Langsung ke konten utama

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.


إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً.


"Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)."

(HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma)



Apa makna dari perkataan Nabi ini?

Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit.

Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus dalam makan, kurang responsif terhadap perintah, berpostur besar dan tinggi, atau yang dimaksud adalah kesabaran dan keteguhan dalam bekerja. Adapun langkanya keberadaan seseorang yang benar-benar sempurna di tengah banyaknya individu sejenisnya, merupakan makna yang jarang terlintas dalam benak. Hal ini menjadi salah satu hal yang membantu untuk merenungi dan memperhatikan makna yang mendalam ini. Selain itu, makna tersebut juga berkaitan dengan realitas yang dikenal oleh bangsa Arab dalam kehidupan mereka, bahwa unta merupakan sarana transportasi yang paling banyak digunakan pada masa itu hingga masa-masa belakangan.

Dan siapa saja yang merenungi Al-Qur’an Al-Karim, niscaya akan menemukan banyak ayat yang menguatkan makna umum ini. Dalam sekitar sepuluh ayat, kita dapat menjumpai keterangan tentang mayoritas manusia yang tersesat, kebanyakan dari mereka tidak menggunakan akal dalam perkara yang bermanfaat bagi diri mereka, serta hanya sedikit dari mereka yang bersyukur.

Renungkanlah ayat-ayat berikut ini:

1. Surat Al-Baqarah ayat 243


أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ ٱلْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ ٱللَّهُ مُوتُوا۟ ثُمَّ أَحْيَاهُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ


Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedangkan mereka beribu-ribu banyaknya karena takut mati? Maka Allah berfirman kepada mereka, “Matilah kamu!” kemudian Allah menghidupkan mereka kembali. Sungguh, Allah benar-benar mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.


2. Surat Al-An‘am ayat 116


وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ


Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah berdusta.


3. Surat Hūd ayat 17


أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍۢ مِّن رَّبِّهِۦ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌۭ مِّنْهُ وَمِن قَبْلِهِۦ كِتَـٰبُ مُوسَىٰٓ إِمَامًۭا وَرَحْمَةً ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِۦ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِهِۦ مِنَ ٱلْأَحْزَابِ فَٱلنَّارُ مَوْعِدُهُۥ ۚ فَلَا تَكُ فِى مِرْيَةٍۢ مِّنْهُ ۚ إِنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ


Apakah orang yang mempunyai bukti yang nyata dari Tuhannya, kemudian diikuti oleh saksi dari-Nya, dan sebelumnya telah ada Kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat (sama dengan orang kafir)? Mereka itu beriman kepadanya. Barang siapa di antara golongan-golongan (yang bersekutu) kafir kepadanya, maka nerakalah tempat yang dijanjikan baginya. Maka janganlah engkau ragu terhadapnya. Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.


4. Surat Yusuf ayat 103


وَمَآ أَكْثَرُ ٱلنَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ


Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun engkau sangat menginginkannya.


5. Surat Saba’ ayat 13


يَعْمَلُونَ لَهُۥ مَا يَشَآءُ مِن مَّحَـٰرِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍۢ كَٱلْجَوَابِ وَقُدُورٍۢ رَّاسِيَـٰتٍ ۚ ٱعْمَلُوٓا۟ ءَالَ دَاوُۥدَ شُكْرًۭا ۚ وَقَلِيلٌۭ مِّنْ عِبَادِىَ ٱلشَّكُورُ


Mereka mengerjakan untuknya apa yang dia kehendaki, berupa gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring sebesar kolam, dan periuk-periuk yang tetap berada di atas tungku. "Wahai keluarga Dawud, bekerjalah untuk bersyukur (kepada Allah).” Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.


Siapa saja yang merenungi kisah Thalut bersama kaumnya, akan tampak apa yang ditunjukkan oleh kaidah ini, 

Ketika Allah mengangkat Thalut sebagai raja bagi sekelompok Bani Israil, justru muncul penolakan dan keberatan dari sebagian mereka, padahal mereka sendirilah yang sebelumnya meminta kepada nabi mereka agar diangkatkan seorang raja untuk memimpin perang di jalan Allah.


Namun, saat kepemimpinan benar-benar berada di tangan Thalut, Allah mengujinya bersama kaumnya dalam ujian pertama. Maka perhatikanlah—bagaimana sikap mundur, keraguan, dan ketidaksiapan itu langsung tampak sejak awal dari sebagian mereka. Ini menunjukkan bahwa semangat dan ucapan belum tentu sejalan dengan kesiapan jiwa saat ujian datang.


Surat Al-Baqarah Ayat 249


فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِٱلْجُنُودِ قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍۢ ۖ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّى ۖ وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُۥ مِنِّىٓ إِلَّا مَنِ ٱغْتَرَفَ غُرْفَةًۭۢ بِيَدِهِۦ ۚ فَشَرِبُوا۟ مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًۭا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُۥ هُوَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ قَالُوا۟ لَا طَاقَةَ لَنَا ٱلْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِۦ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَـٰقُوا۟ ٱللَّهِ ۚ كَم مِّن فِئَةٍۢ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةًۭ كَثِيرَةًۭ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ


Maka ketika Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Barang siapa di antara kamu meminum airnya, maka ia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, kecuali sekadar menciduk dengan tangan, maka ia adalah pengikutku.” Lalu mereka meminum air itu, kecuali sebagian kecil dari mereka. Ketika Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya telah menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak akan sanggup melawan Jalut dan tentaranya pada hari ini.” Tetapi orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.


Sebelum itu mereka telah gagal dalam ujian, Allah kisahkan pada firman Nya:

Surat Al-Baqarah Ayat 246


> أَلَمْ تَرَ إِلَى ٱلْمَلَإِ مِنۢ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ مِنۢ بَعْدِ مُوسَىٰٓ إِذْ قَالُوا۟ لِنَبِيٍّۢ لَّهُمُ ٱبْعَثْ لَنَا مَلِكًۭا نُّقَٰتِلْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ أَلَّا تُقَٰتِلُوا۟ ۖ قَالُوا۟ وَمَا لَنَآ أَلَّا نُقَٰتِلَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِن دِيَٰرِنَا وَأَبْنَآئِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ ٱلْقِتَالُ تَوَلَّوْا۟ إِلَّا قَلِيلًۭا مِّنْهُمْ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِٱلظَّـٰلِمِينَ


"Tidakkah kamu perhatikan pemuka-pemuka Bani Israil setelah (wafat) Musa, ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, 'Angkatlah untuk kami seorang raja agar kami berperang di jalan Allah.' Nabi mereka menjawab, 'Mungkin sekali jika diwajibkan atas kamu berperang, kamu tidak akan berperang.' Mereka menjawab, 'Mengapa kami tidak akan berperang di jalan Allah, padahal kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?' Tetapi ketika diwajibkan atas mereka berperang, mereka pun berpaling, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim."


Kaidah nabi yang mulia ini mencakup dua hal: berita yang benar dan petunjuk yang bermanfaat.

A. Berita, Nabi mengabarkan bahwa kekurangan itu mencakup kebanyakan manusia, yang sempurna atau mendekati sempurna sangatlah jarang, seperti seratus unta, jumlah yang cukup banyak, jika diantara jumlah tersebut diambil untuk ditunggangi yang pantas untuk mengangkut dan kendaraan, pulang pergi, nyaris sulit ditemukan.

Demikianlah juga manusia banyak jika dicari diantara mereka yang baik untuk mengajar, berfatwa, kepemimpinan, atau urusan yang besar maupun kecil, atau tugas penting, nyaris tidak dijumpai yang bisa menjalankan itu semua dengan baik, dan ini adalah realita. Sungguh manusia itu sangat zhalim dan bodoh. Kezhaliman dan kebodohan adalah sebab kekurangan, menghalangi kesempurnaan dan ketuntasan. 

Abu Darda mengatakan, "Aku dapati manusia itu, jika engkau berbicara, mereka akan membalasmu dengan informasi; dan jika engkau diam, mereka akan menilaimu.

Yakni: jika engkau memberitahu mereka (berbicara kepada mereka), maka akan tampak dari kebanyakan mereka sesuatu yang tidak engkau sukai, sampai-sampai engkau berharap seandainya engkau tidak mengabarkan mereka."

Berkata para ahli hikmah,

الكِرامُ في اللِّئامِ كالغُرَّةِ في الفَرسِ


"Orang-orang mulia di tengah orang-orang hina itu seperti tanda putih di dahi kuda."

B. Petunjuk, sesungguhnya maksud terkandung dari berita ini adalah petunjuk dari Nabi, selayaknya bagi sekelompok umat untuk berusaha, bersungguh-sungguh dalam menjadikan ahli orang-orang yang pantas melaksanakan tugas-tugas penting dan perkara manfaat yang umum dan menyeluruh.

Surah At-Taubah Ayat 122,


وَمَا كَانَ ٱلْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُوا۟ كَآفَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍۢ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌۭ لِّيَتَفَقَّهُوا۟ فِى ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُوا۟ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوٓا۟ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ


"Tidak sepatutnya bagi seluruh orang mukmin pergi (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari setiap kelompok di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya ketika mereka telah kembali kepadanya, agar mereka itu dapat menjaga dirinya."

Kesimpulan:

1. Apa yang kamu benci dari orang lain, cobalah untuk menghindarinya (dalam dirimu)."

2. Jangan hidup di dunia yang penuh angan-angan idealis (dunia ideal yang tidak nyata).

3. Kamu hampir tidak akan menemukan (di dalamnya) satu pun kendaraan yang layak tunggang, m

aka janganlah menuntut sesuatu yang mustahil.


Karang Lewas, 19 Juni 2025






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang. Beriman Kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim yang demikian dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: 1. Beriman kepada hari akhir merupakan satu diantara rukun iman yang enam. 2. Beriman kepada hari akhir merupakan bagian dari keyakinan pokok islam yang mana bangunan akidah dibangun diatasnya setelah permasalahan keesaan Allàh. 3. Beriman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk beriman kepada perkara ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali dengan dalil wahyu (al Quran dan as Sunnah) 4. Iman kepada hari akhir seringkali digandengkan dengan iman kepada Allàh. Seperti dalam surat al Baqarah ayat 177, لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ َ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke ara...

Suwargo Nunut Neroko Katut

Suwargo Nunut Neroko Katut admin 28 Juni 2015 | 4.884 | 1 | Suwargo Nunut Neroko Katut Kaum muslimin yang berbahagia rahimani wa rahimakumullah , di tengah-tengah masyarakat jawa ada sebuah ungkapan yang cukup masyhur dan oleh sebagian masyarakat jawa ungkapan ini sudah menjadi sebuah falsafah yang mereka anut. Sebuah ungkapan yang menjelaskan apabila ada seseorang yang nantinya masuk surga maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa turut ikut masuk ke dalam surga. Demikian juga apabila ada seseorang yang nantinya masuk neraka maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa ikut masuk ke dalam neraka. Ungkapan yang dimaksud berbunyi, “Suwargo Nunut Neroko Katut,” yang kurang lebih artinya adalah surga bisa ikut numpang dan neraka bisa ikut terbawa yang maksudnya adalah seseorang bisa ikut terbawa masuk ke dalam surga atau neraka disebabkan kelua...

Nikmat Allah ﷻ kepada Bani Israil

 Tafsir surat Al-Baqarah ayat 49-53. ini adalah awal dari penyebutan satu persatu nikmat-nikmat Nya terhadap Bani Israil dengan suatu perincian. Kelima ayat di atas mengandung 4 nikmat amat besar yang Allah ﷻ karuniakan kepada Bani Israil. Nikmat-nikmat itu Allah ﷻ perintahkan untuk mengingatnya agar mereka mensyukurinya dan beriman kepada rasul Nya yaitu Muhammad ﷺ dan agama Islam. وَإِذْ نَجَّيْنَٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya (Selamat dari kebinasaan, seperti selamat dari tenggelam atau selamat dari adzab); mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. (Tidak membunuh bayi perempuan agar mereka besar dan menjadi pelayan, dan membunuh bayi laki-laki karena me...