Langsung ke konten utama

Keutamaan tauhid (bag. 4)

materi ke-10
بسم الله الرحمن الرحيم
🌴 keutamaan tauhid (bag. 4)
🌿 Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda :
عَنْ أَنسِ بن مالكٍ رضى الله عنه ، قَالَ : سَمِعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقولُ : " قالَ اللهُ تَعالى : يا ابنَ آدَمَ ، إنَّكَ ما دَعَوتَني ورَجَوتَني غَفَرتُ لك على ما كانَ مِنكَ ولا أُبالي ، يا ابن آدمُ لَوَ بَلَغَتْ ذُنُوبُك عَنانَ السَّماءِ ، ثمَّ استَغفَرتَني ، غَفَرْتُ لكَ ، يا ابنَ آدم إنَّك لو أَتَيتَني بِقُرابِ الأرضِ خَطايا ، ثمَّ لَقِيتَني لا تُشركُ بي شَيئاً ، لأتيتُكَ بِقُرابها مغفرةً ".
[رواهُ التِّرمذيُّ وقالَ : حديثٌ حَسَن ]
Dari Anas Radhiallahuanhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya Engkau berdoa kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka akan aku ampuni engkau, Aku tidak peduli (berapapun banyaknya dan besarnya dosamu). Wahai anak Adam seandainya dosa-dosamu (sebanyak) awan di langit kemudian engkau minta ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni engkau. Wahai anak Adam sesungguhnya jika engkau datang kepadaku dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian engkau menemuiku dengan tidak menyekutukan Aku sedikitpun maka akan Aku temui engkau dengan sepenuh itu pula ampunan “
[HR. At Tirmidzi dan dia berkata : haditsnya hasan shahih]
🌐 makna hadist secara global :
Nabi -shallallallãhu 'alaihi wa sallam- mengabarkan dari Rabbnya -azza wa jalla- bahwa Dia berbicara kepada para hamba dan menjelaskan luasnya karunia dan kasih sayang Nya, yaitu Dia mengampuni sebesar apapun dosa-dosa selama itu bukan kesyirikan,  hadist mulia ini serupa dengan firman Allãh ta'ala :
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar. [Qs. An-Nisā : 48]
🍃 faidah :
❶ keutamaan tauhid dan banyaknya pahalanya.
❷ luasnya karunia, kebaikan,  rahmat, serta ampunan Allãh.
❸ hadist ini sebagai bantahan kepada kaum khawarij yang mereka mengkafirkan pelaku dosa besar selain syirik
❹ penetapan sifat kalam ( bicara ) bagi Allãh sesuai kemuliaan Nya yang pantas bagi Nya.
❺ penetapan hari kebangkitan,  hisab (perhitungan amal),  dan pembalasan
❻ mati diatas tauhid yang murni merupakan syarat diampunkannya dosa-dosa. dalam masalah ini ada perinciannya :
➡ orang yang meninggal di atas syirik besar maka masuk neraka.
➡ orang yang meninggal terbebas dari syirik besar dan syirik kecil,  maka masuk surga
➡ orang yang meninggal terbebas dari syirik besar dan ada padanya sedikit dari syirik kecil,  dan kebaikannya lebih banyak dari kejahatannya,  maka masuk surga
➡ orang yang meninggal terbebas dari syirik besar dan ada padanya syirik kecil,  dan kejahatannya lebih besar dari kebaikannya,  maka berhak masuk  neraka namun tidak kekal di dalam neraka.
wallàhu A'lam.
و صلى الله على محمد و على اله و صحبه و سلم، و الحمد لله رب العالمين.
📚 (kitabut tauhid bab fadhlut tauhid wa ma yukaffiru minadzdzunub,  syaikhul islam Muhammad At Tamimi rahimahullâh beserta penjelasannya,  al Mulakhas fii syarhi Kitabit Tauhid,  Asy Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullah,  hal. 26-27, lihat juga Al Jadid fii syarhi kitabittauhid,  Asy Syaikh Muhammad Al Qar'awi, dan kitab hadist arbain An Nawawi no. 42 beserta penjelasannya )
-------------------
🔊 diposting melalui grup WA "faidah"
no. 085726569843
Abdurrohman Hidayat
7 Jumadil Ulaa 1437 H
silahkan disebarkan tulisan ini sebagaimana aslinya.
semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Ketaatan dalam perkara yang ma'ruf. (Kaidah ke-8)

Shahabat Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu mengatakan, "Taatilah aku selama aku menaati Allah ﷻ dan Rasul Nya, apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasulullah maka tidak boleh kalian menaatiku." Asal muasal kaidah ini memiliki sebab yang tetap dua kitab sahih dari hadits Amirul mukminin Ali Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ mengutus sebuah ekspedisi dan mengangkat sahabat anshar sebagai pemimpin mereka, dan beliau perintahkan mereka untuk menaatinya. Selanjutnya sahabat anshar marah dan mengatakan; "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?" 'Ya' Jawab mereka. Sahabat anshar meneruskan; "Karena itu, aku ingin jika kalian mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, kemudian kalian masuk kedalamnya." Mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Tatkala mereka ingin memasukinya, satu sama lain saling memandang. Sebagian mengatakan; 'bukankah kita ikut Nabi ﷺ untuk menjauhkan diri dari api, apakah (sekarang) ki...

Jangan terjatuh kedalam lubang yang sama.

"Seorang mukmin haruslah bersikap tegas, tegar (penuh tekad), dan waspada; ia tidak boleh lengah sehingga bisa ditipu berulang kali dan terperosok ke dalam hal yang tidak diinginkan (keburukan). Hal ini bisa terjadi dalam urusan agama sebagaimana terjadi dalam urusan dunia, dan urusan agama adalah hal yang paling utama untuk diwaspadai." Dalam sebuah hadits disebutkan,  لا يُلْدَغُ المؤمِنُ من جُحْرٍ مَرَّتيْنِ "Tidak selayaknya seorang mukmin disengat [oleh binatang berbisa] dari lubang yang sama dua kali." [(HR. al-Bukhari (6133), Muslim (2998), dan Abu Dawud (4862), dan lafaz ini adalah milik mereka. Shahih al-Jami' (7779)] Terdapat dua makna dari hadits yang mulia ini: Yang pertama: bahwa seorang mukmin dia adalah seorang yang cerdas/cerdik lagi teguh pendiriannya (waspada/tegas) yang tidak lalai Sehingga ia tertipu berulang kali (beberapa kali) tanpa menyadarinya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pada perkara agama. Kedua: janganlah seorang mukmin tertipu...