Ada sebuah perkataan indah dari ulama kita yang bernama Abu Āli ad daqaaq rahimahullahu mengenai keutamaan orang yang sabar, beliau berkata, "Orang-orang yang sabar mendapatkan keberuntungan dengan kemuliaan dunia dan akhirat, karena mereka memperoleh pertolongan dari Allah, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar."
Di dalam agama kita terdapat kaidah agung untuk mendidik jiwa supaya memperoleh keutamaan dan mencegah bahaya yang berat, yaitu yang berasal dari hadits Nabi yang mulia.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ»
"Tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran."
(HR. Al Bukhari no. 1400, dan Muslim no. 2471)
Sesungguhnya kehidupan ini dipenuhi kesusahan dan kesedihan.
Seorang insan di kehidupan dunia ini sebagaimana firmankan Allah,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ
"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (Qs. Al Balad:4)
Jika demikian, kekuatan apa yang bisa untuk menghadapi rintangan hidup, pahit getirnya zaman, dan cobaan hidup.
Sesungguhnya kesabaran adalah solusi yang syar'i, di dalam Al-Quran terulang lebih dari 70 tempat, dan yang miris sebagian manusia mengira bahwa berwasiat dengan kesabaran disaat serba sulit merupakan wasiat orang yang lemah!
Sungguh mengherankan! Apakah wasiat yang berisi wasiat dari Allah dan rasul-Nya disebut sebagai wasiat orang yang lemah?! Bahkan ini adalah wasiat seorang yang tulus memberikan nasehat, terkhusus mengingat jumlah musibah dan permasalahan tidak mungkin dilewati dampaknya kecuali dengan kesabaran, jika tidak demikian maka apa yang dilakukan seorang yang tengah berduka dengan wafatnya orang yang dikasihinya, tidaklah disana kecuali kesabaran! Atau seseorang yang diuji dengan hilangnya harta, tidaklah disana kecuali kesabaran!
Apabila kedua orang tua mendapatkan ujian berupa anak yang durhaka, keduanya sudah menempuh berbagai cara yang memungkinkan dalam memberi nasehat, mengarahkan, membimbingnya, namun hal itu sama sekali tidak bermanfaat, bahkan sianak terus menerus mendurhakainya ! Apakah disana ada solusi lagi selain kesabaran?!
Apabila ditakdirkan pada seseorang dia gagal dalam transaksi jual-beli, atau mengalami kerugian dalam perdagangan, maka pilihannya adalah dia bersabar dengan sabarnya orang mulia atau melupakan tanpa ada perasaan dalam hati, sebagaimana hewan yang tidak punya kesadaran atau perasaan mendalam terhadap suatu peristiwa, sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf , dan dengan kesabaran dan mengharapkan pahala bisa meringankan beratnya ujian, bahkan seorang hamba bisa berpindah darinya kepada derajat yang lain dari derajat penghambaan diri kepada Allah, yaitu derajat ridho kepada Allah, dan terkadang dirinya naik lebih lagi berpindah menuju derajat ibadah bersyukur atas apa yang Allah tetapkan dan takdirkan padanya, dan itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada yang Allah kehendaki, dan Allah pemilik karunia yang besar. Bisa jadi inilah kunci rahasia sabda Nabi dan itu menetapkan kaidah ini, "Tidak ada seorang pun yang diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran."
Sesungguhnya kesabaran bersandarkan pada dua kenyataan penting dan menentukan:
Pertama: berkaitan dengan tabiat kehidupan dunia ini, sesungguhnya Allah tidak menjadikan kehidupan dunia ini sebagai negeri tempat menuai balasan dan menetap, bahkan Allah jadikannya sebagai negeri tempat ujian dan cobaan, dan masa yang dijalani seseorang adalah sebuah periode hidup yang dipenuhi pengalaman yang berkesinambungan, saling terkait seperti rangkaian mata rantai, dia keluar dari satu ujian untuk masuk ujian yang lain, terkadang seseorang diuji sesuatu dan kebalikannya, dan selama hidup ini adalah ujian maka kita curahkan segala upaya demi keberhasilan, dan ujian kehidupan ini bukan ucapan teori yang tertulis atau perkataan-perkataan yang memberi arahan, sesungguhnya itu Rasa sakit (penderitaan) yang bisa menerobos / menyerang jiwa dan membukakan baginya jalan menuju ketakutan dan kesempitan (kegelisahan).
Adapun tingkatan lain yang berkaitan dengan hakikat iman: sesungguhnya iman memiliki hubungan erat dengan ujian. Bila hubungan kasih sayang antara manusia saja tidak bisa diakui kebenarannya kecuali setelah diuji dengan berbagai kesulitan, kegoncangan zaman, dan perbedaan keadaan, maka demikian pula iman. Ia tidak mungkin lepas dari keterkaitannya dengan ujian yang akan menyingkap hakikatnya, atau justru menyingkap kebalikannya.
Allah Ta‘ala berfirman:
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
(QS. al-‘Ankabūt [29]: 2–3)
Jika engkau renungkan, wahai orang yang diberkahi, perjalanan hidup para nabi secara umum, niscaya engkau akan mendapati bahwa tidak seorang pun yang selamat dari ujian. Bahkan ujian itu senantiasa menyertai mereka sebagai ketetapan yang pasti, supaya Allah menyucikan orang-orang yang beriman, meninggikan derajat mereka, membersihkan jiwa mereka, dan menjadikan mereka layak untuk memikul risalah Allah Ta‘ala. Sesungguhnya risalah itu berat, tidak akan mampu menanggungnya kecuali orang-orang yang kuat imannya, sabar dalam menghadapi berbagai penderitaan, dan siap menampakkan kebenaran.
Apabila engkau merenungi kisah Nabi Ayyub `alayhis-salām, niscaya engkau mengetahui bagaimana ujian itu membentuk jiwa-jiwa besar, mendidik mereka dengan kesabaran. Dan ketika engkau menyadari hal ini, maka engkau akan mengerti sesuatu dari makna sabda Nabi ﷺ:
"Tidak ada seorang pun diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran."
Baik, berikut terjemahan teks dari gambar kedua yang Anda kirimkan:
---
Sungguh Nabi Yusuf `alayhis-salām telah merasakan apa yang ia rasakan dan menanggung apa yang ia tanggung. Namun, ia tetap menghadapi semua itu dengan sabar, memaafkan, dan berlapang dada. “Itulah keadaan para pemilik keutamaan dari kalangan manusia: mereka tidak kehilangan kejernihan agama mereka meskipun kehilangan kejernihan dunia mereka, dan mereka tidak merasa hina di hadapan diri mereka sendiri karena musibah yang menimpa mereka.”
Di antara keadaan yang membutuhkan kesabaran—yang sering kali seorang mukmin perlu mengingatkannya kepada dirinya—ditunjukkan oleh sebuah kisah dalam hadis. Dari Abū Sa‘īd al-Khudrī r.a. bahwa ada sekelompok orang Anṣār meminta sesuatu kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun memberi mereka, lalu mereka meminta lagi, maka beliau memberi mereka lagi, hingga habis apa yang ada pada beliau. Kemudian beliau bersabda:
“Apa yang ada padaku tidak akan aku simpan dari kalian. Barang siapa menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya. Barang siapa merasa cukup, Allah akan mencukupkannya. Barang siapa bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada seorang pun diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
Sesungguhnya seorang mukmin mungkin saja diuji dengan kesempitan rezekinya, atau dengan banyaknya tanggungan, atau dengan lilitan hutang. Maka andai ia berdoa kepada Tuhannya, namun belum dilapangkan rezekinya, atau hutangnya belum terbayar, atau kebutuhannya belum terpenuhi, maka ia perlu mengingat untuk tetap bersabar, serta menjadikan wasiat Nabi ﷺ ini sebagai bagian dari matanya (pedoman yang selalu dipegang erat).
Di sinilah jiwa manusia diuji untuk menanggung kesulitan hidup, menahan diri sampai wajahnya tidak ternodai oleh air mata dalam meminta kepada makhluk. Meskipun demikian, sebenarnya tidak ada yang salah dalam meminta, bahkan bisa jadi ia menjadi sebab dimudahkan keadaan. Akan tetapi, semakin tinggi derajat seseorang, semakin ia menjaga dirinya dari banyak meminta. Seperti yang terjadi pada sebagian sahabat Nabi ﷺ, sebagaimana yang diberitakan oleh ‘Auf bin Mālik r.a. bahwa Nabi ﷺ membaiat sekelompok sahabat, dan beliau secara khusus mewasiatkan kepada mereka (para sahabat) diberi pesan penting: “Janganlah kalian meminta sesuatu kepada manusia.” Maka sebagian dari mereka, jika cambuknya jatuh, ia tidak berkata kepada siapa pun: “Ambilkan untukku,” tetapi ia turun sendiri untuk mengambilnya.
Hal ini menunjukkan bahwa siapa yang kuat keinginannya terhadap karunia Allah dan rahmat-Nya, serta mengandalkan-Nya dalam memenuhi kebutuhannya dan menolak kesusahannya, maka kekuatan keinginan itu membuatnya mampu menegakkan penghambaan dirinya hanya kepada Allah. Karena sesungguhnya keinginan terhadap makhluk membuat seseorang tunduk kepada mereka, menjadi hamba mereka, dan bergantung kepada mereka.
Seperti dikatakan: “Aku heran terhadap orang yang memperbudak dirinya kepada orang lain, padahal Allah telah menciptakannya merdeka.” Maka siapa saja yang merasa cukup dengan Allah, maka ia akan bebas dari selain-Nya, dan siapa saja yang membutuhkan manusia maka ia akan menjadi tawanan mereka.
“Sesungguhnya sabar itu adalah pemberian yang paling agung.” Sebab sabar mencakup semua urusan agama dan kesempurnaan hidup. Dalam setiap keadaan manusia membutuhkan sabar: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar menjauhi maksiat kepada-Nya, sabar menghadapi takdir Allah yang terasa pahit hingga ia tidak membencinya, dan sabar atas nikmat-nikmat Allah serta kewajiban syukur kepadanya.
Maka, manusia tidak akan mencapai kesenanganjiwa dan kegembiraan hati kecuali dengan sabar. Ia tidak akan mencapai kebahagiaan yang terus-menerus kecuali dengan sabar. Ia tidak akan meraih kemenangan kecuali dengan sabar. Dengan sabar seseorang meraih keselamatan, dan dengan sabar pula seseorang akan memperoleh keberhasilan.
Dalam hal ini Ibnul Jauzi berkata: “Sesungguhnya Allah menjadikan sabar sebagai sebaik-baik pemberian, karena sabar berarti menahan diri dari perbuatan yang disukai namun dilarang, dan tetap melakukan sesuatu yang dibenci tetapi diperintahkan, baik itu segera maupun ditunda.”
Wahai saudaraku yang sedang diuji, sesungguhnya di antara perkara yang paling agung yang membantu seorang hamba adalah sabar dan menahan diri (tabah).
Hendaknya orang yang bersabar itu mengingat apa yang telah Allah siapkan baginya berupa pahala yang besar, balasan yang agung, dan kesudahan yang indah di dunia. Tidak ada dorongan yang lebih kuat bagi orang sabar selain firman Allah Ta‘ala:
﴿ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴾
(QS. Az-Zumar: 10)
Itu sudah cukup sebagai pendorong dan penyemangat. Bagaimana lagi jika Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar sesuatu yang lebih agung dan lebih mulia!
Sungguh Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang sabar, baik dalam Kitab-Nya maupun melalui lisan Rasul-Nya ﷺ, perkara-perkara yang sangat tinggi nilainya: bahwa Dia bersama mereka dalam segala urusan mereka, bahwa Dia memberi mereka bimbingan, taufik, dan keteguhan, bahwa Dia meneguhkan hati-hati mereka dan langkah-langkah mereka, bahwa Dia menurunkan ketenangan dan ketenteraman kepada mereka, memudahkan ketaatan untuk mereka, menjaga mereka dari penyimpangan, menganugerahkan kepada mereka kesabaran yang indah, meninggikan derajat mereka pada kedudukan yang paling tinggi di dunia dan akhirat, bahwa Dia menutup aib-aib mereka, menghapus dosa-dosa mereka, menolong mereka dalam kesulitan, melapangkan mereka dalam kesempitan, menyertai mereka dengan kebahagiaan, keberhasilan, dan kemenangan.
Bahwa Dia menunaikan pahala mereka tanpa batas, bahwa Dia menggantikan mereka dengan lebih baik dari apa yang mereka tinggalkan di dunia, dan bahwa Dia menjadikan bagi mereka kedudukan yang mulia sebagai ganti dari cobaan yang menimpa mereka, bahkan berlipat ganda. Dan meskipun di awal ujian terasa sangat sulit dan berat, namun di akhir kesudahannya mudah dan manis.
Sebagaimana dikatakan:
“Sabar itu seperti namanya, rasanya pahit. Tetapi hasil dan balasannya lebih manis daripada madu.”
Al-Hasan berkata: “Aku telah menemukan kebaikan semuanya terkumpul dalam sabar hanya sesaat.”
Wahai engkau yang diberkahi, jika engkau merindukan untuk memperoleh karunia besar ini dan mendapatkan semua anugerah ini, maka bersabarlah.
Pertanyaan yang muncul: كيف لي أن ألحق بركب الصابرين؟ → Bagaimana caranya agar saya bisa bergabung dengan rombongan orang-orang yang sabar?
Jawabannya: Nabi ﷺ bersabda: "ومن يتصبر يصبره الله" → Siapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan memberinya kesabaran.
Artinya: Kesabaran adalah taufiq dari Allah. Seorang hamba harus melatih dirinya untuk bersabar, menanggung kesulitan, berusaha, dan berdoa kepada Allah agar diberi kekuatan sabar.
Ayat yang dijadikan dalil: وما صبرك إلا بالله (QS. النحل: 127) → Dan kesabaranmu itu hanyalah dengan pertolongan Allah.
Kesimpulan Kaidah (خلاصة القاعدة)
1. كل العبادات تفتقر إلى الصبر
Semua ibadah membutuhkan kesabaran.
2. الحياة طبعت على كدر، ومن لا صبر له كيف يعيش؟!
Kehidupan penuh dengan kesulitan, maka siapa yang tidak punya kesabaran, bagaimana ia bisa hidup?!
3. إن لم تصبر فلا فوتنك التصبر
Jika engkau tidak mampu sabar, maka latihlah dirimu untuk bersabar.
4. الصبر رصيد مفتوح
من الثواب بغير حساب
Kesabaran adalah tabungan pahala yang terbuka tanpa batas perhitungan.
Karang Lewas, 18 September 2025
Komentar
Posting Komentar