Langsung ke konten utama

Ghanimah Hari Jumat (khutbah Jumat)

 

Segala puji bagi Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, Maha Esa dan Maha Perkasa. Dialah yang menciptakan apa yang Dia kehendaki dan melebihkan sebagian hari atas sebagian yang lain sebagai pelajaran bagi hamba-hamba-Nya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Dialah yang menyediakan surga bagi orang-orang bertakwa dan neraka bagi orang-orang yang zalim.

Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada beliau, keluarganya, dan para sahabatnya.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Peganglah tauhid dengan kuat, karena tauhid adalah pegangan yang paling kokoh. Ikutilah petunjuk Allah, sebab siapa yang mengikuti petunjuk-Nya tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.”


Ghanimah Hari Jumat.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Umat-umat terdahulu mengetahui bahwa ada satu hari yang sangat mulia. Namun Allah tidak memberi mereka petunjuk kepadanya, dan Allah simpan hari itu khusus untuk umat Nabi Muhammad ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:


 «أضل الله عن يوم الجمعة من كان قبلنا، فكان لليهود يومُ السبت، وكان للنصارى يومُ الأحد، وجاء الله بنا فهدانا ليوم الجمعة» .


“Allah telah memalingkan umat-umat sebelum kita dari hari Jumat. Orang Yahudi beribadah pada hari Sabtu, orang Nasrani pada hari Ahad. Lalu Allah memberi kita petunjuk kepada hari Jumat.”¹

Hari Jumat adalah hari terbaik bagi kaum Muslimin. 

Rasulullah ﷺ bersabda:


 «خير يوم طلعت فيه الشمس يومُ الجمعة فيه خلق أدم عليه السلام، وفيه أدخل الجنة، وفيه أخرج منها، ولا تقوم الساعة إلا يومَ الجمعة».


“Sebaik-baik hari yang disinari matahari adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan darinya, dan kiamat pun akan terjadi pada hari Jumat.” ²

Hari Jumat juga Allah jadikan sebagai hari raya bagi kaum Muslimin. Karena itu, seorang Muslim dianjurkan datang ke shalat Jumat dalam keadaan bersih dan rapi. Rasulullah ﷺ bersabda:


«إن هذا اليومَ عيد للمسلمين فمن جاء الجمعة فليغتسل، وإن كان من طيب فليمس منه وعليكم بالسواك».


“Hari ini adalah hari raya bagi kaum Muslimin. Maka barang siapa datang ke shalat Jumat, hendaklah ia mandi, memakai wewangian jika ada, dan bersiwak.” ³


Jamaah rahimakumullah,

Hari Jumat adalah hari penuh pahala. Rasulullah ﷺ bersabda:


«من توضأ فأحسن الوضوء ثم أتى الجمعة فاستمع وأنصت، غفر له ما بينه وبين الجمعة الأخرى، وزيادة ثلاثة أيام»


“Barang siapa berwudu dengan baik, kemudian datang ke shalat Jumat, mendengarkan khutbah dan diam, maka diampuni dosa-dosanya antara Jumat itu dengan Jumat berikutnya, ditambah tiga hari.”⁴


Jika seseorang mandi, berwudu dengan sempurna, berangkat ke masjid dengan tenang, duduk berdzikir, tidak mengganggu orang lain, lalu mendengarkan khutbah dengan penuh perhatian, maka Allah mengampuni dosa-dosanya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:


«من غسّل واغتسل وبكر وابتكر ومشى ولم يركب، ودنا من الامام فاستمع ولم يلغ، كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها»


“Barang siapa mandi, berangkat lebih awal, berjalan kaki, mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah dan tidak melakukan perbuatan sia-sia, maka setiap langkahnya mendapat pahala seperti puasa dan shalat selama satu tahun.” ⁵


Allahu Akbar, betapa besar pahala hari Jumat.

Wahai hamba-hamba Allah, marilah kita berusaha mengamalkan sunnah-sunnah ini, walaupun sekali dalam setahun atau sekali dalam hidup kita, agar kita mendapatkan pahala yang besar dari Allah.


Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Di antara keutamaan besar hari Jumat adalah adanya waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Rasulullah ﷺ bersabda:


«فيها ساعة لا يوافقها عبد مسلم قائم يصلي يسأل الله شيئا إلا أعطاه إياه»


“Di hari Jumat terdapat satu waktu, tidaklah seorang Muslim berdoa pada waktu itu kecuali Allah akan mengabulkannya.” ⁶


Para ulama menjelaskan bahwa waktu tersebut kemungkinan besar adalah:

- sejak imam naik mimbar hingga selesai shalat Jumat, atau

- waktu antara shalat Ashar hingga Maghrib.

Karena itu, marilah kita perbanyak doa pada hari Jumat, terutama setelah shalat Ashar hingga Maghrib.

Selain itu, hari Jumat adalah hari yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda:


«أكثروا من الصلاة علي يوم الجمعة وليلة الجمعة، فإن من صلى علي صلاةً صلى الله عليه عشرا».


“Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jumat dan malam Jumat. Karena siapa saja yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.”⁷


Wahai hamba-hamba Allah,

Jika kita ingin nama kita disebut di hadapan Rasulullah ﷺ, maka perbanyaklah shalawat kepada beliau, terutama pada hari Jumat.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memuliakan hari Jumat, menghidupkannya dengan ibadah, doa, dan shalawat.


أقول ما تسمعون، وأستغفر الله العظيم لي ولكم من كل ذنب فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده.

اللهم صلِّ وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين،

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.


Catatan:

1. HR. Muslim no. 856 dari Shahabat Hudzaifah bin Al Yaman Radhiyallahu Anhu

2. HR. Muslim no.854 dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

3. Shahih Ibnu Majah no. 908 dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma

4. HR. Muslim no.857 dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

5. HR. Abu Dawud (no. 345), at-Tirmidzi (no. 496), an-Nasa’i (no. 1384), dan Ibnu Majah (no. 1087) dengan redaksi yang sama. Dari Aus bin Abi Aus, dan ada pula yang mengatakan Aus bin Aus, ayah dari ‘Amr.

6. HR. al-Bukhari (no. 935) dan lafaznya milik beliau, serta Muslim (no. 852) dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu

7. HR. al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrā (3/249), al-Qathī‘ī dalam Juz’u al-Alfi Dīnār (hlm. 217), dan al-Baihaqi dalam Faḍā’il al-Awqāt (hlm. 499) dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Kisah Menakjubkan Mukjizat Dalam al-Quran Tentang al-Ankabuut (laba-laba)

Firman Allah ﷻ:  مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ ۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًا ؕ وَ اِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui." [QS. Al-'Ankabut: Ayat 41] Dua faidah indah dari surat al ankabuut : Faidah pertama: Mengapa dalam al-Quran kata al-Ankabut dalam bentuk muannats (betina) sedangkan dia adalah mudzakkar (jantan) ??? Perhatikan ta' ta'nits (تْ) pada kalimat اتخذت العنكبوت apakah mudzakar atau muannats? apakah kita katakan هذا عنكبوت hadza 'ankabut, atau هذه عنكبوت hadzihi 'ankabut? Yang benar adalah هذا عنكبوت hadza 'ankabut karena dia mudzakar, tidak dengan ta' ta'nits ( تْ ) pada kalimat al 'ankabut yaitu اتخذت Para pencela dan orang yang ragu ...

Bersemangat Dalam Perkara Yang Bermanfaat

  --- Kaedah Nabawiyah ke-20: “Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah/putus asa.” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: الْمُؤْمِنُ القَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إلى اللهِ مِنَ المُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وفي كُلٍّ خَيْرٌ. احْرِصْ علَى ما يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ باللَّهِ وَلَا تَعْجِزْ، وإنْ أَصَابَكَ شَيءٌ، فلا تَقُلْ: لو أَنِّي فَعَلْتُ كانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَما شَاءَ فَعَلَ؛ فإنَّ (لو) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ. “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika sesuatu menimpamu, janganlah engkau berkata: ‘Seandainya aku melakukan ini, pasti akan begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Ini adalah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan.’ Karena kat...