Jamaah rahimakumullah...
Saat ini kita telah memasuki bulan apa?
Benar kita telah memasuki bulan Muharram lebih tepatnya tanggal 4 Muharram tahun 1447 H.
Bulan Muharram oleh masyarakat Jawa sering disebut dengan bulan suro.
Pembahasan kita pada malam hari ini adalah tentang serba-serbi bulan suro.
Jamaah rahimakumullah...
Bulan Suro (atau dalam kalender Hijriyah disebut Muharram) adalah bulan pertama dalam kalender Islam.
“Suro” berasal dari kata Asyura, yaitu hari ke-10 bulan Muharram, yang memiliki keutamaan dalam Islam.
Bulan Allah Muharram adalah bulan yang agung lagi penuh berkah. Ia adalah bulan pertama ditahun hijriah dan salah satu bulan haram (yang disucikan).
Allah berfirman,
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan disisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” [at-Taubah/9:36]
Dan Nabi bersabda,
(( السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ))
“Dalam setahun ada dua belas bulan. Empat diantaranya adalah bulan haram. Tiga berurutan: Dzulqaidah, Dzulhijjah dan Muharram sedangkan (yang keempatnya) Rajab berada di antara Jumada dan Sya’ban.” (Hadits riwayat al-Bukhari no.2958)
Dalam budaya Jawa, kata “Suro” menjadi sebutan untuk keseluruhan bulan Muharram.
Lalu ada apa dengan bulan suro ini?
Berikut beberapa hal penting yang sering dikaitkan dengan bulan Suro:
---
1. Bulan Pantangan dan Keheningan.
Saudaraku kaum muslimin, pembahasan ini sengaja kami bawakan guna meluruskan keyakinan tentang anggapan yang keliru yang berkembang ditengah masyarakat kita sekaligus sebagai usaha kami dalam rangka nasihat-menasihati sesama kaum muslimin berkenan dengan datangnya bulan muharram yang lebih dikenal dengan bulan suro.
Masyarakat Jawa sering menghindari hajatan, seperti pernikahan atau acara besar, karena dipercaya akan membawa kesialan.
Banyak yang memilih untuk tirakat (puasa, semedi, tapa) di bulan ini.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, terutama yang masih memegang nilai-nilai budaya dan kepercayaan tradisional, bulan Suro dianggap sebagai bulan yang keramat, sakral, dan penuh pantangan.
Bulan suro makin melekat erat pada anggapan sebagian orang sebagai bulan keramat, angker penuh daya aura mistis dan bulan sial. Sehingga tidak sedikit orang menunda usahanya atau pernikahannya dan lain sebagainya dikarenakan salah satu sebabnya adalah perasaan takut akan sesuatu yang menimpa.
KEYAKINAN YANG KELIRU
Saudaraku rahimakumullah, keyakinan semacam ini di dalam islam disebut dengan Tathayyur atau Thiyarah yaitu seseorang meyakini akan mendapat sial oleh sesuatu yang dia jumpai seperti dia melihat burung atau dia mendengar berita tentang kegagalan atau kerugian menimpa seseorang atau hal yang ma'lum yang tidak terindra seperti adanya sial dibeberapa hari atau bulan atau tahun-tahun tertentu, yang akhirnya hal tersebut menjadi momok yang menakutkan dan melahirkan sikap pesimis di dalam hidup ini.
Ketahuilah, perbuatan semacam ini bisa dikatakan sebagai perbuatan bodoh dan warisannya orang-orang musyrik, yang Allah cela dan murka terhadap mereka. Maka melalui lisan Rasul-Nya dijelaskan bahwa hal itu termasuk syirik dan jauh-jauh hari beliau telah melarangnya:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر))
"Tidaklah ada (anggapan tentang) penularan penyakit (tanpa kehendak Allah), merasa bernasib buruk karena sesuatu, burung hantu/merasa sial dengan melihat burung, Shafr (tak ubahnya dengan bulan syura atau bulan-bulan lainnya sebagai bulan jelek)” (Muttafaqun ‘alaih).
Ditiadakannya keempat hal tersebut secara total dalam hadits adalah untuk menjelaskan pada kita akan wajibnya sikap tawakkal kepada Allah yaitu dengan benarnya sikap kita bersandar kepada Allah ﷻ semata dalam hal mendatangkan manfaat dan menolak mara bahaya dengan diiringi rasa percaya sepenuhnya kepada Allah serta mengusahakan sebab-sebab yang memang pantas untuk dijadikan sebab.
Oleh karena itu Allah ﷻ berfirman:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
"Barangsiapa bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Thalaq: 3)
Maka tidak pantas bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah, merasa lemah tatkala menghadapi itu semua, karena seseorang tidak mungkin lepas dari dua keadaan, yaitu:
yang pertama adalah yang paling parah yaitu dia mundur dan terpengaruh dengan thiyaroh ini dan tidak mau beramal.
Adapun yang kedua, dia membiarkan waktu berlalu begitu saja, dia tidak memperdulikannya akan tetapi jiwanya dalam kegoncangan, dan merana, serta sedih, khawatir akan dampak buruk yang menimpanya. Dua kondisi inilah yang dapat mengurangi kesempurnaan tawakkalnya dan membahayakannya. Mengapa? karena dia tidak bertawakal kepada Allah, yaitu dengan menyandarkan urusannya kepada selain Allah dan dia juga telah bergantung kepada suatu perkara yang "nisbi" yang tidak ada asalnya sama sekali, bahkan itu tak lain hanyalah prasangka dan khayalan belaka dan hal ini kosong dari nilai-nilai tauhid yang benar yang mana kita diciptakan dan difitrahkan untuk bertauhid, karena tauhid merupakan wujud pennghambaan diri dan minta pertolongan hanya kepada-Nya.
Allah berfirman,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepadaMu kami menyembah dan hanya kepadaMulah kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 3)
Dan Allah berfirman:
فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ
“Maka menyembahlah kepada Allah dan bertawakkallah kepada-Nya”. (QS Hud: 123)
Karena itu Islam berlepas diri dari perbuatan sebagian orang yang mengadakan bentuk peribadatan yang tidak diperuntukkan kepada Allah dan tidak pernah Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Khususnya yang marak di bulan Suro ini, diberbagai tempat misalnya Thawaf (berkeliling) keraton atau ngalap berkah terhadap benda mati atau yang hidup atau juga acara larung sesaji laut selatan atau juga yang diadakan di gunung merapi, bancakan, penyucian pusaka-pusaka, kendurenan, diperparah lagi ketika terjadi suatu bencana dan musibah dan yang semisalnya. Apapun namanya dan dikemas dalam bentuk apapun, ini adalah pelanggaran hak terbesar terhadap Rabb pencipta, pemilik, serta pengatur alam semesta. Dialah Allah satu-satunya yang berhak disembah, maka wajarlah kalau Allah memberikan peringatan atau bahkan adzab disebabkan kemaksiatan mereka terhadap Allah.
فَيَا عَجَبًا كَيْفَ يُعْصَى الإِلٰهُ
أَمْ كَيْفَ يَجْحَدُهُ الْجَاحِدُ
وَفِي كُلِّ شَيْءٍ لَهُ آيَةٌ
تَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ وَاحِدُ
“Alangkah mengherankan bagaimana bisa sesembahan yang hak itu dimaksiati atau bagaimana bisa Dia diingkari orang yang ingkar padahal segala sesuatu ada tanda bagi-Nya yang menunjukkan bahwa Dia adalah satu.”
HAKIKAT MUSIBAH
Kaum muslimin, berbagai musibah terjadi secara beruntun, hendaknya hal itu menjadikan kita bertaubat dan semakin mendekat kepada Allah, dengan memurnikan segala ibadah kepada-Nya. Dan dilakukan dengan cara yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya, yaitu berdasar atas Al-Qur’an dan sesuai dengan petunjuk Rasul-Nya. Maka marilah kita renungi dua ayat al Quran berikut ini
Yang pertama firman Allah,
﴿ أَلَا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِندَ اللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ﴾
"Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”
(QS. Al-A’raf: 131)
Ayat ini turun mengenai kaumnya Nabi Musa, sebagaimana Allah hikayatkan tentang mereka di dalam firman-Nya:
﴿ فَإِذَا جَاءتْهُمُ ٱلْحَسَنَةُ قَالُوا۟ لَنَا هَـٰذِهِۦ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۭ يَطَّيَّرُوا۟ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ ﴾
"Mereka (Firaun dan kaumnya) lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya.” (QS. Al-A’raf: 131)
Yakni apa yang menimpa mereka berupa paceklik dan kemarau tersebut, bukanlah disebabkan oleh Nabi Musa dan pengikutnya akan tetapi bersumber dari Allah, Maksudnya yaitu Allah yang telah mentakdirkannya dan tidak ada kaitannya dengan Nabi Musa dan pengikutnya, bahkan perkara yang dibawa Nabi Musa apabila mereka mau memahami serta memikirkannya niscaya mereka
mengetahui bahwa hal tersebut
merupakan sebab datangnya kebaikan, keberkahan, kebahagiaan, serta kesuksesan bagi orang yang mau beriman dan mau mengikutinya.
Akan tetapi mereka memutar balikkan fakta dan menebarkan keraguan ditengah-tengah manusia.
Allah berfirman:
وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا
يَعْلَمُونَ
"Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS. Al-A'raf: 131).
Adapun ayat yang kedua:
قَالُوا
طَائِرُكُم مَّعَكُمْ أَئِنْ ذُكِّرْتُم بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ
"Utusan-utasan itu berkata: "Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu mengancamkami)?. Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas". (QS. Yaasin:19).
Mengenai para utusan yang diutus untuk menyampaikan perintah Allah kepada penduduk suatu negeri, Allah utus dua orang utusan untuk mereka namun mereka mendustakan utusan Allah tersebut, Maka Allah tegaskan dengan utusan yang ketiga, mereka pun tetap mendustakannya, bahkan mereka memperlakukan utusan Allah tersebut dengan jawaban yang keji, Mereka (para utusan) menjawab:
قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَكُمْ مَا عَذَابٌاليم
Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merejam kamu dan kamupasti akan mendapatkan siksa yang pedih darikami." (QS. Yaasin: 18)
Meskipun dua ayat tersebut sekilas tampak saling bertentangan satu sama lain dan yang pasti tidaklah demikian keadaannya. Karena Al-Qur’an itu sempurna dan selaras. Tidaklah mungkin disana terjadi pertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain. Begitu juga Sunnah Rasulullah yang mulia.
MUSIBAH ITU BERSUMBER DARI ULAH TANGAN MANUSIA
Sehingga menjadi jelas bagi kita bahwa, pada ayat pertama menunjukkan bahwa yang mentakdirkan adanya manusia bernasib tidak baik, itu adalah Allah sedangkan ayat yang kedua menjelaskan adanya sebab, yaitu pada hakikatnya nasib yang malang itu berasal dari ulah tangan manusia itu sendiri, kemudian hal yang malang tersebut menimpa mereka, disebabkan amal perbuatan mereka yang memicu terwujudnya hal tersebut.
Hal ini selaras dengan firman Allah:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ
أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke yang benar)." (QS. Ar-Ruum:41)
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di berkata ketika menafsirkan ayat ini: "Makna Telah nampak kerusakan didarat dan dilaut adalah terjadinya kerusakan dibumi dan berkurangnya nilai-nilai kehidupan mereka dan berlakunya adzab atasnya. Pada diri mereka ada berbagai macam penyakit dan wabah dan lain sebagainya. Yang ini semua disebabkan ulah tangan mereka sendiri dari perbuatan-perbuatan yang rusak dan merusakan."
Dan firman Allah:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf:96)
Dan Allah juga telah tegaskan bahwa manusia seluruhnya benar-benar dalam kerugian.
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
"Demi masa. (Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al- Ashr: 1-3)
2. Bulan untuk Meningkatkan Ibadah
Dalam ajaran Islam, bulan Muharram adalah salah satu bulan haram (suci) yang dimuliakan, dan termasuk waktu yang utama untuk berpuasa dan berbuat kebaikan.
Puasa hari ‘Asyura’ yaitu hari kesepuluh bulan Muharram, hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Firaun, merupakan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ , Allah - karena rahmat dan karunia-Nya – dengan puasa ini menghapus dosa satu tahun yang lalu.
Bulan Muharram termasuk dari empat bulan yang dimuliakan dan berpuasa di bulan-bulan ini termasuk yang sangat utama.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم، وأفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل
“puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” [HR. Muslim no. 1163]
PENGHAPUS DOSA-DOSA KECIL
Berikut ini kami sampaikan kabar gembira bagi kita semua terlebih bagi kita yang senang melakukan dosa-dosa kecil, ingatlah wahai saudaraku, janganlah lihat seberapa kecilnya dosa kita tapi lihatlah siapa yang kita maksiati.
Makhluk termulia Muhammad yang diutus untuk menyampaikan kabar gembira pernah ditanya perihal puasa 'Asyura beliau kabarkan bahwa itu menghapuskan dosa satu tahun yang lalu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang mulia dari shahabat Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, “bahwa Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa hari ‘Asyura’, maka beliau bersabda,
يكفر السنة الماضية
“puasa hari ‘Asyura’ menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR. Muslim no. 1162]
Dan beliau memiliki suatu keinginan sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,
لئن بقيت إلى قابل (أي السنة القادمة) لأصومن التاسع"
“Sungguh jika pada tahun depan aku masih hidup niscaya aku puasa pada hari kesembilan.” [HR. Muslim no. 1134]
Yakni keinginan beliau itu untuk menyelisihi kaum Yahudi, karena pada hari kesepuluh mereka juga berpuasa untuk merayakan hari diselamatkannya nabi Musa beserta kaumnya dan binasanya fir'aun beserta bala tentaranya.
Ini menunjukkan disukainya puasa pada hari kesembilan bersama hari kesepuluh untuk menyelisihi kaum Yahudi.
Dan kita umat muhammad lebih berhak terhadap musa daripada mereka.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ datang ke kota Madinah lalu menjumpai orang-orang Yahudi berpuasa pada hari kesepuluh bulan Muharram, lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka, “hari apa ini yang kalian berpuasa padanya?” mereka menjawab, “ini adalah hari yang agung dimana Allah menyelamatkan Musa beserta kaumnya dan menenggelamkan Firaun beserta kaumnya, lalu Musa berpuasa untuk bersyukur, maka kami berpuasa.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “kami lebih berhak dan layak terhadap Musa daripada kalian.” Lalu Rasulullah ﷺ berpuasa dan memerintahkan untuk puasa.” [Muttafaqun ‘Alaih, Al Bukhari 4/244 (2004), Muslim No. 1130]
Ini menunjukkan disukainya puasa pada hari kesepuluh bulan Muharram, karena itu merupakan hari yang Allah menyelamatkan Nabi Musa dari Firaun.
maka kita sebagai orang yang mencintai sunnah beliau, dianjurkan untuk meneruskan keinginan beliau dengan berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya untuk menyelisihi kaum yahudi tersebut. Dan dengan ini pula maka cukup bagi kita sunnah beliau,
---
3. Mengenang Peristiwa Karbala
Dalam Islam, terutama kalangan Syiah, bulan Muharram sangat penting karena memperingati kesyahidan cucu Nabi Muhammad ﷺ, Husain bin Ali di Karbala (terjadi di tahun 60 H.
Diantara keutamaan Hasan dan Husein adalah sebagaimana sabda Rasulullah:
هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا. رواه البخاري
“Keduanya (Hasan dan Husain) adalah dua buah tangkai bungaku di dunia“. [Riwayat al-Bukhari dan lainnya, Fathul Bâri VII/95, no. 3753]
Pesta Duka Di Hari ‘Asyura
Hari ‘Asyura, orang-orang Syiah meyakininya sebagai hari sial yang membawa celaka. Sejak awal bulan Muharram (bahkan selama sebulan penuh) mereka tidak melakukan hal-hal penting di rumah, seperti tidak bepergian, tidak melakukan pernikahan, tidak berhias, tidak memakai pakaian yang bagus, tidak memakan makanan yang enak dan lain-lain. Anak yang lahir di bulan Muharram mereka yakini bernasib sial.
Secara khusus, pada hari ‘Asyura, mereka melakukan ritual yang amat mengerikan dengan menyiksa diri dengan benda-benda keras dan tajam. Semangat untuk menyakiti dan melukai tubuh sendiri akan kian terlucut dengan rangsangan sya’ir-sya’ir kisah terbunuhnya Husain bin ‘Ali Radhiyallahu ‘anhu di padang Karbala yang diperdengarkan, karya tokoh-tokoh Syi’ah. Kisah tersebut dibumbui dengan berbagai kebohongan serta cacian terhadap para Sahabat Radhiyallahu ‘anhum.
Beberapa tradisi di Indonesia juga mengadopsi bentuk peringatan tertentu, seperti Tabuik di Pariaman (Sumatera Barat).
Dan islam berlepas diri dari bid'ah yang diada-adakan secara rutin oleh kaum syiah dibulan muharram ini.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan hukum menyiksa diri atas peristiwa musibah yang menimpa seseorang dalam hadits berikut ini:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
Baca Juga Bantahan Bagi yang Mengatakan Bahwa Isra Mi'raj Adalah Khurafat
“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul muka, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah” [HR. al-Bukhari dan Muslim]
Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ : الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ. وَقَالَ : النَّائِحَةُ إذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطْرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ
“Ada empat perkara yang termasuk perkara jahiliyah terdapat di tengah umatku; berbangga dengan kesukuan, mencela keturunan (orang lain), meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayat“
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menambahkan:
“Wanita yang meratapi mayat apabila tidak bertaubat sebelum meninggal, ia akan dibangkit pada hari kiamat dengan memakai mantel dari tembaga panas dan jaket dari penyakit kusta” [HR. Muslim]
5. Tradisi Khas di Bulan Suro
Beberapa tradisi budaya Jawa yang khas antara lain:
Kirab Pusaka di Keraton Yogyakarta atau Surakarta.
Larung Suro: melarung sesaji ke laut.
Ritual tapa bisu, berjalan keliling tanpa berbicara.
Tirakat dan lelaku, sebagai bentuk spiritualitas tradisional.
---
Pandangan Islam Terhadap Kepercayaan Mistis
Banyak ulama dan tokoh agama menegaskan bahwa tidak ada dasar syar'i bahwa bulan Suro membawa sial atau pantangan menikah.
Ajaran Islam justru menekankan pemanfaatan bulan ini untuk ibadah, bukan menjadikannya bulan ketakutan.
---
Kesimpulan:
Bulan Suro adalah bulan penting, baik dari sisi keislaman (bulan Muharram) maupun budaya Jawa. Dalam Islam, bulan ini adalah waktu mulia untuk meningkatkan ibadah, sedangkan dalam budaya Jawa, ia memiliki nilai spiritual, mistis, dan sakral.
Dan marilah kita songsong tahun ini dengan penuh optimisme dengan mengisi sisa umur kita dengan iman dan amal shalih. Dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dengan berbagai musibah yang telah menimpa. Shalawat dan salam senantiasa tercurah pada Nabi kita, keluarga, shahabat, serta pengikut jejak sunnahnya hingga akhir zaman. Wallahu A'lam (Abdurrahman Hidayat).
Sumber:
- Artikel buletin Jumat Al Minhaj edisi ke-17 tahun ke-2, 2 Muharram 1429 H/11 Januari 2008 M, oleh Abdurrohman Hidayat
- Kitab Ad Durus Al Yaumiyyah Minas Sunan wal Ahkamisy Syar’iyyah Dr. Rasyid Bin Husain Abdul Karim hal. 34-35.
- https://almanhaj.or.id/2607-pesta-duka-di-hari-asyura.html
- https://almanhaj.or.id/3767-husain-bin-ali-bin-abi-thalib-radhiyallahu-anhuma.
html

Komentar
Posting Komentar