Langsung ke konten utama

Khutbah Jumat: ajaran Nabi jalan kebaikan

 ---

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh...

Sesungguhnya ajaran para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah, merupakan jalan kebaikan dan keberkahan bagi siapa pun yang mengikutinya. Namun sayang, sebagian kaum justru menuduh bahwa para nabi adalah penyebab kesialan bagi mereka. Tuduhan ini muncul karena ketidaktahuan mereka terhadap hakikat takdir, bahwa kebaikan dan keburukan semuanya berasal dari Allah ﷻ.

Dahulu kaum Fir‘aun mereka menyalahkan Nabi Musa atas musibah seperti kekeringan dan paceklik yang menimpa mereka.

Allah ﷻ ceritakan hal dalam firman Nya,

> وَإِذَا جَاءَتْهُمُ ٱلْحَسَنَةُ قَالُوا۟ لَنَا هَـٰذِهِۦ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۭ يَطَّيَّرُوا۟ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ ۗ أَلَآ إِنَّمَا طَـٰٓئِرُهُمْ عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan apabila datang kepada mereka kebaikan, mereka berkata, ‘Ini adalah karena (usaha) kami.’ Tetapi jika mereka ditimpa malapetaka, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersama dia. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”

(QS Al-A‘râf: 131)

Ayat ini menceritakan tentang kaum Fir‘aun yang menyalahkan Nabi Musa atas musibah seperti kekeringan dan paceklik yang menimpa mereka. Padahal, semua itu adalah takdir dari Allah sebagai hukuman atas kekufuran mereka.

Kisah serupa juga terjadi pada para rasul yang disebutkan dalam surat Yâsîn:

> قَالُوا۟ إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا۟ لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu, dan kamu pasti akan merasakan azab yang pedih dari kami.’” (QS Yâsîn: 18)

Di ayat selanjutnya Allah berfirman,

> قَالُوا۟ طَـٰٓئِرُكُمْ مَّعَكُمْ ۚ أَئِن ذُكِّرْتُم ۚ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌۭ مُّسْرِفُونَ

“Para rasul berkata, ‘Kesialan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan (lalu kamu mengancam kami)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.’”

(QS Yâsîn: 19)

Dari ayat-ayat ini, kita memahami bahwa:

1. Musibah adalah bagian dari takdir Allah ﷻ.

2. Namun sebabnya adalah akibat ulah tangan manusia sendiri.

Allah ﷻ juga menegaskan dalam firman-Nya:

> ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rûm: 41)

Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa‘dî rahimahullâh berkata:

"Kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini mencakup menurunnya kualitas hidup, munculnya wabah dan penyakit, serta bencana-bencana lainnya yang semuanya merupakan dampak dari perbuatan manusia itu sendiri."

Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh...

Islam melarang keyakinan bahwa kesialan berasal dari makhluk atau kejadian tertentu. Ini dikenal dengan istilah tathayyur atau thiyarah, yaitu menganggap sial karena melihat burung tertentu, mendengar berita buruk, atau karena hari, bulan, atau tahun tertentu yang dianggap keramat atau naas. Keyakinan seperti ini adalah warisan jahiliyah yang bertentangan dengan nilai-nilai tauhid.

Rasulullah ﷺ bersabda:

> لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ

“Tidak ada 'adwâ (penyakit menular yang menular sendiri), tidak ada thiyarah (anggapan sial), tidak ada hâmmah, dan tidak ada shafar (anggap sial terhadap bulan Shafar).”

(Muttafaqun ‘alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan:

> لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ: الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

“Tidak ada ‘adwâ dan tidak ada tathayyur, dan aku menyukai al-fa’l (pertanda baik).” Para sahabat bertanya, “Apa itu al-fa’l?” Beliau menjawab, “Ucapan yang baik.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadis-hadis ini menegaskan bahwa:

Tathayyur adalah keyakinan batil yang bertentangan dengan tawakkal.

Seorang muslim harus bersandar hanya kepada Allah dalam menghadirkan kebaikan dan menolak keburukan.

Allah ﷻ berfirman:

> وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah sebagai penolongnya.”

(QS Ath-Thalâq: 3)

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah...

Seorang mukmin tidak boleh lemah dan putus asa hanya karena mendapati tanda-tanda yang dianggap "sial". Karena sikap tersebut akan menjadikannya:

1. Tidak mau beramal karena takut gagal atau celaka.

2. Tetap beramal tapi hatinya selalu waswas dan pesimis.

Kedua hal ini adalah bentuk kerusakan tauhid dan lemahnya tawakkal. Ia telah menggantungkan hatinya pada sesuatu yang bersifat nisbi tidak nyata, sekadar prasangka kosong, dan meninggalkan kebergantungannya kepada Allah ﷻ.

Padahal Allah telah menegaskan:

> إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

(QS Al-Fâtihah: 5)

> فَٱعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

“Sembahlah Allah dan bertawakkallah kepada-Nya.”

(QS Hûd: 123)

Penutup:

Mari kita hilangkan keyakinan-keyakinan batil seperti tathayyur, anggapan sial terhadap hari tertentu, makhluk tertentu, atau peristiwa tertentu. Kuatkan tauhid kita dan perkuat tawakkal kita kepada Allah ﷻ. Setiap yang terjadi adalah dengan izin-Nya. Maka, yakinlah bahwa semua berada dalam kendali-Nya, dan tugas kita adalah menjalani takdir itu dengan iman, amal, dan husnuzhan kepada-Nya.

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم...

---

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang. Beriman Kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim yang demikian dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: 1. Beriman kepada hari akhir merupakan satu diantara rukun iman yang enam. 2. Beriman kepada hari akhir merupakan bagian dari keyakinan pokok islam yang mana bangunan akidah dibangun diatasnya setelah permasalahan keesaan Allàh. 3. Beriman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk beriman kepada perkara ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali dengan dalil wahyu (al Quran dan as Sunnah) 4. Iman kepada hari akhir seringkali digandengkan dengan iman kepada Allàh. Seperti dalam surat al Baqarah ayat 177, لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ َ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke ara...

Suwargo Nunut Neroko Katut

Suwargo Nunut Neroko Katut admin 28 Juni 2015 | 4.884 | 1 | Suwargo Nunut Neroko Katut Kaum muslimin yang berbahagia rahimani wa rahimakumullah , di tengah-tengah masyarakat jawa ada sebuah ungkapan yang cukup masyhur dan oleh sebagian masyarakat jawa ungkapan ini sudah menjadi sebuah falsafah yang mereka anut. Sebuah ungkapan yang menjelaskan apabila ada seseorang yang nantinya masuk surga maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa turut ikut masuk ke dalam surga. Demikian juga apabila ada seseorang yang nantinya masuk neraka maka anggota keluarganya seperti anak, istri, dan orang tua bisa ikut masuk ke dalam neraka. Ungkapan yang dimaksud berbunyi, “Suwargo Nunut Neroko Katut,” yang kurang lebih artinya adalah surga bisa ikut numpang dan neraka bisa ikut terbawa yang maksudnya adalah seseorang bisa ikut terbawa masuk ke dalam surga atau neraka disebabkan kelua...

Nikmat Allah ﷻ kepada Bani Israil

 Tafsir surat Al-Baqarah ayat 49-53. ini adalah awal dari penyebutan satu persatu nikmat-nikmat Nya terhadap Bani Israil dengan suatu perincian. Kelima ayat di atas mengandung 4 nikmat amat besar yang Allah ﷻ karuniakan kepada Bani Israil. Nikmat-nikmat itu Allah ﷻ perintahkan untuk mengingatnya agar mereka mensyukurinya dan beriman kepada rasul Nya yaitu Muhammad ﷺ dan agama Islam. وَإِذْ نَجَّيْنَٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya (Selamat dari kebinasaan, seperti selamat dari tenggelam atau selamat dari adzab); mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. (Tidak membunuh bayi perempuan agar mereka besar dan menjadi pelayan, dan membunuh bayi laki-laki karena me...