Khutbah Jumat.
Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa risalah agung, suri teladan kita dalam segala hal, termasuk dalam menegakkan keadilan dan kesetaraan. Beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Keadilan di antara sesama manusia merupakan salah satu prinsip agung yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Tidak ada keutamaan bagi seseorang atas yang lain kecuali dengan amal saleh dan ketakwaan.
Sahabat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu mengabarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah berkhutbah kepada para sahabatnya dalam Haji Wada’ (Haji Perpisahan terjadi pada tahun 10 Hijriah yang dihadiri oleh sekitar 100 ribu kain muslimin), tepatnya di pertengahan hari-hari Tasyriq. Beliau ﷺ bersabda:
> "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ"
“Wahai manusia, sesungguhnya Rabb kalian adalah satu.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Nabi ﷺ membuka khutbah ini dengan menegaskan keesaan Allah ﷻ, untuk menghapus anggapan bahwa keutamaan seseorang ditentukan oleh nasab atau keturunan—sebagaimana yang sering terjadi pada masa jahiliah. Karena jika Tuhan kita satu, maka tidak ada alasan untuk merasa lebih mulia selain karena takwa.
Kemudian beliau ﷺ menegaskan:
> "أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ، وَلَا لِأَعْجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا لِأَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى، إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ"
“Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas Arab, tidak pula yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, atau yang hitam atas yang merah, kecuali dengan ketakwaan. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman; dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ghayah al-Maram)
Maknanya begitu jelas yaitu keutamaan tidak ditentukan oleh ras, suku, bangsa, warna kulit, atau status sosial—melainkan oleh ketakwaan kepada Allah ﷻ. Ini adalah ajakan tegas untuk meninggalkan kebanggaan terhadap asal-usul dan nasab, serta dorongan untuk sungguh-sungguh beribadah kepada Allah.
Allah ﷻ berfirman:
> "يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ"
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Artinya: Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa—yaitu yang paling menjaga diri dari kemaksiatan dan paling bersemangat menjalankan kewajiban. Bukan mereka yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling banyak keturunannya.
---
Ma’asyiral Muslimin,
Pada peristiwa Fathu Makkah (terjadi pada bulan Ramadhan tahun 8 Hijrah yang ketika jumlah pasukan kaum muslimin mencapai 10 ribu), Nabi ﷺ memerintahkan Bilal bin Rabah — seorang mantan budak dari Habasyah (Etiopia) — untuk naik ke atas Ka'bah dan mengumandangkan azan. Sebagian kaum Muslimin saat itu tidak menyangka akan hidup menyaksikan seorang budak Habsyi berdiri di posisi seagung itu.
Namun inilah ajaran Islam — dan petunjuk kenabian yang mendidik manusia dengan tindakan dan perkataan. Inilah keadilan sejati. Rasulullah ﷺ tidak melihat asal usul, warna kulit, atau status sosial. Beliau melihat ketakwaan dan keimanan.
Di hari yang sama, Nabi ﷺ masuk ke dalam Ka'bah untuk melaksanakan shalat. Tidak ada seorang pun yang masuk bersama beliau kecuali tiga orang:
1. Usamah bin Zaid, mantan budak dan anak dari mantan budak,
2. Bilal bin Rabah, budak dari Habasyah,
3. Utsman bin Thalhah, sang penjaga kunci Ka'bah.
(HR. Al-Bukhari no. 2826 dan Muslim no. 1329 dari hadits Ibnu Umar)
Ini adalah sebuah pesan yang lebih dalam dari seratus khutbah—pesan praktis yang mengajarkan kepada manusia, pada hari yang agung ini, tentang standar Rasulullah ﷺ dalam menilai manusia dan menentukan kedudukan mereka.
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Peristiwa lain yang menunjukkan akan hal ini terjadi pada momen teragung yang pernah disaksikan dunia saat itu — pada saat Haji Wada’. Dalam sebagian rangkaian ibadah haji itu, ketika umat tengah bersiap untuk berangkat dari Arafah, pandangan mereka tertuju pada tunggangan Nabi ﷺ. Mereka bertanya-tanya: "Siapakah yang akan mendapatkan kehormatan menemani Nabi ﷺ di atas kendaraannya?"
Ternyata, yang terlihat bersama beliau hanyalah Usamah bin Zaid — seorang pemuda berkulit hitam, mantan budak — yang duduk di belakang Nabi ﷺ.
Beliau ﷺ sengaja melakukan itu pada hari di mana beliau menyampaikan khutbahnya yang agung — khutbah yang menetapkan prinsip tauhid dan Islam serta menghancurkan akar-akar syirik dan jahiliah. Di hari itulah Rasulullah ﷺ menyampaikan khutbah paling monumental dalam sejarah, di antaranya beliau bersabda:
> "إن كل شيء من أمر الجاهلية تحت قدمي هاتين موضوع."
“Sesungguhnya segala perkara jahiliah telah diletakkan di bawah kedua kakiku ini.” (HR. Muslim, no. 1218)
Ma’asyiral Muslimin,
Itulah bentuk nyata dari sabda beliau ﷺ yang telah disebutkan: bahwa tolok ukur kemuliaan dalam Islam adalah ketakwaan dan amal saleh. Semua manusia sama di hadapan syariat, dan Islam menolak setiap bentuk diskriminasi — baik berdasarkan ras, warna kulit, keturunan, atau status sosial.
---
Penutup:
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,
Semoga khutbah ini mengingatkan kita semua untuk menilai manusia dengan adil, berdasarkan ketakwaan dan amal, bukan berdasarkan hal-hal duniawi yang fana.
Ketahuilah bahwa Islam tidak memuliakan seseorang karena warna kulit, status sosial, jabatan, atau nasab, melainkan karena ketakwaannya.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:
إن أكرمكم عند الله أتقاكم —
> "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."
(QS. Al-Ḥujurāt: 13)
والله أعلم بالصواب
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
---

Komentar
Posting Komentar