Diantara nikmat terbesar bagi umat manusia adalah diutusnya Nabi kita Rasulullah Muhammad ﷺ.
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Artinya: Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(Qs. Āli Imran: 164)
Beliau adalah figur manusia paripurna dalam segala kebaikan, beliau adalah manusia paling terkemuka di muka bumi ini.
Beliau ﷺ pernah menyatakan :
أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آَدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ، وَبِيَدِيْ لِوَاءُ اْلحَمْدِ وَلاَ فَخْرَ، وَ مَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ آَدَمُ فَمَنْ سِوَاهُ إِلاَّ تَحْتَ لِوَاءِيْ وَ أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ وَلاَ فَخْرَ.
Aku adalah pemimpin anak adam pada hari kiamat dan bukannya sombong, dan di tanganku bendera Al-Hamd dan bukannya sombong, dan tidak ada seorang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun, tidak pula Adam juga yang lainnya ketika itu kecuali semua di bawah benderaku, dan aku orang pertama yang keluar dari tanah/kubur dan bukannya sombong. (HR. At Tirmidziy)
Allah azza wa jalla menyebut beliau dengan keluhuran akhlak
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Artinya: Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Qs. Al Qalam:4)
Aisyah Radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, maka beliau mengatakan:
كان خلفه القران
Akhlak beliau adalah Al Quran. (HR. Muslim)
Tidak ada suatu kebaikanpun melainkan telah ada pada diri Rasulullah ﷺ, hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Allah Ta'alaa:
Allah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."
(Qs. Al Ahzab:21)
Ayat yang mulia ini adalah landasan utama dalam mencontoh Rasulullah ﷺ pada semua aspek mencakup tutur kata dan ucapan beliau, tindak tanduk perbuatan beliau, serta keadaan-keadaan beliau.
Maka kita sebagai umat beliau diperintahkan untuk mencontoh dan mengikuti beliau ﷺ.
Allah berfirman:
Dan firman Nya:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang
(Qs. Āli Imran:31)
Kita perhatikan ayat ini, Allah jalla wa Alaa jelaskan bahwa pengakuan cinta Allah Ta'alaa harus dibuktikan dengan bukti nyata yaitu mengikuti Nabi ﷺ, semua aspek kehidupan telah ada teladan pada diri Rasulullah ﷺ baik akidah, ibadah, muamalah, Akhlakul Karimah, dan lain sebagainya. Siapapun orangnya dan apapun perannya selama konteksnya adalah kebaikan maka telah ada teladan pada diri Rasulullah ﷺ.
Maka, berbicara masalah pendidikan anak-anak, maka seorang pendidik atau orang tua hendaknya menjadikan Rasulullah ﷺ rule model dalam pendidikan, beliau adalah Al muallimul awwal sang pendidik pertama.
Bagaimana kita mendidik anak-anak kita? Maka jawabannya adalah mengkaji bagaimana beliau mendidik umat.
Bukankah Para shahabat Radhiyallahu 'anhum ajma'in dinyatakan sebagai generasi terbaik, dan disana ada manusia terbaik setelah para nabi dan rasul.
Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,
خيرُ القرونِ قرْني, ثمَّ الَّذين يلونَهم, ثمَّ الَّذين يلونَهم
"Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian yang setelahnya."
Maka pertanyaannya adalah mengapa bisa demikian?
Tentu jawabannya adalah karena mereka dididik langsung oleh Rasulullah ﷺ dan melihat langsung keteladanan beliau ﷺ.
Bapak ibu ayah bunda abaa dan umahat semua yang dirahmati Allah, bagaimana supaya dalam kita mendidik putra-putri kita itu membekas dan berkesan di hati mereka?
Maka kita harus memperhatikan sarana pendidikan itu sendiri, dan diantara sarana pendidikan adalah mendidik dengan qudwah Hasanah. Hendaknya orang tua atau pendidik menjadi teladan yang baik pada seluruh keadaannya baik itu dari sisi ibadah, kedermawanan, Zuhud, rendah hati, santun, keberanian. Dan menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan bagi dirinya, maka ketika pengajaran akan bermanfaat dan akan dicontoh.
Lalu seberapa pentingkah keteladanan ini dalam mendidik anak?
Setidaknya ada beberapa alasan sebagai berikut ini:
1. Nalar anak-anak tentunya dibawah orang dewasa, wasilah pendidikan paling penting pada diri mereka adalah melalui apa? penglihatan dan pendengaran. Ingat bapak ibu mereka punya sepasang mata yang senantiasa melihat gerak-gerik kita, dan mereka juga punya sepasang telinga untuk mendengar tutur kata kita. Penglihatan mereka jauh lebih penting bagi mereka daripada buku pelajaran, pendengaran mereka lebih penting dari pelajaran-pelajaran yang disampaikan, dan seterusnya.
2. Teladan yang baik memberi anak keyakinan bahwa nilai-nilai luhur bukan sekadar prinsip idealis, melainkan sesuatu yang bisa dicapai melalui teladan, di mana perilaku nyata (bukti hidup) adalah dalil yang paling akurat untuk membuktikannya.
3. "Sesungguhnya, ketika seorang anak atau remaja melihat sebuah perilaku atau amal kebaikan yang membuat seseorang dipuji, hal itu akan membangkitkan rasa kagum, penerimaan yang baik, dan penghargaan di dalam jiwanya terhadap perbuatan tersebut, yang kemudian mendorongnya untuk meniru."
Dalam siroh nabi kita ﷺ tentang kakek buyut Nabi ﷺ yang di kalangan Quraisy mereka dikenal dan dikenang dengan sifat-sifat kebaikan sedikit kita mengulas Kakek-kakek Rasul ﷺ,
1. Qushay, beliau adalah seorang yang telah mengumpulkan Quraisy dan meminta kembalinya kekuasaan Quraisy di tanah haram, beliau memiliki kedudukan agung di kalangan Quraisy sehingga mereka berkata kepada Rasul ﷺ setelah beliau diutus menjadi nabi, "bangkitkan untuk kami Qushay, sungguh dia adalah seorang Syaikh yang jujur, lalu jika dia bersaksi untukmu (mendukungmu), kami akan mengikutimu
2. Abdu Manaf, beliau adalah salah satu dari empat putra Qushay yang paling mulia di Quraisy, beliau biasa melakukan siqayah dan rifadah yaitu penyedia minuman dan makanan untuk jamaah haji.
3. Hasyim, beliau seorang yang biasa meremukkan roti (membuat masakan tsarid) untuk para jamaah haji, nama aslinya adalah ‘Amr, beliau adalah pencetus ekspedisi dagang dimusim dingin dan panas.
4. Abdul Muthalib, beliau tumbuh di Madinah, dan yang paling mirip dengan kakek tertinggi yaitu Qushay, beliau adalah seorang yang menggali sumur zam-zam.
Apa yang membuat mereka dikenang oleh bangsa Quraisy? Karena keteladanannya.
4. Kemudian yang terakhir, apakah menjadi teladan itu menuntut kita menjadi manusia sempurna? Tentu tidak, melainkan menjadi manusia yang sadar dan berhati-hati saat berada di depan anak-anak. Mengapa? Karena "Sesungguhnya anak-anak dan remaja didorong oleh keinginan tersembunyi yang tidak mereka sadari untuk meniru orang yang mereka kagumi tanpa sengaja. Peniruan tanpa sengaja ini tidak hanya terbatas pada perilaku-perilaku yang baik saja, melainkan juga meluas pada hal-hal lainnya. Oleh karena itu, sangatlah berbahaya jika perilaku buruk muncul pada sosok teladan, karena dengan begitu ia akan memikul dosa (beban kesalahan) dari orang yang menirunya." Atau yang disebut "peniruan bawah sadar"
Dan kita sebagai kaum muslimin memiliki teladan yaitu Rasulullah Muhammad ﷺ, dari sini lahirlah generasi yang telah dididik langsung dibawah kedua tangan beliau yaitu para shahabat Radhiyallahu 'anhum ajma'in.
Allah Ta'alaa berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا ﴾
(45) Wahai Nabi (Muhammad), sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan,
(46) dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah dengan izin-Nya serta menjadi cahaya yang menerangi.
(Qs. Al Ahzab:45,46)
Dan merupakan kewajiban bagi seorang pendidik untuk mengambil manfaat dari sarana ini dalam beberapa poin yang saya ringkas sebagai berikut:
Pertama: Ucapan sang pendidik tidak boleh menyelisihi perbuatannya, jika tidak, hal itu justru akan membuat orang menjauh dari apa yang ia serukan.
Kedua: Menanamkan kesadaran pada diri generasi muda bahwa teladan utama adalah Nabi ﷺ, serta menghubungkan mereka dengan sumber ini, sebagaimana semestinya juga menghubungkan mereka dengan teladan generasi pertama dari para pendahulu umat ini (Salafush Shalih).
Ketiga: Jangan sampai luput dari perhatian kedua orang tua untuk fokus pada perbaikan anak sulung (anak tertua) mereka. Sebab, hal ini merupakan salah satu faktor paling berpengaruh dalam perbaikan anak-anak yang lain. Hal itu karena anak yang lebih muda biasanya akan meniru apa yang dilakukan oleh kakaknya, bahkan memandangnya sebagai contoh tertinggi dalam segala hal.
Keempat: Seorang ayah harus bersemangat dalam memilihkan lingkungan pertemanan yang baik bagi anaknya. Karena anak-anak dan remaja cenderung mencintai teman-temannya dan mengikuti mereka dalam perilaku serta akhlaknya.
Kelima: Begitu pula seorang ayah harus berhati-hati dan selektif saat memilih sekolah tempat anaknya akan bertemu dengan lingkungan sekolah dan teman-teman sebayanya, karena ia akan menghabiskan waktu bersama mereka ia pasti akan terpengaruh oleh orang-orang yang berinteraksi bersamanya. Oleh karena itu, hendaknya (sang ayah) bersemangat untuk mengondisikan lingkungan yang baik di setiap tempat yang didatangi oleh anaknya.
Maka, seorang ayah harus bersemangat untuk menyediakan teladan yang baik di rumah, di sekolah, dan di jalanan (lingkungan luar), agar anak tidak merasakan adanya kontradiksi di antara lingkungan-lingkungan tersebut, yang mana hal itu dapat menimbulkan dampak buruk di dalam jiwanya.
G.U.R.U.
Menjadi guru adalah tugas yang begitu mulia. Dikarenakan ini adalah salah satu bagian dari tugasnya para nabi dan rasul.
Rasulullah ﷺ memuji orang yang mengajarkan kepada manusia kebaikan.
"Sesungguhnya Allah, para malaikat, dan penghuni langit dan bumi bershalawat kepada orang yang mengajarkan kepada manusia kebaikan."
Terlebih kebaikan yang diajarkan disini adalah sebaik-baik ucapan yaitu Kalamullah.
Rasulullah ﷺ bersabda, "sebaik-baik kalian adalah seorang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya."
Ada 4 poin terkait seorang guru:
A. G-Garda terdepan dalam keteladanan dalam berakhlak mulia.
- Rasulullah ﷺ pernah menyatakan, sebaik-baik generasi adalah generasiku, mengapa?
Tentunya guru mereka itu siapa? Rasulullah ﷺ, Allah berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." Surat Al-Ahzab Ayat 21
Firman Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." Surat Al-Qalam Ayat 4
Dan firman Nya:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang
Surat Āli Imran 31
- Sehingga lahirlah generasi terbaik, siapa yang tak kenal Abu bakar ash Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, abdurrohman bin auf, abu Ubaidah bin jarrah aminu hadzihil ummah dan para shahabat yang lainnya?
- sebelum itu ada khalilullah Ibrahim alaihissalam disebut sebagai teladan.
- jika kita melihat pada siroh Rasul ﷺ yang mulia disana disebut mengenai nasab Nabi ﷺ, kakek buyut nabi di kalangan Quraisy dikenal dan dikenang dengan sifat-sifat kebaikan
- sedikit kita mengulas Kakek-kakek Rasul ﷺ,
1. Qushay, beliau adalah seorang yang telah mengumpulkan Quraisy dan meminta kembalinya kekuasaan Quraisy di tanah haram, beliau memiliki kedudukan agung di kalangan Quraisy sehingga mereka berkata kepada Rasul ﷺ setelah beliau diutus menjadi nabi, "bangkitkan untuk kami Qushay, sungguh dia adalah seorang Syaikh yang jujur, lalu jika dia bersaksi untukmu (mendukungmu), kami akan mengikutimu
2. Abdu Manaf, beliau adalah salah satu dari empat putra Qushay yang paling mulia di Quraisy, beliau biasa melakukan siqayah dan rifadah yaitu penyedia minuman dan makanan untuk jamaah haji.
3. Hasyim, beliau seorang yang biasa meremukkan roti (membuat masakan tsarid) untuk para jamaah haji, nama aslinya adalah ‘Amr, beliau adalah pencetus ekspedisi dagang dimusim dingin dan panas.
4. Abdul Muthalib, beliau tumbuh di Madinah, dan yang paling mirip dengan kakek tertinggi yaitu Qushay, beliau adalah seorang yang menggali sumur zam-zam.
Apa yang membuat mereka dikenang oleh bangsa Quraisy? Karena keteladanannya.
B. U-Upayakan ikhlas karena Allah sebagai bekal akhirat.
Imam Abdullah bin Mubarak memiliki perkataan yang sangat bagus sekali dalam masalah ini, "betapa banyak amalan kecil dijadikan besar dengan sebab niatnya, dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil dengan sebab niatnya."
Mengajar adalah sesuatu amalan mulia yang dicintai Allah dan diridhai Allah maka mengajar adalah bagian dari ibadah, sebagaimana kita ketahui suatu ibadah haruslah ada padanya niat yang baik dan cara yang baik.
Dalam filosofi masyarakat Jawa disebutkan bahwa guru itu adalah "glugu turu" batang pohon kelapa yang tidur biasanya untuk alat penyeberangan di sungai, demikian juga guru adalah "digugu dan ditiru" yaitu didengar dan dicontoh untuk mengisyaratkan bahwa seorang guru hendaknya menjadi teladan dalam ucapan dan sikap.
Dan siapapun bisa menjadi guru, guru tidak terbatas sebuah profesi, seorang pedagang bisa menjadi guru mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam muamalahnya,
Disebutkan dalam surat Maryam tentang Nabi Isa alaihissalam
"Dan Dia menjadikanku seorang yang diberkahi dimanapun berada." Surat Maryam
Nabi Isa alaihissalam demikian juga para nabi yang lain mengajarkan manusia dimanapun berada dan berbagai kesempatan.
Imam Malik pernah berkata, "siapa yang niatnya ikhlas akan kekal."
C. R-Rendah hati mengakui jika belum tahu dan pastikan punya dasar ilmu yang benar.
Mengajar apapun itu baik ilmu dunia terlebih ilmu agama pasti membutuhkan ilmu, ada perkataan hikmah, "faqidusy syai-i laa yu'thi."
Seseorang yang tidak punya tidak bisa memberi.
Seseorang harus terus belajar dan tidak perlu gengsi untuk mengatakan, "aku tidak tahu " karena ucapan ini adalah setengah dari ilmu itu sendiri.
Imam Malik pernah didatangi seseorang dari tempat yang jauh beliau ditanya banyak hal namun hanya sedikit yang beliau Jawab selebihnya ucapan "laa adri" aku tidak tahu.
D. U – Up-to-date (Terus belajar) dan tidak cepat berpuas diri.
Disebutkan dalam perkataan salah seorang salaf, "seseorang dianggap berilmu selama dia terus mau belajar."
Demikian juga ada perkataan mereka, "jadilah seorang yang alim atau pembelajar, jangan jadi yang ketiga!"
Karena mengajar setidaknya menguasai 3 hal:
- Pertama materi yang disampaikan,
- kedua cara mengajarnya,
- dan kondisi orang yang diajar.
Tiga hal ini pastinya membutuhkan ilmu, dan harus selalu up grade diri karena kondisi zaman yang terus berkembang dan banyak perubahan. Tantangannya pun semakin banyak dan beragam.
Kondisi anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak dulu.
Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan untuk senantiasa meminta tambahan ilmu dalam surat Thaha Allah perintahkan Nabi ﷺ untuk meminta tambahan ilmu.
Kita lihat kisah nabi Musa dalam surat Al Kahfi, tatkala mengetahui ada seseorang yang diberi suatu ilmu yang beliau belum mengetahuinya, nabi Musa tidak sungkan dan gengsi untuk belajar kepada orang tersebut, padahal kita ketahui bersama nabi Musa adalah nabi Bani Israel yang mulia, beliau termasuk salah satu dari 5 Rasul Ulul Azmi, tapi beliau mendatangi nabi Khidir yang namanya saja tidak disebut di dalam Al Quran hanya diisyaratkan, berbeda dengan nabi Musa adalah nabi yang paling banyak disebut namanya di dalam Al Quran.
Seorang ahli sekalipun masih tetap membutuhkan ilmu, bisa saja dia keliru pada bidang yang dia kuasai.
Di zaman Khalifah Harun Ar Rasyid ada dua ulama ahli qiraat dan bahasa yang masing-masing mewakili dua madzhab dalam bahasa arab yaitu kuffah dan bashrah, yaitu imam Al kisai dan imam Al Yazidi rahimahumullah, suatu ketika mereka berdua berkumpul di istana menghadap Khalifah,
Tiba waktu shalat imam Al-Kisa'i mengimami shalat di hadapan Harun Ar-Rasyid. Karena suatu hal, Al-Kisa'i melakukan kesalahan kecil seputar tasyid dan harakat dalam membaca surat yang sangat mudah surat Al kafirun yang seharusnya tidak terjadi pada seorang Imam Qira'at sekelas beliau.
Melihat hal itu, Al-Yazidi yang hadir di sana berkata dengan nada menyindir:
"Apakah orang sepertimu, sang Imam dalam Al-Qur'an dan bahasa Arab, bisa salah membaca surat sesederhana itu?"
Al-Kisa'i dengan tenang menjawab menggunakan sebuah bait syi'ir yang sangat bijak:
احْفَظْ لِسَانَكَ لَا تَقُولُ فَتُبْتَلَى ... إِنَّ الْبَلَاءِ مُوَكَّلٌ بِالْمَنْطِقِ
"Jagalah lidahmu, janganlah kamu berucap (meremehkan) hingga kamu ikut diuji... Sesungguhnya musibah itu terikat dengan apa yang diucapkan."
Dikesempatan shalat berikutnya giliran imam Al Yazidi yang menjadi imam shalat, dan ternyata beliaupun keliru dalam membaca surat Al Fatihah. Pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah ini a
dalah seorang ahli pun bisa saja keliru.
Wallahu A'lam.
Bersama sebuah tim kecil. Semoga bermanfaat.
Disampaikan di Baturaden, 30 Juni 2026.
Komentar
Posting Komentar