkan imam Muslim dari hadits Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhu, 

 أن رجلًا سأله فقال: ألسنا من فقراء المهاجرين؟ فقال له عبد الله: ألك امرأة تأوي إليها؟ قال: نعم. قال: ألك مسكن تسكنه؟ قال: نعم. قال: فأنت من الأغنياء. قال: فإن لي خادمًا. قال: فأنت من الملوك

Seseorang berkata pada Abdullah bin Amr bin Ash, “Bukankah kita termasuk orang-orang faqir dari Muhajirin?”

Jawab beliau, “Bukankah kamu mempunyai isteri yang kamu tinggal bersamanya?”

Orang itu menjawab, “Ya.”

(Ditanyakan lagi), “Bukankah kamu mempunyai rumah sebagai tempat tinggalmu?”

Orang itu menjawab, “Ya.”

Maka kata Abdullah bin Amr bin Ash, “Jika demikian maka kamu termasuk orang-orang yang kaya.”

Orang itu berkata, “Aku pun punya pembantu.”

Maka kata Abdullah bin Amr bin Ash, “Kalau begitu bererti kamu termasuk para raja.”

(Sahih Muslim 8/220)


Purwokerto, 23 Mei 2025


Sumber:

https://dorar.net/hadith/sharh/133419

https://www.alukah.net/sharia/0/67424/%D8%B4%D8%B1%D8%AD-%D8%AD%D8%AF%D9%8A%D8%AB-%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%B5%D8%A8%D8%AD-%D8%A2%D9%85%D9%86%D8%A7-%D9%81%D9%8A-%D8%B3%D8%B1%D8%A8%D9%87/

https://www.alukah.net/sharia/0/139835/%D9%85%D9%86-%D8%A3%D8%B5%D8%A8%D8%AD-%D9%85%D9%86%D9%83%D9%85-%D8%A2%D9%85%D9%86%D8%A7-%D9%81%D9%8A-%D8%B3%D8%B1%D8%A8%D9%87../

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Menakjubkan Mukjizat Dalam al-Quran Tentang al-Ankabuut (laba-laba)

Firman Allah ﷻ:  مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ ۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًا ؕ وَ اِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui." [QS. Al-'Ankabut: Ayat 41] Dua faidah indah dari surat al ankabuut : Faidah pertama: Mengapa dalam al-Quran kata al-Ankabut dalam bentuk muannats (betina) sedangkan dia adalah mudzakkar (jantan) ??? Perhatikan ta' ta'nits (تْ) pada kalimat اتخذت العنكبوت apakah mudzakar atau muannats? apakah kita katakan هذا عنكبوت hadza 'ankabut, atau هذه عنكبوت hadzihi 'ankabut? Yang benar adalah هذا عنكبوت hadza 'ankabut karena dia mudzakar, tidak dengan ta' ta'nits ( تْ ) pada kalimat al 'ankabut yaitu اتخذت Para pencela dan orang yang ragu ...

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang. Beriman Kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim yang demikian dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: 1. Beriman kepada hari akhir merupakan satu diantara rukun iman yang enam. 2. Beriman kepada hari akhir merupakan bagian dari keyakinan pokok islam yang mana bangunan akidah dibangun diatasnya setelah permasalahan keesaan Allàh. 3. Beriman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk beriman kepada perkara ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali dengan dalil wahyu (al Quran dan as Sunnah) 4. Iman kepada hari akhir seringkali digandengkan dengan iman kepada Allàh. Seperti dalam surat al Baqarah ayat 177, لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ َ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke ara...

Suwargo Nunut Neroko Katut

Suwargo Nunut Neroko Katut admin 28 Juni 2015 | 4.884 | 1 | Suwargo Nunut Neroko Katut Kaum muslimin yang berbahagia rahimani wa rahimakumullah , di tengah-tengah masyarakat jawa ada sebuah ungkapan yang cukup masyhur dan oleh sebagian masyarakat jawa ungkapan ini sudah menjadi sebuah falsafah yang mereka anut. Sebuah ungkapan yang menjelaskan apabila ada seseorang yang nantinya masuk surga maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa turut ikut masuk ke dalam surga. Demikian juga apabila ada seseorang yang nantinya masuk neraka maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa ikut masuk ke dalam neraka. Ungkapan yang dimaksud berbunyi, “Suwargo Nunut Neroko Katut,” yang kurang lebih artinya adalah surga bisa ikut numpang dan neraka bisa ikut terbawa yang maksudnya adalah seseorang bisa ikut terbawa masuk ke dalam surga atau neraka disebabkan kelua...