---
Kaedah Nabawiyah ke-20:
“Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah/putus asa.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شَيءٌ، فلا تَقُلْ: لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ؛ فإنَّ (لو) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ.
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, pasti akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena kata ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.”
(HR. Muslim no. 2664) ¹
Sebelumnya, ada sebuah perkataan, “Waspadalah dari bermajlis dengan orang yang lemah (mental dan tekadnya), karena siapa yang tinggal bersama orang yang lemah maka ia akan tertular kelemahannya, mendapat tambahan dari kegelisahannya, dibiasakan dengan minimnya kesabaran, serta dilupakan dari memperhatikan akibat (suatu perkara). Dan tidak ada lawan dari kelemahan itu kecuali ketegasan dan keteguhan.” (Al-Ibsyihī)
Ini adalah kaedah nabawi yang kokoh, penuh faedah, dan sangat agung maknanya. Ia mengandung ungkapan yang ringkas namun sarat manfaat, mencakup kebahagiaan dunia dan akhirat.
Perkara-perkara yang bermanfaat itu ada dua macam:
perkara agama dan perkara dunia.
Seorang hamba membutuhkan perkara dunia sebagaimana ia membutuhkan perkara agama. Maka tolak ukur kebahagiaan dan taufik seseorang terletak pada kesungguhan dan usaha dalam meraih hal-hal yang bermanfaat dari keduanya, disertai permohonan pertolongan kepada Allah Ta‘ala.
Apabila seorang hamba bersungguh-sungguh terhadap perkara-perkara yang bermanfaat, berusaha menggapainya, menempuh sebab-sebab dan jalannya, serta memohon pertolongan kepada Rabbnya untuk meraih dan menyempurnakannya; maka itulah kesempurnaan dirinya dan tanda keberhasilannya.
Dan kapan saja ia kehilangan salah satu dari tiga hal ini:
1. bersungguh-sungguh,
2. menempuh sebab,
3. meminta pertolongan Allah), maka ia akan kehilangan kebaikan sebanding dengan kadar hilangnya hal tersebut.
Siapa yang tidak bersungguh-sungguh terhadap perkara yang bermanfaat, dan justru malas, maka ia tidak akan mendapatkan apa pun. Kemalasan adalah pokok dari kegagalan dan kerugian.
Orang yang malas tidak akan meraih kebaikan, tidak akan memperoleh kemuliaan, dan tidak akan mendapatkan bagian dalam agama maupun baik urusan dunia maupun agama. Dan apabila seseorang bersungguh-sungguh, namun pada hal-hal yang tidak bermanfaat—baik pada perkara yang mudarat atau pada hal-hal yang menghalangi kesempurnaan—maka buah dari kesungguhannya hanyalah kekecewaan, hilangnya berbagai kebaikan, serta munculnya kejahatan dan mudarat. Betapa banyak orang yang bersungguh-sungguh menempuh jalan atau keadaan yang tidak bermanfaat, namun tidak mendapatkan dari kesungguhannya itu kecuali kelelahan, kepayahan, dan kesengsaraan.
Kemudian apabila seorang hamba menempuh jalan-jalan yang bermanfaat, bersungguh-sungguh dalam mengerjakannya, dan berupaya kuat dalam hal itu; maka kesempurnaan hasilnya tidak akan tercapai kecuali dengan sungguh-sungguh bersandar kepada Allah, memohon pertolongan-Nya untuk meraihnya dan menyempurnakannya, serta tidak bersandar kepada diri sendiri, kekuatan, atau kemampuan dirinya. Tetapi, ia harus menjadikan ketergantungannya secara sempurna—lahir dan batin—hanya kepada Rabb-nya. Dengan demikian, berbagai kesulitan menjadi ringan, urusan-urusannya menjadi mudah, dan hasil serta buah yang baik dalam urusan agama maupun dunia akan ia peroleh.
Namun demikian, dalam semua keadaan itu, ia tetap membutuhkan—bahkan teramat membutuhkan—pengetahuan tentang perkara-perkara yang semestinya ia tekuni dan sungguh-sungguh mencarinya.
Adapun hal-hal yang bermanfaat dalam agama kembali kepada dua perkara: ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.
Sungguh, kaidah agung ini: “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, dan jangan lemah”, merupakan wasiat yang disampaikan Nabi ﷺ kepada salah seorang sahabatnya. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
“Beliau memerintahkannya untuk bersungguh-sungguh dalam menempuh sebab-sebab, meminta pertolongan kepada Dzat yang menciptakan sebab-sebab itu (Allah), dan melarangnya dari kelemahan. Kelemahan itu ada dua jenis: pertama, kekurangan dalam mengambil sebab-sebab dan kurangnya kesungguhan terhadapnya; kedua, kekurangan dalam meminta pertolongan kepada Allah dan tidak memurnikannya. Maka seluruh agama—lahir maupun batin dan batinnya, syariat-syariat serta hakikat-hakikatnya—seluruhnya tercakup dalam kalimat-kalimat Nabi ini, dan Allah lebih mengetahui.” (²)
Imam asy-Syafi‘i rahimahullah berkata:
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dari manusia, karena tidak ada jalan untuk selamat dari celaan orang banyak. Tinggalkan pembicaraan mereka tentangmu.” (³)
Dan serupa dengan itu perkataan Malik bin Dinar: “Barang siapa mengenal dirinya, maka ucapan manusia tidak akan membahayakannya.”
Ibn Taimiyah rahimahullah berkata:
“Dalam sabda Nabi ﷺ: ‘Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah’, terdapat perintah untuk mengambil sebab-sebab yang diperintahkan—yaitu bersungguh-sungguh meraih hal-hal yang bermanfaat. Di samping itu, juga terdapat perintah untuk bertawakkal, yaitu meminta pertolongan kepada Allah. Maka siapa yang mencukupkan diri dengan salah satunya (sebab tanpa tawakkal, atau tawakkal tanpa usaha), maka ia telah meninggalkan salah satu dari dua perintah tersebut. Dan beliau juga melarang dari kelemahan, yang merupakan lawan dari kecerdikan. Sebagaimana dalam atsar:
“Orang cerdas adalah yang mengoreksi dirinya dan beramal untuk setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.”
Maka orang lemah dalam hadits ini adalah kebalikan dari orang cerdas. Barang siapa melakukan apa yang diperintahkan dari mengambil bekal (amal), kemudian menjadikannya sebagai sarana untuk menaati Allah, serta berbuat baik kepada orang yang membutuhkan, maka ia telah taat kepada Allah dalam dua perkara itu.” (⁴)
Ibn Rajab berkata:
“Barang siapa meninggalkan permohonan pertolongan kepada Allah dan malah meminta pertolongan kepada selain-Nya, maka Allah akan menyerahkannya kepada pihak yang ia jadikan sandaran, sehingga ia ditelantarkan. Al-Hasan al-Bashri menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz: ‘Jangan engkau meminta pertolongan kepada selain Allah, niscaya Allah akan menyerahkanmu kepadanya.’
Dan sebagian salaf berkata: ‘Wahai Rabbku, aku heran terhadap siapa yang mencari pertolongan kepada selain-Mu, padahal Engkaulah satu-satunya yang menjaga dan mengurus.’”
“Bagaimana mungkin seseorang yang mengenal-Mu berharap kepada selain-Mu! Dan bagaimana mungkin seseorang yang mengenal-Mu meminta pertolongan kepada selain-Mu!”
“Segala sesuatu yang digunakan untuk membantu ketaatan, maka ia termasuk ketaatan itu sendiri, meskipun jenisnya perkara yang mubah. Nabi ﷺ bersabda dalam hadis sahih kepada Sa‘d:
‘Engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah yang engkau niatkan dengannya wajah Allah, kecuali engkau akan bertambah derajat dan ketinggian karenanya—bahkan suapan makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.’”
Telah dikatakan: bahwa perkataan paling benar setelah al-Qur’an dan Sunnah adalah perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:
“Nilai setiap manusia adalah sesuai dengan apa yang ia pandai melakukannya.”
Perkataan ini sesungguhnya merupakan penjelasan dari makna pertama dalam kaidah nabawi ini, yaitu: “Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu.”
Maka bersungguh-sungguhlah agar apa yang engkau kuasai itu termasuk perkara yang bermanfaat bagimu, baik di dunia maupun di akhirat. Dan berhati-hatilah jangan sampai engkau meletakkan nilai dirimu pada sesuatu yang hina dan rendah; jangan menjadikan nilai dirimu pada perkara yang tidak mungkin engkau harapkan untuk melihatnya dalam lembaran amal shalihmu—yaitu berupa permainan yang melalaikan dan perbuatan haram.
Sungguh indah! Sebelum engkau bertekad melakukan suatu urusan atau memikul suatu tanggung jawab, engkau diperintahkan oleh Nabimu ﷺ dalam kaidah ini untuk memperhatikan satu hal penting, yaitu: “apa yang bermanfaat bagimu.”
Maka tanyakanlah kepada dirimu: Apakah pekerjaan ini bermanfaat bagiku di dunia dan akhirat, dan tidak ada mudaratnya bagiku?
Jika jawabannya ya, maka lakukanlah. Akan tetapi, apakah engkau mampu melakukannya sendirian? Bisa jadi engkau terjatuh ke dalam bahaya, bisa jadi ada musuh yang mengganggumu, bisa jadi engkau dihadang oleh sesuatu yang tidak terduga. Lalu apa solusinya?
Pada saat itulah engkau kembali kepada bagian kedua dari kaidah nabawi ini Bagian agung dari kaidah ini adalah: “Dan mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.”
Jika engkau meminta pertolongan kepada Allah, maka engkau tidak akan lemah—dengan izin Allah. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.
Di antara hal terbesar yang membantu seseorang memilih perkara-perkara yang bermanfaat dari amal, ucapan, dan berbagai proyek adalah:
1. Ilmu.
Karena ilmu menunjukkan jalan untuk membedakan antara hal-hal yang bermanfaat dan yang membahayakan, serta antara yang bermanfaat dan yang lebih bermanfaat. Asal ilmu yang dimaksud adalah ilmu syariat, dan termasuk pula ilmu-ilmu duniawi yang berkaitan dengan perkara yang akan dilakukan oleh seseorang.
Ini sesuai firman Allah Ta‘ala:
“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. Al-Anbiya’: 7)
2. Musyawarah (istisyārah).
Berapa banyak pendapat yang tampak benar bagi seseorang, namun setelah bermusyawarah menjadi jelas bahwa pendapat itu keliru. Karena itu termasuk hikmah Allah Ta‘ala bahwa Dia memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk bermusyawarah, padahal beliau adalah seorang nabi yang menerima wahyu, agar para pemimpin setelah beliau—terlebih lagi orang-orang awam—menjadikannya teladan.
Telah dikatakan: “Tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah, dan tidak akan kecewa orang yang beristikharah.”
Kebutuhan terhadap musyawarah semakin besar ketika urusan yang hendak dilakukan semakin penting, seperti pernikahan, proyek ilmiah besar, atau usaha perdagangan yang besar.
3. Mengetahui bahwa sesuatu yang bermanfaat bagi seseorang belum tentu bermanfaat bagi orang lain.
Jiwa manusia berbeda-beda; bakat dan kemampuan mereka tidaklah sama; demikian juga kapasitas dan peluang mereka tidak setara.
Maka bisa jadi suatu perbuatan cocok dan dianjurkan untuk si Fulan, tetapi tidak cocok untuk si Allan—dan sebaliknya.
Karena itulah termasuk hikmah Allah Ta‘ala bahwa Dia memvariasikan bentuk-bentuk ibadah dalam syariat, sebab ada di antara manusia yang bersemangat dalam shalat namun tidak bersemangat dalam puasa; ada pula yang bersemangat melakukan qiyamul-lail namun tidak kuat memperbanyak membaca Al-Qur’an.
Dalam hal ini terdapat kisah terkenal yang terjadi pada Imam Malik رحمه الله, ketika Abdullah al-‘Umari—seorang ahli ibadah—menulis surat kepada beliau untuk mendorongnya menyendiri dan memperbanyak amal ibadah. Maka Imam Malik menulis balasan kepadanya:
“Sesungguhnya Allah telah membagi-bagi amal sebagaimana Dia membagi-bagi rezeki.
Maka ada seseorang yang dibukakan baginya (kemudahan) dalam shalat namun tidak dibukakan dalam puasa. Ada pula yang dibukakan baginya dalam sedekah namun tidak dalam puasa. Ada yang dibukakan baginya dalam jihad.
Menyebarkan ilmu adalah salah satu dari amal kebajikan terbaik. Aku ridha dengan apa yang Allah bukakan bagiku dalam hal ini. Dan aku tidak melihat apa yang sedang aku kerjakan ini lebih rendah dari apa yang engkau kerjakan. Aku berharap kita berdua berada di atas kebaikan dan kebajikan.”
(Al-Tamhīd 7/185)
Dalam bab menuntut ilmu, bisa jadi seseorang dinasihati agar fokus penuh belajar, sementara orang lain dinasihati untuk fokus pada kegiatan sosial dan kemanusiaan, karena ia bukan termasuk orang yang cocok duduk lama menuntut ilmu—Allah tidak menciptakannya untuk itu.
Dalam urusan dunia pun demikian:
Ada jenis perdagangan tertentu yang cocok untuk seseorang tetapi tidak cocok bagi orang lain. Demikian pula dalam bidang studi yang spesifik:
Ada orang yang lebih cocok mempelajari kedokteran, sedangkan orang lain lebih sesuai dengan ilmu komputer, sebagaimana firman Allah:
“Setiap kelompok manusia telah mengetahui minuman (atau bagian) yang menjadi tempat mereka masing-masing.”
(QS. Al-Baqarah: 60)
Ringkasan Kaidah:
1. Dengan berusaha sungguh-sungguh pada hal yang bermanfaat dan bersandar kepada Allah, lengkaplah seluruh unsur kehidupan yang bahagia.
2. Tugasmu adalah berupaya dan melakukan sebab; sedangkan dari Allah-lah bantuan dan taufik.
3. Tidak masuk akal jika semua manusia memiliki bakat yang sama; sebab keberagaman adalah sunnatullah secara kauni (alamiah) maupun syar‘i.
4. Jangan membunuh bakatmu sendiri dengan meniru-niru kepribadian orang lain.
---
1. HR. Muslim, no. 2664.
2. Bahjat Qulūb al-Abrār, hlm. 34.
3. Madarij as-Salikin, 3/464
4. al-‘Iqd al-Farid, 2/342
5. Majmu‘ al-Fatawa, 18/181–182 (dengan sedikit penyesuaian)
6. Jami‘ al-‘Ulūm wa al-Hikam, 1/482
7. At-Tuhfah al-‘Iraqiyyah, hlm. 50
Komentar
Posting Komentar