Langsung ke konten utama

Jangan terjatuh kedalam lubang yang sama.


"Seorang mukmin haruslah bersikap tegas, tegar (penuh tekad), dan waspada; ia tidak boleh lengah sehingga bisa ditipu berulang kali dan terperosok ke dalam hal yang tidak diinginkan (keburukan). Hal ini bisa terjadi dalam urusan agama sebagaimana terjadi dalam urusan dunia, dan urusan agama adalah hal yang paling utama untuk diwaspadai."

Dalam sebuah hadits disebutkan, 


لا يُلْدَغُ المؤمِنُ من جُحْرٍ مَرَّتيْنِ

"Tidak selayaknya seorang mukmin disengat [oleh binatang berbisa] dari lubang yang sama dua kali."

[(HR. al-Bukhari (6133), Muslim (2998), dan Abu Dawud (4862), dan lafaz ini adalah milik mereka. Shahih al-Jami' (7779)]


Terdapat dua makna dari hadits yang mulia ini:

Yang pertama: bahwa seorang mukmin dia adalah seorang yang cerdas/cerdik lagi teguh pendiriannya (waspada/tegas) yang tidak lalai Sehingga ia tertipu berulang kali (beberapa kali) tanpa menyadarinya, yang dimaksud dalam hal ini adalah pada perkara agama.

Kedua: janganlah seorang mukmin tertipu dan janganlah mendekat kepada kelalaian, sehingga terjatuh kepada hal yang dibenci atau suatu keburukan sedangkan dia tidak menyadari, dan hendaknya dia menjadi seorang yang jeli dan waspada, dan ini mencakup perkara agama dan dunia.


Nabi ﷺ melalui hadits ini memberikan suatu pengajaran kepada umatnya dan mengingatkan mereka bagaimana mereka mewaspadai hal-hal yang mereka khawatirkan akibat buruknya.

Tatkala saudara-saudara nabi Yusuf alaihissalam mereka meminta kepada bapak mereka supaya mengutus saudara mereka Bunyamin, Nabi Yaqub berkata kepada mereka sebagaimana disebutkan oleh Allah,


قَالَ هَلۡ اٰمَنُكُمۡ عَلَيۡهِ اِلَّا كَمَاۤ اَمِنۡتُكُمۡ عَلٰٓى اَخِيۡهِ مِنۡ قَبۡلُؕ فَاللّٰهُ خَيۡرٌ حٰفِظًا وَّهُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِيۡنَ‏ ٦٤

"Dia (Yakub) berkata, "Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?" Maka Allah adalah Penjaga yang terbaik dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang." (Qs. Yusuf:64)


Demikian juga disebutkan di akhir surat at Taubah mengenai keadaan orang munafik,


اَوَلَا يَرَوْنَ اَنَّهُمْ يُفْتَنُوْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ مَّرَّةً اَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوْبُوْنَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُوْنَ ۝١٢٦


"Tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, tetapi mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (Qs. At Taubah:126)

Pelajaran paling berharga dari kandungan hadits yang mulia ini adalah seorang mukmin hendaknya sangat waspada dari sebab yang pernah menjatuhkannya ke dalam dosa, seperti keadaan seseorang yang memasukkan tangannya kedalam lubang lalu digigit oleh seekor ular, maka tentunya setelah itu dia tidak memasukkan tangannya kedalam lubang itu lagi sebagaimana ketika dia mengalami pertama kali.

Dalam hadits ini diungkapkan dengan kata mukmin untuk mengistirahatkan adanya imam sebagaimana iman itu membawa orangnya untuk mengerjakan ketaatan, memotivasinya, dan membuatnya bersedih tatkala melewatkan ketaatan tersebut, maka demikian juga menjauhkannya dari menerjang keburukan, dan jika terlanjur terjadi maka dia bersegera melepaskan dan tidak mengulangi kembali semisal yang telah terjadi.


Hadits ini menunjukkan beberapa hal diantaranya:

- dorongan untuk memiliki sikap tegas dan cerdik, sehingga mengenali sebab-sebab yang bermanfaat supaya bisa melaksanakannya dan sebab-sebab yang membahayakan untuk ditinggalkan.

- dorongan untuk meninggalkan sebab-sebab yang meragukan yang dikhawatirkan tatkala didekati akan menjerumuskan kepada keburukan.

- sesungguhnya sarana-sarana adalah perkara yang dianggap, Allah peringatkan kaum mukminin untuk tidak mengulangi dari terjatuh kepada maksiat yang dihiasi oleh syaitan.

Allah Ta'alaa berfirman,


يَعِظُكُمُ اللّٰهُ اَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖٓ اَبَدًا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَۚ ۝١٧

"Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya jika kamu orang-orang mukmin." (Qs. An Nur:17)

Oleh karenanya seseorang yang mengecap keburukan dari orang-orang yang bertaubat kebenciannya kepada hal itu lebih besar, kewaspadaannya terhadapnya lebih dalam, dikarenakan dia telah mengenali dampak-dampak buruknya berdasarkan pengalamannya.


Orang-orang yang tidak mengambil pelajaran dari contoh-contoh hukuman dan tidak mengambil faedah dari pengalaman hidup, maka keimanan belum sempurna pada jiwa mereka setelah itu, meskipun mereka orang shaleh, banyak ibadah, karena seorang mukmin itu adalah seorang yang cerdik dan teliti, ditandai dengan mengambil pelajaran melalui pengalaman hidup.


Lebih luas lagi jika dibawa kepada skup negara dan umat, karena diantara tanda Allah Ta'alaa memberikan Taufik kepada suatu negara, umat, dan para pemimpin adalah mereka mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian dan pengalaman di masa lalu yang telah lewat pada diri mereka atau orang lain. Inilah diantara rahasia pesan dari para nabi kepada umatnya.


Nabi Hud berkata kepada umatnya,


(Qs. Al Araf:69)


Nabi shalih mengingatkan umatnya,


(Qs. Al Araf:74)


Renungkanlah firman Nya,


(Qs. Ali Imran: 137)


Pelajaran paling berharga dari hal ini adalah tidak mengulangi kesalahan, mengambil Ibrah dari sebab kebinasaan umat-umat terdahulu, dan runtuhnya suatu negara.


Hadits ini juga menunjukkan kepada bimbingan untuk bermusyawarah, sama saja apakah dalam urusan agama ataupun urusan dunia, baik itu bersifat pribadi ataupun umat, karena perkara-perkara itu di dalamnya ada yang besar ada yang kecil, ada yang bersifat khusus dan ada yang umum, kesalahan pada sebagian tidak seperti kesalahan pada yang lain, sehingga bermusyawarah merupakan langkah untuk meminimalisir celah kesalahan, seandainyapun terjadi kesalahan tidak menyesal, karena telah berusaha semaksimal mungkin.


Inti dari semua adalah hadits ini mencakup segala urusan, agama maupun dunia, individu maupun masyarakat.


Kesimpulan:

1. Seorang mukmin Hendaklah ia memiliki keistimewaan (ciri khas) berupa sikap antisipasi dan kewaspadaan.

2. Seorang yang berhasil adalah seorang yang membangun masa depannya dengan belajar kepada masa lalu dan yang sedang dihadapinya, sedangkan seorang yang gagal dia menghancurkan masa depannya dengan kesalahan pada masa lalu dan yang sedang dihadapinya.

3. Syaitan memiliki perangkap-perangkap, maka jika engkau menjumpai diantara perangkap tersebut, maka berhati-hatilah dari terjatuh kedalamnya diwaktu yang lain.


Disampaikan pada kajian di masjid Baitul Jannah ledug kembaran pada hari Ahad 31 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Khutbah idul Fitri 1446 H

  إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأََرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُح...

Kisah Menakjubkan Mukjizat Dalam al-Quran Tentang al-Ankabuut (laba-laba)

Firman Allah ﷻ:  مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ ۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًا ؕ وَ اِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui." [QS. Al-'Ankabut: Ayat 41] Dua faidah indah dari surat al ankabuut : Faidah pertama: Mengapa dalam al-Quran kata al-Ankabut dalam bentuk muannats (betina) sedangkan dia adalah mudzakkar (jantan) ??? Perhatikan ta' ta'nits (تْ) pada kalimat اتخذت العنكبوت apakah mudzakar atau muannats? apakah kita katakan هذا عنكبوت hadza 'ankabut, atau هذه عنكبوت hadzihi 'ankabut? Yang benar adalah هذا عنكبوت hadza 'ankabut karena dia mudzakar, tidak dengan ta' ta'nits ( تْ ) pada kalimat al 'ankabut yaitu اتخذت Para pencela dan orang yang ragu ...