Langsung ke konten utama

Kebajikan adalah Akhlak Mulia


Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya Nabi ﷺ diberikan jawāmi‘ al-kalim (ucapan yang singkat namun padat makna). Beliau berbicara dengan kata-kata yang ringkas tetapi mengandung makna yang sangat banyak. 

Diantaranya adalah sebuah hadits dari shahabat yang mulia Nawas bin Sam‘an Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ bersabda, 


 اْلبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِيْ نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ

“Kebajikan adalah akhlak mulia, sedangkan dosa adalah sesuatu yang meresahkan jiwamu dan engkau benci apabila manusia mengetahuinya.” (HR. Muslim no. 2553)

Al-birr (kebajikan) adalah kalimat yang sangat ringkas namun mencakup banyak makna sekaligus menutup segala kekurangan.

yang maknanya adalah memperluas perbuatan baik dan ketaatan.

Dari sisi balasan: kebajikan dari Allah ﷻ adalah pahala, sedangkan dari hamba adalah ketaatan.

Kadang digunakan untuk makna kejujuran dan akhlak mulia, karena keduanya termasuk inti kebajikan.

Sebagaimana al-birr (kebajikan) adalah nama yang mencakup seluruh makna ketaatan, maka al-itsm (dosa) adalah nama yang mencakup seluruh jenis maksiat.”


Jika direnungkan, akhlak mulia mencakup dua sisi besar:


1. Perilaku baik dalam hubungan dengan Allah ﷻ yaitu dengan mewujudkan rukun Islam dan rukun iman.


2. Perilaku baik dalam hubungan dengan makhluk Allah ﷻ yang meliputi manusia, jin, hewan, bahkan benda mati seperti rumah Allah (masjid).

Dengan ini kita mengetahui rahasia yang menjadikan Nabi ﷺ menyatukan makna kebajikan yang begitu luas dalam akhlak mulia. Dan dinamakan ‘akhlaq’ (budi pekerti) karena ia menjadi seperti tabiat atau ciptaan (sifat bawaan) yang menetap pada diri pemiliknya.


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Agama ini seluruhnya adalah akhlak! Maka siapa saja yang mengunggulimu dalam akhlak, maka dia telah mengunggulimu dalam agama.”


Banyak sekali perkataan Ulama tentang Akhlak Mulia ini diantaranya adalah apa yang dijelaskan oleh Imam Ibnul Mubarak rahimahullah:

“Akhlak yang baik adalah wajah yang ramah, berbuat baik, dan menahan diri dari menyakiti orang lain.”


Ibnu Rajab rahimahullah:

“Akhlak baik terkadang dimaksudkan berakhlak dengan akhlak syariat dan beradab dengan adab-adab dari Allah ﷻ sebagaimana firman-Nya kepada Rasulullah ﷺ:

﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾

‘Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.’ (QS. Al-Qalam: 4)

Apabila kita merenungkan kehidupan Nabi ﷺ, niscaya kita mendapati seluruhnya merupakan perwujudan nyata dari akhlak mulia dalam setiap keadaan: baik ketika perang maupun damai, saat gembira maupun sedih, dalam keadaan kaya maupun miskin.

Salah satu rahasianya adalah bahwa Nabi ﷺ mengaitkan kesempurnaan iman dengan akhlak yang baik, beliau bersabda,

أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلُقًا

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

(HR. Tirmidzi no. 1162, shahih)

Beliau ﷺ bersabda tatkala ditanya tentang amalan yang paling banyak memasukkan manusia ke surga, 

تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

“Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 2004, Ibnu Majah no. 4246, dinilai hasan shahih oleh Al-Albani).

Tidaklah hal tersebut melainkan dikarenakan takwa kepada Allah memperbaiki hubungan antara hamba dengan Rabb nya sedangkan akhlak yang mulia memperbaiki hubungan antara hamba dengan sesama. Dengan takwa akan diraih kecintaan Allah dan dengan akhlak akan menyebabkan manusia mencintai dirinya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah...

Sesungguhnya seseorang yang memiliki akhlak yang mulia akan memperoleh pahala yang besar dan derajat tinggi. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ.

Dengan akhlak mulia seorang mukmin bisa meraih:

- Derajat orang yang berpuasa dan shalat malam

- Kedekatan dengan Nabi ﷺ di akhirat

- Amalan yang berat timbangannya di Mizan


Doa yang diajarkan Nabi ﷺ:


> اللهم اهدنا لأحسن الأخلاق لا يهدي لأحسنها إلا أنت، واصرف عنا سيئها لا يصرف عنا سيئها إلا أنت

“Ya Allah, bimbinglah kami kepada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang dapat membimbing kepada akhlak yang paling baik kecuali Engkau. Dan jauhkanlah dari kami akhlak yang buruk, karena tidak ada yang dapat menjauhkannya dari kami kecuali Engkau.”


Kesimpulan:

1. Perbaikilah akhlakmu, niscaya engkau menjadi manusia terbaik.


2. Akhlak mulia adalah kehormatan besar bagi orang yang tidak punya kedudukan.

3. Orang yang terbiasa melakukan dosa berarti telah mengalami kemunduran fitrah.





---




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Ketaatan dalam perkara yang ma'ruf. (Kaidah ke-8)

Shahabat Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu mengatakan, "Taatilah aku selama aku menaati Allah ﷻ dan Rasul Nya, apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasulullah maka tidak boleh kalian menaatiku." Asal muasal kaidah ini memiliki sebab yang tetap dua kitab sahih dari hadits Amirul mukminin Ali Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ mengutus sebuah ekspedisi dan mengangkat sahabat anshar sebagai pemimpin mereka, dan beliau perintahkan mereka untuk menaatinya. Selanjutnya sahabat anshar marah dan mengatakan; "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?" 'Ya' Jawab mereka. Sahabat anshar meneruskan; "Karena itu, aku ingin jika kalian mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, kemudian kalian masuk kedalamnya." Mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Tatkala mereka ingin memasukinya, satu sama lain saling memandang. Sebagian mengatakan; 'bukankah kita ikut Nabi ﷺ untuk menjauhkan diri dari api, apakah (sekarang) ki...

Jangan terjatuh kedalam lubang yang sama.

"Seorang mukmin haruslah bersikap tegas, tegar (penuh tekad), dan waspada; ia tidak boleh lengah sehingga bisa ditipu berulang kali dan terperosok ke dalam hal yang tidak diinginkan (keburukan). Hal ini bisa terjadi dalam urusan agama sebagaimana terjadi dalam urusan dunia, dan urusan agama adalah hal yang paling utama untuk diwaspadai." Dalam sebuah hadits disebutkan,  لا يُلْدَغُ المؤمِنُ من جُحْرٍ مَرَّتيْنِ "Tidak selayaknya seorang mukmin disengat [oleh binatang berbisa] dari lubang yang sama dua kali." [(HR. al-Bukhari (6133), Muslim (2998), dan Abu Dawud (4862), dan lafaz ini adalah milik mereka. Shahih al-Jami' (7779)] Terdapat dua makna dari hadits yang mulia ini: Yang pertama: bahwa seorang mukmin dia adalah seorang yang cerdas/cerdik lagi teguh pendiriannya (waspada/tegas) yang tidak lalai Sehingga ia tertipu berulang kali (beberapa kali) tanpa menyadarinya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pada perkara agama. Kedua: janganlah seorang mukmin tertipu...