Langsung ke konten utama

Hakikat Kehidupan Dunia

 


Allah ﷻ telah menjadikan seluruh yang ada di muka bumi, berupa hewan-hewan, pepohonan, tumbuhan, sungai-sungai, lautan, makanan yang lezat, minuman, tempat tinggal yang bagus, Pakaian, sawah, ladang, pemandangan yang indah, taman-taman yang menawan, suara-suara merdu, gambar-gambar yang tampan, emas, perak, kendaraan, dan apa saja yang ada di atas bumi dijadikan oleh Allah sebagai perhiasan dunia.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّا جَعَلْنا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَها لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً * وَإِنَّا لَجاعِلُونَ مَا عَلَيْها صَعِيداً جُرُزاً*

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Kami itu benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus.” (QS: Al-Kahfi Ayat 7-8)

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allâh menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita. [HR Muslim, no. 2742].

Dunia yang begitu indah ini dijadikan sebagai ujian dan cobaan bagi manusia, Maka hendaknya setiap manusia waspada akan hal ini dan menyadari bahwa kenikmatan-kenikmatan, kelezatan-kelezatan duniawi hanyalah cobaan dari Allah ﷻ seseorang bisa saja menggunakan dunia di jalan ketaatan dan bisa saja menggunakannya di jalan maksiat.

﴿لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا﴾.

Agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya yaitu siapa diantara manusia yang paling ikhlas dan paling benar.

Kemudian Allah ﷻ mengabarkan bahwa itu semua akan hilang, fana, lenyap, selesai, dan punah. Allah akan membinasakannya pada suatu hari setelah bumi itu makmur, subur, dan penuh dengan keindahan perhiasannya, Allah jadikan bumi ini tanah tandus yang rata tanpa pepohonan sedikitpun, maka ini merupakan hiburan bagi Rasul Nya supaya tidak bersedih dengan sebab perlakuan kaumnya, karena tempat kehidupan mereka yang mereka memusuhi dan bermaksiat kepadanya akan menjadi tanah rata yang tandus.

Kesimpulan:

1. Terdapat penjelasan sebab adanya perhiasan di muka bumi, yaitu ujian dan cobaan bagi manusia supaya tampak siapa yang zuhud terhadap dunia yang memahami akan remehnya dunia dan cepat hilangnya dunia, dan supaya tampak orang yang terobsesi dengannya sehingga rela bermaksiat kepada Allah demi mendapatkannya.

2. Terdapat penetapan kefanaan semua yang berada di atasnya sampaipun hanya tersisa tanah rata yang tandus tidak lagi terlihat tempat yang rendah dan tempat yang tinggi.

Purwokerto, 10 Dzul Qa’dah 1443 H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Ketaatan dalam perkara yang ma'ruf. (Kaidah ke-8)

Shahabat Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu mengatakan, "Taatilah aku selama aku menaati Allah ﷻ dan Rasul Nya, apabila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasulullah maka tidak boleh kalian menaatiku." Asal muasal kaidah ini memiliki sebab yang tetap dua kitab sahih dari hadits Amirul mukminin Ali Radhiyallahu Anhu, Nabi ﷺ mengutus sebuah ekspedisi dan mengangkat sahabat anshar sebagai pemimpin mereka, dan beliau perintahkan mereka untuk menaatinya. Selanjutnya sahabat anshar marah dan mengatakan; "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kalian untuk mentaatiku?" 'Ya' Jawab mereka. Sahabat anshar meneruskan; "Karena itu, aku ingin jika kalian mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api, kemudian kalian masuk kedalamnya." Mereka pun mengumpulkan kayu bakar dan menyalakan api. Tatkala mereka ingin memasukinya, satu sama lain saling memandang. Sebagian mengatakan; 'bukankah kita ikut Nabi ﷺ untuk menjauhkan diri dari api, apakah (sekarang) ki...

Jangan terjatuh kedalam lubang yang sama.

"Seorang mukmin haruslah bersikap tegas, tegar (penuh tekad), dan waspada; ia tidak boleh lengah sehingga bisa ditipu berulang kali dan terperosok ke dalam hal yang tidak diinginkan (keburukan). Hal ini bisa terjadi dalam urusan agama sebagaimana terjadi dalam urusan dunia, dan urusan agama adalah hal yang paling utama untuk diwaspadai." Dalam sebuah hadits disebutkan,  لا يُلْدَغُ المؤمِنُ من جُحْرٍ مَرَّتيْنِ "Tidak selayaknya seorang mukmin disengat [oleh binatang berbisa] dari lubang yang sama dua kali." [(HR. al-Bukhari (6133), Muslim (2998), dan Abu Dawud (4862), dan lafaz ini adalah milik mereka. Shahih al-Jami' (7779)] Terdapat dua makna dari hadits yang mulia ini: Yang pertama: bahwa seorang mukmin dia adalah seorang yang cerdas/cerdik lagi teguh pendiriannya (waspada/tegas) yang tidak lalai Sehingga ia tertipu berulang kali (beberapa kali) tanpa menyadarinya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pada perkara agama. Kedua: janganlah seorang mukmin tertipu...