الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين، أما بعد:
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Di beberapa hari ini kita kembali mendengar kabar di beberapa wilayah di negeri kita tentang saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana alam; ada yang terkena banjir, gempa bumi, tanah longsor, dan berbagai bencana lainnya.
Peristiwa ini tentu bukan hal ringan. Namun sesuatu yang menggetarkan hati, membuka mata kita semua, dan mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, dunia ini bukanlah tempat tinggal selamanya, dan tidaklah kehidupan dunia melainkan tempat ujian.
---
1️⃣ Semua Musibah Terjadi Dengan Takdir Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah..
Kita yakin bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam semesta ini baik di langit ataupun di muka bumi kecuali telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Allah berfirman:
﴿ مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴾
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam sebuah kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hadid:22)
Ayat ini mencakup seluruh musibah yang menimpa makhluk, baik yang bersifat kebaikan maupun keburukan. Semua itu telah tercatat dalam Lauh al-Mahfuzh, baik yang kecil maupun yang besar.
Rasulullah ﷺ bersabda,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ»
“Allah telah menuliskan takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhu)
Dari sini para ulama menjelaskan derajat keimanan terhadap takdir.
Derajat Pertama: Ilmu dan Catatan
﴿ أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ﴾
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (Qs. Al Hajj:70)
Derajat Kedua: Kehendak dan Penciptaan.
﴿ كَذَٰلِكَ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ﴾
“Dia (Maryam) berkata, ‘Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku mempunyai anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!”, maka jadilah ia.’” (Qs. Ali Imran:47)
﴿ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ﴾
“Dan milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Al Maidah:17)
Ini menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. Tidak ada yang sia-sia dalam ketetapan-Nya.
---
2️⃣ Bukti Kuasa Allah Agar Kita Takut dan Tunduk Kepada-Nya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah..
Musibah terkadang datang sebagai peringatan agar manusia takut kepada Allah, semakin tunduk, semakin patuh, meninggalkan maksiat, memperbanyak istighfar, dan kembali kepada Rabbnya.
Allah berfirman:
وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
“Dan Kami tidak mengirimkan tanda-tanda (peringatan) itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (QS. Al-Isra: 59)
Mengenai ayat yang mulia ini imam Qatadah rahimahullahu berkata:
إِنَّ اللَّهَ خَوَّفَ النَّاسَ بِمَا يَشَاءُ مِنْ آيَاتِهِ لَعَلَّهُمْ يَعْتَبِرُونَ وَيَذَّكَّرُونَ وَيَرْجِعُونَ
“Sesungguhnya Allah menakut-nakuti manusia dengan apa saja yang Dia kehendaki dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar mereka mengambil pelajaran, sadar, dan kembali (kepada-Nya).”
Dan disebutkan dalam sejarah bahwa kota Kufah pernah diguncang (gempa) pada masa Ibnu Mas’ud, maka beliau berkata:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنْ رَبَّكُمْ يَسْتَعْتِبُكُمْ فَأَعْتِبُوهُ.
“Wahai manusia, sesungguhnya Rabb kalian sedang meminta kalian untuk kembali (bertaubat), maka kembalilah kepada-Nya.”
Di dalam ayat ini Allah Yang Maha Kuasa menjelaskan bahwa tanda-tanda peringatan yang Allah kirimkan untuk menakut-nakuti hamba Nya, takut disini bukan semata takut karena panik, tetapi takut yang melahirkan taubat, ketaatan, dan kembali memperbaiki diri. Yaitu rasa takut yang membuat kita semakin dekat kepada Allah, bukan menjauh.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam ayat lain,
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar rum:41)
Dijelaskan disini penyebab kerusakan di daratan dan lautan adalah dengan sebab kekufuran dan kemaksiatan.
---
3️⃣ Musibah Menunjukkan Lemahnya Makhluk.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah..
Jika Allah menggerakkan bumi sedikit saja, manusia —dengan segala teknologi dan kekuatannya— tidak akan mampu mencegahnya. Musibah membuat manusia sadar: kita bukan pemilik kekuatan, kita hanya hamba yang begitu lemah di hadapan Nya.
Allah berfirman,
خُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah.” (QS. An-Nisa: 28)
Allah Yang Maha Mencipta menjelaskan bahwa Dia menciptakan manusia dalam keadaan lemah.
---
4️⃣ Semua Milik Allah.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Rumah, harta, jabatan, bahkan tubuh ini semuanya bukan milik kita. Kita hanya dititipi. Maka ketika Allah mengambil sebagian nikmat-Nya, kita diajarkan untuk berkata:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Ucapan ini bukan hanya sebatas ucapan di lisan, tetapi lebih dari itu ucapan ini merupakan bentuk pengakuan bahwa hidup ini di bawah kekuasaan-Nya.
---
5️⃣ Saatnya Kita Menolong Saudara Kita.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Mereka yang tengah mengalami musibah membutuhkan saudara-saudaranya untuk saling menguatkan, karena seorang mukmin dengan mukmin yang lain laksana sebuah bangunan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
ثُمَّ شَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ.
“Sesungguhnya seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.”
Kemudian Nabi ﷺ merapatkan jari-jarinya sebagai isyarat. (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Musa Al Asy'ari Radhiyallahu anhu)
Di balik ujian ada pintu pahala. Di antara amal yang paling dicintai Allah adalah membantu orang yang sedang kesulitan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمَاً سَتَرَهُ اللهُ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
“Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kdiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam hutangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut mau menolong saudaranya."
(HR. Muslim (2699) dari Abu Hurairah)
Maka dari itu, marilah kita ulurkan tangan—dengan harta, tenaga, doa, atau dukungan moral—untuk meringankan beban saudara kita. Karena musibah mereka bisa menjadi sebab kita meraih rahmat Allah.
---
Penutup
Semoga Allah memberi kesabaran bagi mereka yang diuji, memberi ampunan bagi yang wafat, dan menggantikan musibah dengan pahala yang lebih baik. Dan semoga Allah menjadikan hati kita lembut, mudah tersentuh, dan selalu siap kembali kepada-Nya.
kesimpulan:
1. Musibah adalah ketetapan Allah yang penuh hikmah, tidak terjadi secara kebetulan, dan semuanya berada dalam ilmu serta kehendak-Nya.
2. Musibah merupakan peringatan dari Allah agar manusia takut kepada-Nya, meninggalkan maksiat, memperbanyak taubat, dan kembali kepada jalan ketaatan.
3. Musibah menyadarkan manusia akan kelemahannya, bahwa sehebat apa pun manusia, ia tetap hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.
4. Segala yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah, sehingga saat diambil kembali, seorang mukmin diajarkan untuk bersabar, ridha, dan menyerahkan urusan kepada-Nya.
5. Musibah adalah ladang pahala dan penguat ukhuwah, karena di dalamnya terdapat kesempatan besar untuk saling menolong, berempati, dan meraih rahmat Allah.
Purwokerto, Desember 2025
Komentar
Posting Komentar