Langsung ke konten utama

Hak-hak Allàh yang wajib dipenuhi para hamba

Materi ke-6

-------------------

بسم الله الرحمن الرحيم

🌿 hak Allah yang wajib dipenuhi para hamba 🌴

🌿 Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu  yang memboncengnya diatas keledai :

يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْـعِبَادِ وَمَا حَقُّ الْـعِبَادِ عَلَى اللهِ؟ قُلْتُ: اَللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: حَقُّ اللهِ عَلَى الْـعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلَا يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْـعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا.

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya, dan apa hak hamba atas Allah?” Mu’adz pun menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka beribadah hanya kepada Allah saja dan mereka tidak boleh berbuat syirik (menyekutukan Allah) dengan suatu apa pun juga. Sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikit pun kepada-Nya.” [Muttafaqun 'alaih]

🌎 makna hadist secara global :

📶 sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menjelaskan kewajiban tauhid terhadap para hamba dan menjelaskan keutamaannya, beliau menyampaikannya dengan bentuk tanya jawab,  agar lebih menghujam ke dalam jiwa dan lebih mendalam pada pemahaman seorang murid,  tatkala beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan kepada Muadz keutamaan tauhid,  Muadz meminta izin untuk mengabarkan yang demikian itu kepada manusia agar mereka merasa gembira,  lalu Nabi melarangnya karena khawatir manusia akan bersandar terhadap hal tersebut lalu meremehkan amalan shaleh dan tidak merealisasikan konsekuensi dari tauhid.

🍃 faidah :

❶ tawadhunya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,  dimana beliau menunggangi keledai dan memboncengkan.

❷ bolehnya membonceng diatas binatang tunggangan selama binatang tersebut mampu

❸ pengajaran dengan metode tanya jawab

❹ seorang yang ditanya tentang suatu hal yang dia tidak tahu hendaknya mengucapkan, " Allahu A'lam."

❺ mengetahui hak Allah atas hamba yaitu mereka hanya menyembah kepada Allah tidak menyekutukannya

❻ sesungguhnya orang yang tidak meninggalkan syirik tidak disebut sebagai orang yang beribadah kepada Allah secara hakiki

❼ keutamaan tauhid dan keutamaan orang yang berpegang dengannya

❽ tafsir tauhid yaitu beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan kesyirikan

❾ disukainya memberi kabar gembira bagi orang muslim

❿ bolehnya menutupi ilmu karena suatu maslahat

❶❶ disyariatkan bagi seorang murid untuk beradab / beretika kepada gurunya.

❶❷ tauhid menghalangi siksa Allah, Allah tidak menyiksa hamba yang tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun

❶❸ sesungguhnya maksiat diampuni dengan terealisasikannya tauhid

❶❹ sesungguhnya merealisasikan tauhid mengharuskan meninggalkan maksiat, karena maksiat bersumber dari hawa nafsu,  dan ini termasuk jenis kesyirikan.
Allah ta'ala berfirman :

 أَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلٰهَهُۥ هَوٰىهُ

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya."

[QS. Al-Jatsiyah: Ayat 23]

wallàhu A'lam.

و صلى الله على محمد و على اله و صحبه و سلم، و الحمد لله رب العالمين.

 📚 (al Mulakhas fii syarhi Kitabit Tauhid,  Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullah,  hal. 18-20 dan al Qaaulul Mufid syarhu kitabit tauhid Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah, I/45-48)

🔊 diposting melalui grup WA "faidah" oleh Abu Nuaim.
no. 085726569843
silahkan disebarkan tulisan ini sebagaimana aslinya.
semoga bermanfaat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Ketaatan dalam perkara yang ma'ruf. (Kaidah ke-8)

Shahabat Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu mengatakan, "Taatilah aku selama aku menaati Allah ﷻ dan Rasul Nya, apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasulullah maka tidak boleh kalian menaatiku." Asal muasal kaidah ini memiliki sebab yang tetap dua kitab sahih dari hadits Amirul mukminin Ali Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ mengutus sebuah ekspedisi dan mengangkat sahabat anshar sebagai pemimpin mereka, dan beliau perintahkan mereka untuk menaatinya. Selanjutnya sahabat anshar marah dan mengatakan; "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?" 'Ya' Jawab mereka. Sahabat anshar meneruskan; "Karena itu, aku ingin jika kalian mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, kemudian kalian masuk kedalamnya." Mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Tatkala mereka ingin memasukinya, satu sama lain saling memandang. Sebagian mengatakan; 'bukankah kita ikut Nabi ﷺ untuk menjauhkan diri dari api, apakah (sekarang) ki...

Jangan terjatuh kedalam lubang yang sama.

"Seorang mukmin haruslah bersikap tegas, tegar (penuh tekad), dan waspada; ia tidak boleh lengah sehingga bisa ditipu berulang kali dan terperosok ke dalam hal yang tidak diinginkan (keburukan). Hal ini bisa terjadi dalam urusan agama sebagaimana terjadi dalam urusan dunia, dan urusan agama adalah hal yang paling utama untuk diwaspadai." Dalam sebuah hadits disebutkan,  لا يُلْدَغُ المؤمِنُ من جُحْرٍ مَرَّتيْنِ "Tidak selayaknya seorang mukmin disengat [oleh binatang berbisa] dari lubang yang sama dua kali." [(HR. al-Bukhari (6133), Muslim (2998), dan Abu Dawud (4862), dan lafaz ini adalah milik mereka. Shahih al-Jami' (7779)] Terdapat dua makna dari hadits yang mulia ini: Yang pertama: bahwa seorang mukmin dia adalah seorang yang cerdas/cerdik lagi teguh pendiriannya (waspada/tegas) yang tidak lalai Sehingga ia tertipu berulang kali (beberapa kali) tanpa menyadarinya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pada perkara agama. Kedua: janganlah seorang mukmin tertipu...