Langsung ke konten utama

Mulut Manis Mematahkan Tulang

Pernah dengar paribahasa yang berbunyi "Mulut Manis Mematahkan Tulang"? 

Paribahasa tadi bermakna perkataan yang lemah lembut dapat menyebabkan orang lain tunduk (menurut).

Tersirat pesan untuk bertutur kata yang baik.

Islam agama yang paripurna tentu terdepan di dalam mengajarkan segala hal yang baik.

Di dalam Al Quran disebutkan:


 وَقُولُوا۟ لِلنَّاسِ حُسْنًا


"Dan bertuturkatalah yang baik kepada manusia." (QS. Al-Baqarah : 83)


Ayat mulia di atas menjadi kaidah yang agung untuk kita jadikan sebagai penuntun kita dalam bergaul dengan manusia.


Ahli ilmu menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ucapan yang indah meliputi indah secara redaksi maupun secara makna. Redaksi yang indah adalah penuh dengan kelemah lembutan, tidak keras dan kasar. 

Sedangkan indah secara makna berarti baik, karena setiap ucapan yang indah maka itu baik, dan setiap ucapan yang baik maka itu indah.


Penerapan kaidah ini:


1. Barkata yang baik di hadapan orang tua. (Lihat QS Al Isra ayat 23)

2. Tidak menghardik orang yang meminta. (Lihat QS Adh Dhuha ayat 10)

3. Sifat ibadurrahman adalah membalas ucapan buruk yang ditujukan kepada dirinya dengan ucapan yang baik. (Lihat QS. Al Furqan ayat 63)


Beberapa realita terkait kaidah ini:


1. Kita dapati kaum misionaris mereka bersemangat menerapkan kaidah ini, dengan tujuan mengajak kaum muslimin untuk masuk ke dalam agama mereka (Nasrani). Sangat disayangkan, bukankah umat Islam lebih berhak dengan penerapan kaidah ini? Supaya manusia berduyun-duyun masuk ke dalam agama yang agung ini yang telah Allah ridhoi untuk para hamba-Nya?!

2. Ironisnya, kaum muslimin justru  ada yang meninggalkan kaidah ini seperti dalam bergaul dengan kedua orangtuanya, kepada pasangannya, kepada anak-anak, kepada para pekerja dan pembantu, tutur katanya tidak baik dan kasar.

Semoga kita dijauhkan dari sifat yang demikian itu.


Allah -azza wa jalla- berfirman:


وَقُل لِّعِبَادِى يَقُولُوا۟ ٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ كَانَ لِلْإِنسَٰنِ عَدُوًّا مُّبِينًا


Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sungguh, setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sungguh, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

(QS. Al Isra ayat 53)


Kesimpulan:


1. mulut manis mematahkan tulang.

Siapa saja yang baik tutur katanya, niscaya akan banyak orang yang mencintai dirinya.

2. Tutur kata yang baik sebagaimana di dalam menjawab pertanyaan, demikian juga di dalam bertanya, obrolan, dan diskusi, serta dalam segala kondisi.

3. Mulut kamu, harimau kamu yang artinya keselamatan dan harga diri kita bergantung pada perkataan kita sendiri.

Seseorang yang merenungi kaidah ini, niscaya akan mengetahui bahwa ucapan yang baik bisa menjaga jiwa, waktu, harta, dan usahanya.

4. Siapa saja yang berusaha keras untuk bertutur kata yang baik, niscaya akan menjadi kebiasaannya, dan dia akan dikenal seperti itu pula. Kata orang Jawa, "witing tresno jalaran Soko kulino."


Wallahu A'lam.

Semoga bermanfaat.


Disadur dari Qawaaid Quraniyyah Syaikh Umar bin Abdullah bin Muhammad Al Muqbil. Hal. 13-16

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang. Beriman Kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim yang demikian dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: 1. Beriman kepada hari akhir merupakan satu diantara rukun iman yang enam. 2. Beriman kepada hari akhir merupakan bagian dari keyakinan pokok islam yang mana bangunan akidah dibangun diatasnya setelah permasalahan keesaan Allàh. 3. Beriman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk beriman kepada perkara ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali dengan dalil wahyu (al Quran dan as Sunnah) 4. Iman kepada hari akhir seringkali digandengkan dengan iman kepada Allàh. Seperti dalam surat al Baqarah ayat 177, لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ َ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke ara...

Suwargo Nunut Neroko Katut

Suwargo Nunut Neroko Katut admin 28 Juni 2015 | 4.884 | 1 | Suwargo Nunut Neroko Katut Kaum muslimin yang berbahagia rahimani wa rahimakumullah , di tengah-tengah masyarakat jawa ada sebuah ungkapan yang cukup masyhur dan oleh sebagian masyarakat jawa ungkapan ini sudah menjadi sebuah falsafah yang mereka anut. Sebuah ungkapan yang menjelaskan apabila ada seseorang yang nantinya masuk surga maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa turut ikut masuk ke dalam surga. Demikian juga apabila ada seseorang yang nantinya masuk neraka maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa ikut masuk ke dalam neraka. Ungkapan yang dimaksud berbunyi, “Suwargo Nunut Neroko Katut,” yang kurang lebih artinya adalah surga bisa ikut numpang dan neraka bisa ikut terbawa yang maksudnya adalah seseorang bisa ikut terbawa masuk ke dalam surga atau neraka disebabkan kelua...

Nikmat Allah ﷻ kepada Bani Israil

 Tafsir surat Al-Baqarah ayat 49-53. ini adalah awal dari penyebutan satu persatu nikmat-nikmat Nya terhadap Bani Israil dengan suatu perincian. Kelima ayat di atas mengandung 4 nikmat amat besar yang Allah ﷻ karuniakan kepada Bani Israil. Nikmat-nikmat itu Allah ﷻ perintahkan untuk mengingatnya agar mereka mensyukurinya dan beriman kepada rasul Nya yaitu Muhammad ﷺ dan agama Islam. وَإِذْ نَجَّيْنَٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya (Selamat dari kebinasaan, seperti selamat dari tenggelam atau selamat dari adzab); mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. (Tidak membunuh bayi perempuan agar mereka besar dan menjadi pelayan, dan membunuh bayi laki-laki karena me...