Perintah menjaga lisan[1]
Firman Allah ﷻ
: Atinya,”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak
mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” [Qs. Al Israa : 36] maksudnya adalah jangan kamu
berbicara sesuatu yang engkau tidak memiliki ilmu
Dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata, “
wahai Rasulullah, siapakah orang islam yang paling utama?” Rasulullah ﷺ
bersabda,”orang yang kaum muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
[Muttafaqun ‘alaih]
Dari Abu Hurairah radhuyallahu ‘anhu bahwa beliau
mendengar Nabi ﷺ bersabda, “sesungguhnya seorang hamba
benar-benar mengucapkan suatu ucapan yang tidak dia fikirkan, maka dia akan
tergelincir sejauh jarak antara timur dan barat.” [Muttafaqun ‘Alaih] maknanya
adalah dia tidak memikirkan ucapannya itu apakah benar atau salah?
Dari Sufyan bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata, “
wahai Rasulullah kabarkan kepadaku dengan suatu perintah yang aku berlindung
dengannya! Beliau bersabda, “ katakanlah aku beriman kepada Allah kemudian
istiqomahlah! Aku bertanya, “wahai Rasulullah apa yang paling engkau
khawatirkan terhadap diriku? Maka beliau memegang lisannya seraya besabda, “ini
“ (yaitu lisan beliau) [HR. At Tirmidzi]
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu berkata, “wahai Rasulullah apakah keselamatan
itu? Beliau bersabda, “tahanlah lisanmu! , hendaknya rumahmu membuatmu nyaman,
dan tangisilah kesalahanmu.” [HR. At Tirmidzi]
Penjelasan:
pada menjaga lisan dari sesuatu yang bisa menjatuhkan
seseorang kepada hal yang diharamkan dari berkata yang tidak penting adalah
kebaikan yang besar dan keselamatan di dunia dan akhirat, oleh karena itulah
Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk menjaga
lisan dan membimbing kepadanya bahwa hal tersebut adalah termasuk jalan
keselamatan yang paling besar.
Pelajaran:
1. Sesungguhnya kesempurnaan islam seseorang
adalah menahan lisannya dari mengganggu kaum muslimin.
2. Sesungguhnya menahan lisan adalah sebab
keselamatan.
3. Sesungguhnya seseorang terkadang bisa masuk
ke dalam neraka disebabkan suatu ucapan yang dia tidak memikirkannya.
[1] Diterjemahkan oleh
Abdurrohman Hidayat dari kitab Ad Durusul Yaumiyyah minas sunani wal ahkamisy
syar’iah hal. 32-33.
Komentar
Posting Komentar