Kaum muslimin, sesungguhnya manusia sangat butuh untuk membersihkan jiwanya, mendidiknya dengan sungguh-sungguh, dan menapaki tangga penghambaan diri kepada Allah, untuk itu Nabi kita yang mulia berpesan dalam sebuah hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ"
"Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik."
(HR. At Tirmidzi, no. 1987, ia berkata: hadits hasan)
Kita akan merasakan rahmat kasih sayang diantara rangkaian huruf-huruf yang terdapat dalam hadits yang mulia ini, maka itu merupakan derasnya curahan harapan dan besarnya harapan terhadap rahmat Allah yang maha pengasih di hati hamba-hamba yang penuh dosa dan kesalahan, dan semua kita adalah orangnya.
Kaidah ini adalah satu diantara pengaruh rahmat Allah yang mendahului murka Nya,
إن رحمتي سبقت غضبي
"Sesungguhnya Rahmat Ku mendahului murka Ku." (HR. Al Bukhari no. 2986 dan Muslim no. 2751)
Dan pengaruh dari luasnya Rahmat Allah,
وَرَحۡمَتِى وَسِعَتۡ كُلَّ شَىۡءٍۢۚ
"Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (Qs. Al Araf:156)
Mari kita sejenak renungkan hikmah seorang yang telah diberi jawami'ul Kalim -'laihish shalatu was salam- bagaimana beliau mengiringi wasiat takwa dengan sabda beliau, "Iringilah keburukan dengan kebaikan," yang demikian bahwa seorang hamba tatkala diperintahkan untuk bertakwa secara rahasia dan terang-terangan, meskipun demikian hamba pasti terkadang terjatuh pada sisi kekurangan pada Ketakwaan, -mungkin saja dengan meninggalkan sebagian perintah atau menerjang sebagian larangan- beliau perintahkan untuk mengerjakan perkara yang bisa menghapus kesalahan dan itu adalah mengiringi keburukan dengan kebaikan.
Dan yang menakjubkan dari hadits ini yang berisi tiga wasiat maknanya selaras dengan tiga ayat secara berurutan, perhatikan firman Allah Ta'ala,
١٣٣ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ
١٣٤ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
١٣٥ وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوۡ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمۡ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسۡتَغۡفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمۡ وَمَن يَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمۡ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ
(133) Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.
(134) (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
(135) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosanya, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosanya itu, sedang mereka mengetahui. (Qs. Āli ‘Imrān:133–135)
Selain itu kaidah dari hadits ini sesuai dengan firman Nya,
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ
"Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu ingat (kepada Allah)." (Qs. Hud:114)
Diantara contoh penerapan kaidah ini adalah:
- Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ: بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى، فَلْيَقُلْ: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ: تَعَالَ أُقَامِرْكَ، فَلْيَتَصَدَّقْ»
"Barangsiapa di antara kalian bersumpah lalu dalam sumpahnya ia mengucapkan: ‘Demi al-Lāt dan al-‘Uzzā’, maka hendaklah ia segera mengucapkan: Laa Ilaaha illallahu (tiada sesembahan yang benar selain Allah). Dan barangsiapa berkata kepada temannya: ‘Kemarilah, aku akan berjudi denganmu’, maka hendaklah ia bersedekah."
(HR. al-Bukhari no. 5756 dan Muslim no. 1647)
- barangsiapa yang lisannya telah terbiasa melaknat, atau perkataan yang kotor, maka hendaknya mengucapkan setelahnya apa yang menjadi lawannya, siapa saja yang melaknat saudaranya hendaknya mendoakannya dengan rahmat, beristighfar, ini semua dilakukan guna mengikuti kaidah nabi yang mulia, "iringilah keburukan dengan kebaikan!"
Dan karena Allah berfirman,
إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِۚ
"Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kesalahan-kesalahan." (Qs. Hud:114)
Diantara perkara yang bisa menghapus kesalahan-kesalahan berdasarkan dalil syariat adalah:
1. Disebutkan dalam shahihain dari Abdullah bin Mas'ud berkata, Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah merayu/menyentuh seorang wanita di ujung kota, dan aku mendapatkan darinya apa saja kecuali aku tidak sampai menyetubuhinya. Maka, inilah aku, putuskanlah terhadap diriku sesuai kehendakmu."
Maka Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya:
"Sungguh Allah telah menutupi aibmu, seandainya engkau menutupi dirimu sendiri (tentu lebih baik)."
Nabi ﷺ tidak memberikan jawaban apa pun. Lalu laki-laki itu bangkit dan pergi. Setelah itu, Nabi ﷺ mengutus seseorang untuk memanggilnya kembali, lalu beliau membacakan kepadanya ayat:
{ أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ }
(Dirikanlah shalat pada kedua tepi siang dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu ingat.) [Qs. Hūd: 114]
Kemudian seorang lelaki dari kaum berkata:
"Wahai Nabi Allah, apakah ayat ini khusus untuk dirinya?"
Beliau ﷺ menjawab:
"Bahkan untuk seluruh manusia."
(HR. Al Bukhari no. 503 dan Muslim no. 2763)
Diantara amal kebaikan yang paling besar yang bisa menghapus dosa adalah shalat wajib lima waktu, terlebih jika shalat tersebut ditegakkan dengan syarat, rukun, dan kewajibannya, berdasarkan Sunnah menunjukkan bahwa bahwa ini khusus untuk dosa kecil bukan dosa besar. Dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالجُمُعَةُ إِلَى الجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الكَبَائِرُ
"Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, dapat menghapus dosa-dosa yang ada di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim no. 233)
2. Diantara kebaikan yang besar yang bisa menghapus kesalahan-kesalahan adalah haji yang mabrur. Disebutkan dalam shahihain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, Rasulullah bersabda,
مَنْ حَجَّ هَذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ
"Barangsiapa berhaji ke Baitullah, lalu tidak berkata kotor (rafats) dan tidak berbuat kefasikan, maka ia kembali (dalam keadaan suci) seperti pada hari dilahirkan oleh ibunya."
(HR. Al Bukhari no. 1723 dan Muslim no. 1350)
Dan kisah Islamnya shahabat Amr bin al-‘Āsh Radhiyallahu Anhu, ia berkata:
لَمَّا جَعَلَ اللَّهُ الإِسْلاَمَ فِي قَلْبِي أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ فَقُلْتُ: أُبْسُطْ يَدَكَ فَأُبَايِعْكَ. فَبَسَطَ يَدَهُ، قَالَ: فَقَبَضْتُ يَدِي. قَالَ: «مَا لَكَ يَا عَمْرُو؟» قُلْتُ: أَرَدْتُ أَنْ أَشْتَرِطَ. قَالَ: «تَشْتَرِطُ بِمَاذَا؟» قُلْتُ: أَنْ يُغْفَرَ لِي. قَالَ: «أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الإِسْلاَمَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا، وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ»
“Ketika Allah menjadikan Islam bersemayam di hatiku, aku mendatangi Nabi ﷺ seraya berkata: Bentangkan tanganmu agar aku berbaiat kepadamu. Lalu beliau membentangkan tangannya, tetapi aku menahan tanganku. Beliau bertanya: Apa yang membuatmu begitu, wahai ‘Amr? Aku menjawab: Aku ingin mengajukan syarat. Beliau bertanya: Dengan syarat apa? Aku berkata: Agar dosaku diampuni. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menghancurkan apa yang sebelumnya, hijrah menghancurkan apa yang sebelumnya, dan haji menghancurkan apa yang sebelumnya?” (HR. Muslim no. 121)
3. Kebaikan yang mencakup yang menghapus semua dosa yaitu taubat, sebagaimana kisah Amr bin Ash dan dibanyak dalil, diantaranya:
a. Firman Allah Ta'ala,
فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ ۖ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ﴿٥٩﴾ إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا ﴿٦٠﴾
59. Maka datanglah setelah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu, maka mereka kelak akan menemui kesesatan,
60. kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak akan dizalimi (dirugikan) sedikit pun. (Qs. Maryam:59–60)
b. Firman Nya,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا ﴿٦٨﴾ يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا ﴿٦٩﴾ إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمْ حَسَنَٰتٍ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿٧٠﴾
---
68. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,
69. (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
70. kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Furqān:68–70)
Akan tetapi apa hakikat taubat ini?
Taubat hakikatnya adalah menghapus pengaruh keinginan untuk berbuat dosa dari lubuk hati dan faktor pendorongnya adalah seorang yang bertaubat merasakan keagungan Dzat yang dia maksiati, dan kuasa Nya pada keadaan, dirinya sedang berjalan kepada Allah...
Sesungguhnya taubat yang terus menerus sebatas keyakinan akan kuasa Nya, mentauhidkan Nya, kerendahan dan ketundukan kepada Nya, dan bahwa tidak ada yang mampu menghapus dosa kecuali Allah...
Di dalam kaidah ini terdapat isyarat yang jelas untuk bersegera kembali, meninggalkan dosa, bertekad untuk tidak mengulanginya, bersegera mengembalikan hak-hak para hamba, serta tidak menunda-nunda atau mengakhirkan, karena ucapan 'nanti ' merupakan pasukan iblis, seorang yang tidak bersegera bertaubat dengan menunda-nunda, berada pada dua hal yang sangat mengkhawatirkan:
Pertama: bertumpuknya kegelapan di dalam hatinya karena maksiat sehingga menjadi titik hitam dan menutupi lalu tidak bisa terhapus.
Kedua: Bahwa ia menghadapi (mengalami) sakit atau kematian, lalu tidak mendapatkan kesempatan untuk menyibukkan diri dengan penghapusan (dosa). Lalu Allah datangkan hati yang tidak selamat dan tidak selamat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.
Kesimpulan:
1. Termasuk rahmat Allah kepada kita adalah bahwa Allah menjadikan penghapus dosa bagi kesalahan-kesalahan kita. Maka, syukurilah nikmat yang agung ini.
2. Setiap kali terjatuh dalam maksiat, hadirkan segera ketaatan yang menjadi lawannya, agar dosa itu terhapus.
3. Seorang hamba yang bertaubat adalah hamba yang benar-benar mengagungkan Allah, sedangkan orang yang terus-menerus bergelimang dosa berada di tepi jurang kebinasaan.
Karang Lewas, Kamis 21 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar