Langsung ke konten utama

Kemerdekaan Sejati: Bebas dari Neraka, Masuk Surga

 Ma'asyiral muslimin rahimakumullah...


Sesungguhnya keberuntungan yang hakiki adalah ketika seseorang dijauhkan dari ancaman siksa neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Dan yang paling berhak mendapatkan keberuntungan yang hakiki ini adalah mereka, orang-orang yang bertakwa. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah di dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 185:


> كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ


"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Maka barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya." (QS. Āli ‘Imrān: 185)


Inilah kebahagiaan yang abadi, keberuntungan yang hakiki, dan kemerdekaan yang sejati, yang seharusnya setiap kita memiliki tekad yang kuat dan berusaha untuk meraihnya.

Imam Ahmad rahimahullahu pernah ditanya, 

:"متى يجد العبد طعم الراحة؟"،

"Kapankah seorang hamba merasakan nikmatnya istirahat?"

Maka beliau mengatakan,

 "عند أول قدم يضعها في الجنة"

"Disaat pertama kali dia menginjakkan kakinya di surga." (Al Maqshad Al Arsyad:2/398)


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah...


Di banyak ayat Al-Qur'an, ketika Allah Ta‘ala menyebutkan keadaan penghuni neraka, Dia menyambungkannya dengan penyebutan keadaan penghuni surga, bahwa mereka berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air. 


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, surga yang penuh kenikmatan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa.

Marilah kita renungkan keadaan orang-orang yang bertakwa ketika mereka berada di dalam surga.

Sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam surat Al Hijr berikut ini.


A. Keadaan yang pertama orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman surga dan mata air-mata air. Allah berfirman, 


> إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّـٰتٍۢ وَعُيُونٍۢ


"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga) dan mata air-mata air." (QS. Al-Hijr: 45)


Mereka adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah, menaati-Nya, serta takut kepada-Nya dan menjauhi dosa serta maksiat.

semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang bertakwa itu.

B. Keadaan yang kedua mereka disambut dengan ucapan salam, dalam keadaan aman dan tenteram.

Allah berfirman, 


> ٱدْخُلُوهَا بِسَلَـٰمٍ ءَامِنِينَ


(Dikatakan kepada mereka), "Masuklah ke dalamnya dengan aman dan tenteram." (QS. Al-Hijr: 46)


Artinya: mereka masuk dalam keadaan selamat dari segala gangguan dan bahaya, disambut dengan salam, masuk dengan aman dari segala rasa takut dan kekhawatiran. Mereka tidak perlu khawatir akan dikeluarkan dari surga, tidak akan ada penghentian kenikmatan, dan tidak akan ada kebinasaan.

C. Keadaan yang ketiga hati mereka dibersihkan dari kedengkian dan dendam.

Sebagaimana yang Allah firmankan, 


> وَنَزَعْنَا مَا فِى صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَٰنًا عَلَىٰ سُرُرٍۢ مُّتَقَـٰبِلِينَ


"Dan Kami cabut segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sehingga mereka menjadi bersaudara, duduk berhadapan di atas dipan-dipan." (QS. Al-Hijr: 47)


Maka hati mereka pun bersih dari segala tipu daya dan hasad (kedengkian), penuh dengan kejernihan dan kasih sayang. Di dalam surga mereka saling mengunjungi, berkumpul, dan beradab satu sama lain. Masing-masing duduk berhadapan, tidak saling membelakangi, sambil bersandar di atas dipan-dipan yang dihiasi pelapis, mutiara, dan berbagai jenis permata.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

لاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَتَنَاجَشُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخوَانَاً، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَكْذِبُهُ، وَلايَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا – وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ – بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

”Janganlah kalian saling dengki, melakukan najasy, saling membenci, saling membelakangi dan sebagian dari kalian menjual apa yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini –sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali– cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram dan terjaga darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

D. Keadaan keempat.

Selain itu, orang-orang yang bertakwa — yang telah disebutkan sifat-sifat mereka di dalam surga — tidak akan merasakan lelah, baik secara lahir maupun batin. Karena Allah menciptakan mereka dalam bentuk dan kehidupan yang sempurna, yang tidak tersentuh oleh gangguan atau penyakit. Mereka tidak akan dikeluarkan dari surga, tidak dari kenikmatannya, dan tidak dari apa yang Allah karuniakan kepada mereka di dalamnya. Bahkan semua itu kekal selamanya.


Sebagaimana firman Allah:


> لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌۭ وَمَا هُم مِّنْهَا بِمُخْرَجِينَ


"Tidak akan mereka rasakan di dalamnya keletihan dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya." (QS. Al-Hijr: 48)


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah…


Inilah kemerdekaan yang harus kita perjuangkan: kemerdekaan jiwa dari dosa dan maksiat, kemerdekaan hati dari kebencian dan kesombongan, dan kemerdekaan hidup dari murka Allah menuju ridha dan surga-Nya. Maka marilah kita perkuat takwa kita, kita bersihkan hati kita, dan kita arahkan hidup kita menuju keberuntungan yang hakiki yaitu surga yang kekal dan penuh rahmat.


Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita semua termasuk golongan orang-orang yang bertakwa, yang benar-benar merdeka di dunia dan akhirat.


Karang Lewas, Agustus 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Menakjubkan Mukjizat Dalam al-Quran Tentang al-Ankabuut (laba-laba)

Firman Allah ﷻ:  مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ ۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًا ؕ وَ اِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui." [QS. Al-'Ankabut: Ayat 41] Dua faidah indah dari surat al ankabuut : Faidah pertama: Mengapa dalam al-Quran kata al-Ankabut dalam bentuk muannats (betina) sedangkan dia adalah mudzakkar (jantan) ??? Perhatikan ta' ta'nits (تْ) pada kalimat اتخذت العنكبوت apakah mudzakar atau muannats? apakah kita katakan هذا عنكبوت hadza 'ankabut, atau هذه عنكبوت hadzihi 'ankabut? Yang benar adalah هذا عنكبوت hadza 'ankabut karena dia mudzakar, tidak dengan ta' ta'nits ( تْ ) pada kalimat al 'ankabut yaitu اتخذت Para pencela dan orang yang ragu ...

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang. Beriman Kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim yang demikian dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: 1. Beriman kepada hari akhir merupakan satu diantara rukun iman yang enam. 2. Beriman kepada hari akhir merupakan bagian dari keyakinan pokok islam yang mana bangunan akidah dibangun diatasnya setelah permasalahan keesaan Allàh. 3. Beriman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk beriman kepada perkara ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali dengan dalil wahyu (al Quran dan as Sunnah) 4. Iman kepada hari akhir seringkali digandengkan dengan iman kepada Allàh. Seperti dalam surat al Baqarah ayat 177, لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ َ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke ara...

Suwargo Nunut Neroko Katut

Suwargo Nunut Neroko Katut admin 28 Juni 2015 | 4.884 | 1 | Suwargo Nunut Neroko Katut Kaum muslimin yang berbahagia rahimani wa rahimakumullah , di tengah-tengah masyarakat jawa ada sebuah ungkapan yang cukup masyhur dan oleh sebagian masyarakat jawa ungkapan ini sudah menjadi sebuah falsafah yang mereka anut. Sebuah ungkapan yang menjelaskan apabila ada seseorang yang nantinya masuk surga maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa turut ikut masuk ke dalam surga. Demikian juga apabila ada seseorang yang nantinya masuk neraka maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa ikut masuk ke dalam neraka. Ungkapan yang dimaksud berbunyi, “Suwargo Nunut Neroko Katut,” yang kurang lebih artinya adalah surga bisa ikut numpang dan neraka bisa ikut terbawa yang maksudnya adalah seseorang bisa ikut terbawa masuk ke dalam surga atau neraka disebabkan kelua...