Langsung ke konten utama

Milikilah sikap tawakal

 Allah ﷻ, Dialah yang kita menyandarkan segala urusan kita kepada Nya, baik yang kecil maupun yang besar, karena Allah ﷻ apabila tidak memudahkan urusan kita maka tidak akan mungkin dimudahkan urusan tersebut. Diantara sebab dimudahkan urusan adalah dengan tawakal kepada Allah ﷻ, terlebih disaat kondisi sulit dan kritis, penuh kekhawatiran, dan bertambah permasalahan, maka tidak ada untuk bersandar kecuali Allah ﷻ , maka wajib bagi kita bertawakal kepada Allah ﷻ dan menyerahkan urusan kita kepada Allah sehingga Allah ﷻ mencukupi keperluan kita dan menerima amal ibadah kita.

Perlu selalu diingat bahwa Allah ﷻ tidak dihinggapi rasa kantuk dan tidak tidur.

Allah ﷻ berfirman,


وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهٖۗ وَكَفٰى بِهٖ بِذُنُوْبِ عِبَادِهٖ خَبِيْرًا ۚ


"Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya." (QS. Al Furqan:58)


Tawakal secara bahasa adalah berserah diri.

Adapun secara istilah syar'i bermakna menyandarkan hati kepada Allah ﷻ untuk mendapatkan apa yang bermanfaat dan menolak apa yang membahayakan. Tawakal merupakan salah satu diantara ibadah. Dan tawakal itu wajib. Tawakal ini tidak menafikan untuk mengambil sebab, tidak bertentangan dengan usaha keras seseorang. bahkan tawakal dengan usaha menjadi satu kesatuan secara sempurna.



Dalam ayat mulia ini Allah ﷻ mengkhususkan sifat hidup, hal ini mengisyaratkan bahwa Dzat yang Maha hidup Dialah yang dapat dipercaya untuk memperoleh kemaslahatan. Tidak ada kehidupan secara terus menerus melainkan hanya milik Allah ﷻ. Adapun makhluk-makhluk yang kehidupan mereka terputus sesungguhnya mereka apabila telah mati hilanglah orang-orang yang bersandar kepada mereka. Seseorang sudah seharusnya hanya percaya kepada Allah ﷻ, karena bertawakal kepada selain Allah ﷻ meskipun terkadang memberikan manfaat tetapi tidak akan langgeng.


Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa terdapat penetapan sifat hidup yang sempurna bagi Allah ﷻ, secara bersamaan ditiadakan sifat kematian dari Nya.


Hendaknya kita menyerahkan segala urusan kita kepada Allah ﷻ Dzat yang Maha hidup yang tidak akan mati selama-lamanya, Allah ﷻ berfirman,

هُوَ ٱلْأَوَّلُ وَٱلْءَاخِرُ وَٱلظَّٰهِرُ وَٱلْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ

"Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al Hadid:3)


Kesimpulan:

1. Diantara buah manis keyakinan adalah sikap tawakal.

2. Tawakal kepada Allah ﷻ adalah seseorang bersandar kepada Allah ﷻ secara zhahir dan bathin untuk mendapatkan kemanfaatan dan menolak bahaya.

(وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ)

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath Thalaq:3)

Allah ﷻ yang mencukupi kita, apabila kita menyerahkan urusan kepada Allah ﷻ, maka Allah ﷻ mencukupi segala sesuatu. Namun apabila kita bertawakal kepada selain Allah ﷻ niscaya Allah ﷻ akan menyerahkan kita kepadanya, dan pasti kita akan mengalami kekecewaan dan urusan kita tidak akan terwujud.

3. Tawakal tidak menafikan usaha, bahkan tawakal dan usaha adalah satu kesatuan utuh.

4. Siapa saja yang bertawakal kepada selain Allah ﷻ, maka sungguh dia akan hilang, karena dia akan mati.

Sebagaimana Firman Nya, 

{كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ}

"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah." (QS. Al Qashash:88)

5. Seorang hamba diperintahkan untuk banyak bertasbih memuji Allah ﷻ.

6. Allah ﷻ mengetahui dosa-dosa yang dilakukan hamba Nya dan Dialah yang akan membalasnya.


Purwokerto, Jumat, 3 Rajab 1446 H/3 Januari 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Kisah Menakjubkan Mukjizat Dalam al-Quran Tentang al-Ankabuut (laba-laba)

Firman Allah ﷻ:  مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ ۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًا ؕ وَ اِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui." [QS. Al-'Ankabut: Ayat 41] Dua faidah indah dari surat al ankabuut : Faidah pertama: Mengapa dalam al-Quran kata al-Ankabut dalam bentuk muannats (betina) sedangkan dia adalah mudzakkar (jantan) ??? Perhatikan ta' ta'nits (تْ) pada kalimat اتخذت العنكبوت apakah mudzakar atau muannats? apakah kita katakan هذا عنكبوت hadza 'ankabut, atau هذه عنكبوت hadzihi 'ankabut? Yang benar adalah هذا عنكبوت hadza 'ankabut karena dia mudzakar, tidak dengan ta' ta'nits ( تْ ) pada kalimat al 'ankabut yaitu اتخذت Para pencela dan orang yang ragu ...

Bersemangat Dalam Perkara Yang Bermanfaat

  --- Kaedah Nabawiyah ke-20: “Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah/putus asa.” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شَيءٌ، فلا تَقُلْ: لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ؛ فإنَّ (لو) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ. “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, pasti akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena kat...