Langsung ke konten utama

Antara Nasab dan Kemuliaan Seseorang

 

Kaidah ke-13


وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بهِ نَسَبُهُ

Barangsiapa yang lambat dalam beramal, sungguh garis nasabnya tidak akan bisa membantunya.” (HR. Muslim no. 2699 dengan lafazh ini)


Seseorang itu tidaklah akan ditanya, tidak dipuji, dan tidak dicela atas sesuatu diluar keinginan dirinya, seperti halnya nasab, warna kulit, rupa, kedudukan, dan masa hidupnya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seseorang dipuji dan dicela berdasarkan ucapan dan perbuatannya, karena yang demikian adalah hasil usaha dirinya.


Memang tidak diragukan bahwa nasab yang mulia adalah nikmat Allah ﷻ atas seorang hamba apabila diiringi dengan ketakwaan, melainkan syariat tidak menjadikan padanya patokan tingkat keutamaan secara mutlak kecuali perkara yang terhubung dengan nasab Nabi ﷺ, sesungguhnya syariat mengaitkan dengan masalah nasab beberapa permasalahan hukum, seperti khilafah harus dari suku Quraisy, bagian kerabat Nabi ﷺ dalam harta rampasan perang adalah seperlima, haramnya sedekah kepada keluarga Nabi ﷺ, dan lain sebagainya, dalam masalah ini nasab yang utama kemungkinan besar ahlinya lebih utama dari yang lain.


Nabi Muhammad ﷺ telah menetapkan bahwa setiap orang kelak akan ditanya atas amalnya bukan karena dikarenakan nasabnya dengan berbagai sarana, beliau tanamkan dengan beragam surat yang beliau kirim pada waktu yang berbeda-beda, dengan dialektika yang bermacam-macam, diantaranya adalah:


1. Ayat yang pertama-tama diturunkan kepada beliau adalah 


وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ


Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.  [asy Syu’ara/26:214]. Beliau menyeru:

ا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنْ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسَ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ سَلِينِي بِمَا شِئْتِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا

"Wahai sekelompok orang Quraisy, belilah diri kalian dari Allah, aku tidak dapat melindungi kalian dari siksa Allah sedikit pun, wahai bani Abd al-Muththalib, aku tidak dapat melindungi kalian dari siksa Allah sedikit pun, wahai Abbas bin Abd al-Muththalib, aku tidak dapat melindungi kalian dari siksa Allah sedikit pun, wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak dapat melindungi kalian dari siksa Allah sedikit pun, wahai Fatimah binti Rasulullah, mintalah kepadaku sesuatu yang kamu kehendaki, aku tidak dapat melindungi kalian dari siksa Allah sedikit pun." (HR. Al Bukhari no. 4771 dan Muslim no. 348)

1. Pada peristiwa fathu Makkah, Nabi ﷺ perintahkan Bilal untuk naik ke atas Ka'bah untuk mengumandangkan adzan.

Bukan hanya itu, bahkan pada hari yang sama beliau memasuki Ka'bah, beliau mengerjakan shalat didalamnya, dan tidak ada yang masuk bersamanya kecuali Usamah bin Zaid, Bilal Al Habsyi, Utsman bin Thalhah penanggung jawab kunci Ka'bah.

3. Pada haji wada' terdapat pemandangan yang menakjubkan dimana Nabi ﷺ menaiki hewan tunggangan dan tidak ada yang ikut memboncengnya melainkan Usamah. Dalam khutbahnya beliau menyampaikan,

كل شيء من أمر الجاهلية تحت قدمي موضوع،

bahwa segala sesuatu tentang urusan jahiliyah telah hapus dan ditaruh di bawah telapak kakiku.


أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، كُلُّكُمْ لِآدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ وَلَيْسَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ فَضْلٌ إِلَّا بِالتَّقْوَى أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ؟ قَالُوا: نَعَمْ. قَالَ: فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ!


“Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu Satu dan moyangmu satu. Kalian anak cucu Adam dan Adam diciptakan dari tanah. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di hadapan Allah adalah mansia yang paling bertaqwa. Tidak ada keunggulan orang Arab atas non Arab, kecuali atas dasar kebaikan hati dan perbuatannya”. (HR. Ahmad)


Jika kita perhatikan Al Quran, niscaya kita jumpai Al Quran membenarkan kaidah Nabi ini, pada Al Quran ada satu surat seluruhnya berisi celaan kepada paman Nabi ﷺ yang bernama abu lahab itu dibaca sampai hari kiamat, dibaca oleh anak-anak dimasa awal menghafal Al Quran, kebalikan dari itu, seorang shahabat satu-satunya orang yang namanya disebutkan di dalam Al Quran yaitu Zaid bin Haritsah mantan budak dan orang kesayangannya, maka ini menunjukkan akan bukti yang besar akan kaidah ini.


Oleh karenanya tidak ada di dalam kitabullah satu ayatpun yang memuji seseorang dikarenakan nasabnya dan tidak ada seorangpun yang dicela dikarenakan nasabnya, hanyalah dipuji dengan sebab keimanan dan ketakwaan, dan dicela disebabkan kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.


Kita memohon kepada Allah ﷻ semoga kita dimuliakan dengan ketaatan kepada Nya, tidak dihinakan dengan bermaksiat kepada Nya, dan semoga Allah ﷻ mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat.


Kesimpulan:


1. Nasab tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.

2. Abu Lahab disebut celaka padahal bernasab, sedangkan Bilal mengumandangkan adzan dari atas Ka'bah, ini benar-benar karena amal.

3. Jika nasab dan amal menyelamatkanmu, maka ini adalah suatu nikmat diatas nikmat.

4. Jadi perhatian, pertanyaan disini adalah, apa itu amal? Bukan apa itu nasab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang. Beriman Kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim yang demikian dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: 1. Beriman kepada hari akhir merupakan satu diantara rukun iman yang enam. 2. Beriman kepada hari akhir merupakan bagian dari keyakinan pokok islam yang mana bangunan akidah dibangun diatasnya setelah permasalahan keesaan Allàh. 3. Beriman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk beriman kepada perkara ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali dengan dalil wahyu (al Quran dan as Sunnah) 4. Iman kepada hari akhir seringkali digandengkan dengan iman kepada Allàh. Seperti dalam surat al Baqarah ayat 177, لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ َ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke ara...

Suwargo Nunut Neroko Katut

Suwargo Nunut Neroko Katut admin 28 Juni 2015 | 4.884 | 1 | Suwargo Nunut Neroko Katut Kaum muslimin yang berbahagia rahimani wa rahimakumullah , di tengah-tengah masyarakat jawa ada sebuah ungkapan yang cukup masyhur dan oleh sebagian masyarakat jawa ungkapan ini sudah menjadi sebuah falsafah yang mereka anut. Sebuah ungkapan yang menjelaskan apabila ada seseorang yang nantinya masuk surga maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa turut ikut masuk ke dalam surga. Demikian juga apabila ada seseorang yang nantinya masuk neraka maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa ikut masuk ke dalam neraka. Ungkapan yang dimaksud berbunyi, “Suwargo Nunut Neroko Katut,” yang kurang lebih artinya adalah surga bisa ikut numpang dan neraka bisa ikut terbawa yang maksudnya adalah seseorang bisa ikut terbawa masuk ke dalam surga atau neraka disebabkan kelua...

Nikmat Allah ﷻ kepada Bani Israil

 Tafsir surat Al-Baqarah ayat 49-53. ini adalah awal dari penyebutan satu persatu nikmat-nikmat Nya terhadap Bani Israil dengan suatu perincian. Kelima ayat di atas mengandung 4 nikmat amat besar yang Allah ﷻ karuniakan kepada Bani Israil. Nikmat-nikmat itu Allah ﷻ perintahkan untuk mengingatnya agar mereka mensyukurinya dan beriman kepada rasul Nya yaitu Muhammad ﷺ dan agama Islam. وَإِذْ نَجَّيْنَٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya (Selamat dari kebinasaan, seperti selamat dari tenggelam atau selamat dari adzab); mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. (Tidak membunuh bayi perempuan agar mereka besar dan menjadi pelayan, dan membunuh bayi laki-laki karena me...