Langsung ke konten utama

العشرة المبشرون بالجنة Sepuluh Sahabat yang Dijamin Masuk Surga

 Generasi Terbaik Sepanjang Masa, generasi terbaik, abad terbaik, dan manusia-manusia yang tidak akan pernah ada lagi tandingannya, mereka adalah para shahabat Rasulullah ﷺ. Semoga Allah meridai mereka semua.

Para sahabat adalah manusia pilihan dan makhluk terbaik setelah para nabi dan rasul. Mereka memiliki jasa dan keutamaan atas setiap muslim dan mukmin. 

Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"فكل خير فيه المسلمون إلى يوم القيامة من الإيمان والإسلام والقرآن والعلم والمعارف والعبادات، ودخول الجنة والنجاة من النار، وانتصارهم على الكفار، وعلو كلمة الله عز وجل - فإنما هو ببركة ما فعله الصحابة رضي الله عنهم، الذين بلغوا الدين، وجاهدوا في سبيل الله، وكل مؤمن آمن بالله فللصحابة رضي الله عنهم عليه فضلٌ إلى يوم القيامة".

"Setiap kebaikan yang ada pada kaum muslimin hingga hari kiamat—mulai dari iman, Islam, Al-Qur'an, ilmu, makrifat, ibadah, masuk surga, selamat dari neraka, kemenangan mereka atas orang-orang kafir, hingga tingginya kalimat Allah Azza wa Jalla—semuanya itu berkah dari apa yang diperjuangkan oleh para shahabat Radhiyallahu 'anhum, yang telah menyampaikan agama ini dan berjihad di jalan Allah. Setiap mukmin yang beriman kepada Allah, maka para shahabat Radhiyallahu 'anhum memiliki jasa atasnya hingga hari kiamat."

Para shahabat semuanya berada di surga. Namun, meskipun kedudukan mereka begitu tinggi dan mulia, mereka memiliki tingkatan keutamaan yang berbeda-beda. Yang paling utama dan menempati kedudukan tertinggi di antara mereka adalah Sepuluh Sahabat yang Dijamin Masuk Surga, dan yang paling utama di antara yang sepuluh ini adalah Empat Khulafaur Rasyidin.

Nabi ﷺ telah memberikan kabar gembira tentang surga kepada banyak sahabat. Kabar gembira tersebut tidak membuat mereka mengurangi ibadah atau bersikap pasrah (tidak beramal). Di antara mereka adalah orang-orang yang dikenal sebagai Sepuluh Sahabat yang Dijamin Masuk Surga. Dalam hadits ini, Nabi ﷺ menyebutkan mereka dengan bersabda: "Sepuluh orang di surga," artinya di antara orang-orang yang akan masuk surga adalah sepuluh orang ini. 

Imam Adz-Dzahabi berkata: 

"العشرة المبشرون بالجنة أفضل قريش، وأفضل السابقين المهاجرين، وأفضل البدريين وأفضل أصحاب الشجرة، وسادة الأمة في الدنيا والآخرة"

"Sepuluh orang yang dijamin masuk surga adalah orang-orang Quraisy yang paling utama, kaum Muhajirin terdahulu yang paling utama, ahli Badar yang paling utama, ahli Baiatur Ridhwan (Ashabus Syajarah) yang paling utama, serta para pemimpin umat di dunia dan akhirat."

hadits pertama:

‏« أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ ، وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ ، وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ ، وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ ، وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ ، وَسَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ فِي الْجَنَّةِ ، وَأَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي الْجَنَّةِ »

"Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ali di surga, Utsman di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair bin Al-Awwam di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Said bin Zaid bin Amru bin Nufail di surga, dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah di surga."

(HR. At-Tirmidzi (3747), Ahmad (1/193), dan An-Nasa'i dalam Al-Sunan al-Kubra (5/56).

Klasifikasi Tematik: Manaqib (Keutamaan) & Fadhilah - Abu Bakar As-Siddiq, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Al-Khattab, Sepuluh Sahabat yang Dijamin Masuk Surga. Dari Abdurrahman bin Auf dan dishahihkan oleh Al-Albani lihat Syarh Ath-Thahawiyyah no. 487)

Hadits ke dua:

‏« عَشَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ : أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ ، وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ ، وَعَلِيٌّ وَعُثْمَانُ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ » . قَالَ : فَعَدَّ هَؤُلَاءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنِ الْعَاشِرِ ، فَقَالَ الْقَوْمُ : نَنْشُدُكَ اللَّهَ يَا أَبَا الْأَعْوَرِ مَنِ الْعَاشِرُ ؟ قَالَ : نَشَدْتُمُونِي بِاللَّهِ ، أَبُو الْأَعْوَرِ فِي الْجَنَّةِ.

"Ada sepuluh orang di surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Ali, Utsman, Az-Zubair, Thalhah, Abdurrahman, Abu Ubaidah, dan Sa'ad bin Abi Waqqas [di surga]."

Perawi berkata: "Maka beliau (Said bin Zaid) menghitung sembilan orang ini dan terdiam dari menyebutkan orang yang kesepuluh."

Orang-orang yang hadir pun berkata: "Kami meminta kepadamu atas nama Allah, wahai Abu Al-A'war, siapakah orang yang kesepuluh?"

Beliau menjawab: "Karena kalian telah meminta kepadaku atas nama Allah, [maka ketahuilah bahwa] Abu Al-A'war (yaitu Said bin Zaid sendiri) di surga." (HR. At-Tirmidzi no. 3748 dari Said bin Zaid dishahihkan oleh Al-Albani, Abu Dawud (4649), dan An-Nasa'i dalam Al-Kubra (8137) secara semakna)

Perawi hadits berkata: "Maka beliau menghitung sembilan orang ini dan terdiam pada orang yang kesepuluh," maksudnya adalah Said bin Zaid, sahabat yang meriwayatkan hadits ini dari Nabi ﷺ. Maka orang-orang yang ada di sana berkata: "Kami meminta kepadamu dengan nama Allah," maksudnya kami bersumpah dan memohon kepadamu demi Allah, "Wahai Abu al-A'war"—yang merupakan kunyah (nama julukan) dari Said bin Zaid—"siapakah orang yang kesepuluh?" Maksudnya, siapakah sahabat kesepuluh yang dijamin masuk surga? Beliau menjawab: "Kalian telah meminta kepadaku dengan nama Allah," artinya karena kalian telah bersumpah dan memohon demi Allah, maka aku akan menjawabnya, "Abu al-A'war di surga," maksudnya adalah dirinya sendiri (Said bin Zaid di surga).

Pelajaran dari hadits ini adalah bahwa penamaan "Sepuluh Sahabat yang Dijamin Masuk Surga" disematkan karena mereka semua disebutkan secara bersamaan dalam satu hadits, walaupun ada juga sahabat-sahabat lain yang di luar daftar ini yang juga mendapatkan kabar gembira masuk surga.

Allahu Akbar! Alangkah agungnya kabar gembira ini. Manusia-manusia yang masih hidup dan berjalan di atas bumi, namun telah datang kepada mereka kabar yang pasti bahwa mereka adalah penghuni surga. Demi Allah, betapa bahagianya hati mereka mendengar kabar gembira tersebut.

Kira-kira, bagaimanakah perasaan sepuluh Shahabat ini saat diberi kabar gembira tentang negeri keabadian dan kenikmatan yang kekal? Kemuliaan apa yang telah mereka raih? Kemenangan apa yang telah mereka capai? Dan kebahagiaan seperti apa yang menyelimuti perasaan mereka? Telah terwujud bagi mereka cita-cita yang diimpikan oleh setiap muslim setelah kematiannya, lalu bagaimana dengan mereka yang cita-cita itu telah terwujud sebelum kematian menjemput? 

Semoga Allah memberikan karunia-Nya kepada kita kesempatan untuk bertetangga dengan sepuluh Shahabat ini di surga-Nya.

Ringkasan Perjalanan Hidup Sepuluh Shahabat Utama.

Jumlah ini bukanlah pembatasan, karena Nabi ﷺ juga memberikan kabar gembira serupa kepada sahabat yang lain.

Berikut ini adalah ringkasan singkat dari perjalanan hidup sepuluh Shahabat yang dijamin masuk surga, serta intisari dari kisah-kisah mereka yang harum. Sungguh, mereka telah menorehkan sejarah dan kisah yang sangat panjang untuk diceritakan, namun berikut ini adalah beberapa isyarat dan ungkapan tentang kebaikan-kebaikan mereka yang dapat menghidupkan kembali sebutan baik mereka, sekaligus memotivasi kita untuk meneladani mereka:

* 1. Abu Bakar As-Siddiq (Abdullah bin Utsman al-Taimi al-Qurashi). 

Beliau adalah Khulafaur Rasyidin yang pertama, menteri sekaligus pendamping Nabi ﷺ, serta teman hijrah beliau ke Madinah Munawwarah. Beliau adalah sahabat yang paling utama keimanannya dan paling zuhud, serta termasuk manusia yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad ﷺ. Nabi ﷺ menjulukinya As-Siddiq karena beliau selalu membenarkan perkataan Nabi ﷺ.

   Beliau adalah seorang pemuka di antara pemuka Quraisy, manusia terbaik setelah para nabi, dan lelaki yang paling dicintai oleh Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya: 

"إن مِن أمنِّ الناس عليَّ في صحبته وماله أبو بكر، ولو كنت متخذًا خليلًا غير ربي، لاتخذتُ أبا بكر، ولكن أخوة الإسلام ومودته"؛ متفق عليه، وقد أسلَم على يديه خمسة من المبشرين بالجنة.

"Sesungguhnya orang yang paling berjasa kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil (kekasih intim) selain Rabbku, niscaya aku akan memilih Abu Bakar, akan tetapi yang ada adalah persaudaraan Islam dan kasih sayangnya." (Muttafaq 'Alaih). 

Melalui dakwah beliau, lima orang dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ini memeluk Islam.

Kelima sahabat tersebut adalah:

Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Al-Zubair bin Al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah

* 2. Umar bin Al-Khattab Abu Hafsh al-Adawi al-Qurashi yang dijuluki Al-Faruq (pembeda antara yang hak dan batil). Beliau adalah Khulafaur Rasyidin kedua dan termasuk jajaran sahabat senior Rasulullah ﷺ. Beliau menjadi menteri Nabi ﷺ bersama Abu Bakar, serta termasuk ulama dan orang zuhud di kalangan sahabat. Beliau memegang kekhalifahan Islam setelah wafatnya Abu Bakar As-Siddiq dan terkenal dengan keadilan serta ketegasannya dalam menghapus kezaliman. 

   Amirul Mukminin yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin. Beliau adalah seorang yang mendapatkan ilham (al-mulham al-muhaddits), sangat tunduk pada Kitabullah, dan tegas dalam agama Allah. Jika setan melihatnya, setan akan lari karena takut dan segan kepada Umar. Beliau adalah orang pertama yang membentuk lembaga-lembaga negara (al-dawawin) dan menetapkan penanggalan (Hijriah) bagi kaum muslimin, serta menata administrasi Daulah Islamiyah. Di masa pemerintahannya, banyak wilayah ditaklukkan dan Islam tersebar luas. Beliau adalah seorang ahli ibadah yang rajin shalat malam, sangat mencintai shalat dan selalu memerintahkannya, seraya berkata: 

"لا حظ في الإسلام لمن ترك الصلاة"

"Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat." Ukiran pada cincinnya berbunyi: 

كفى بالموت واعظًا؛

"Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat." Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anhu berkata:

إن إسلام عمر كان عزًّا، وإن هجرته كانت فتحًا ونصرًا، وإن أمارته كانت رحمة.

"Sesungguhnya masuk Islamnya Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat."

* 3. Utsman bin Affan Abu Umar / Abu Abdullah al-Umawi al-Qurashi, Khulafaur Rasyidin yang ketiga dan termasuk orang-orang yang terdahulu masuk Islam. Beliau dijuluki Dzu al-Nurain (Pemilik Dua Cahaya) karena menikahi Ruqayyah, dan setelah Ruqayyah wafat, beliau menikahi Ummu Kultsum (keduanya putri Nabi ﷺ). Beliau adalah orang pertama yang berhijrah ke tanah Habasyah (Etiopia), kemudian melakukan hijrah kedua ke Madinah. Rasulullah ﷺ sangat memercayai, mencintai, dan memuliakannya karena sifat malunya, akhlaknya yang mulia, hubungan sosialnya yang baik, serta kedermawanannya dalam menginfakkan harta demi menolong kaum muslimin. Beliau adalah seorang yang kaya raya lagi dermawan, yang menginfakkan hartanya demi menolong agama Allah. Di masa kekhalifahannya, Al-Qur'an dikodifikasi (dibukukan), dilakukan perluasan Masjidil Haram serta Masjid Nabawi, dan dibentuk armada laut Islam pertama untuk melindungi wilayah pantai Islam.

Beliau sangat dekat dengan Al-Qur'an, hingga berkata: 

إني لأكره أن يأتي عليَّ يومٌ لا أنظُر فيه إلى عهد الله يعني المصحف،

"Aku benci jika ada satu hari berlalu tanpa aku melihat pada janji Allah (yakni mushaf Al-Qur'an)." 

Beliau adalah seorang lelaki yang sangat pemalu, hingga malaikat pun malu kepadanya.

* 4. Ali bin Abi Thalib bin Abdul Mutthalib al-Hasyimi al-Qurashi Abu as-Sibtayn - Ayah dari Hasan dan Husain.

Beliau adalah sepupu sekaligus menantu Nabi ﷺ, serta Khulafaur Rasyidin yang keempat. Beliau adalah anak-anak yang pertama kali masuk Islam. Beliau berhijrah ke Madinah tiga hari setelah hijrahnya Nabi ﷺ. Nabi ﷺ mempersaudarakan Ali dengan dirinya sendiri, dan menikahkan Ali dengan putrinya, Fatimah, pada tahun kedua Hijriah. Beliau mengikuti seluruh peperangan bersama Rasulullah ﷺ kecuali Perang Tabuk. Beliau juga termasuk salah satu penulis wahyu serta salah satu utusan dan menteri terpenting Nabi ﷺ.

Beliau adalah salah satu pahlawan yang gagah berani, seorang yang banyak menangis dan mudah terharu karena takut kepada Allah. Beliau sangat mengagungkan orang-orang yang taat beragama dan selalu mendekatkan kaum miskin. Nabi ﷺ pernah bersabda kepadanya: 

"أنت مني وأنا منك"؛ رواه ابن حبان.

"Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu." (HR. Ibnu Hibban).

* 5. Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman bin Amru bin Ka'ab, dari Bani Taim bin Murrah bin Ka'ab (suku yang sama dengan Abu Bakar As-Siddiq). Beliau masuk Islam melalui perantara Abu Bakar As-Siddiq, mengikuti berbagai peperangan bersama Nabi ﷺ, dan gugur setelah Perang Jamal.

   Rasulullah ﷺ sering menjulukinya dengan Thalhah al-Khair (Thalhah yang baik), Thalhah al-Jood (Thalhah yang dermawan), dan Thalhah al-Fayyadh (Thalhah yang melimpah kebaikannya). Beliau menunjukkan perjuangan yang luar biasa pada Perang Uhud. Beliau melindungi punggung Nabi ﷺ dari anak panah kaum musyrikin dengan badannya sendiri, hingga punggungnya bagaikan landak karena banyaknya anak panah yang tertancap di sana. Tangannya pun lumpuh demi mempertahankan keselamatan Nabi ﷺ, sampai-sampai Nabi ﷺ bersabda: 

"أوجب طلحة"؛ أي: وجبت له الجنة،

"Telah wajib bagi Thalhah (yakni wajib masuk surga)." Abu Bakar apabila mengingat Perang Uhud, beliau selalu berkata: 

"ذاك كله يوم طلحة".

"Hari itu seluruhnya adalah harinya Thalhah."

* 6. Az-Zubair bin Al-Awwam al-Qurashi al-Asadi. Beliau adalah anak dari bibi Nabi ﷺ dan termasuk orang-orang terdahulu yang masuk Islam. Beliau dijuluki Hawari (pembela setia) Rasulullah, dan merupakan orang pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Islam. Beliau berhijrah ke Habasyah pada hijrah pertama namun tidak lama tinggal di sana. Seorang pahlawan yang gagah berani, penunggang kuda yang perkasa, dan ahli puasa yang rajin shalat malam. Beliau adalah anak dari bibi Rasulullah ﷺ, dan orang pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah. Nabi ﷺ pernah bersabda kepadanya: 

"فداك أبي وأمي"

"Bapak dan ibuku sebagai tebusanmu," sebanyak dua kali, yaitu pada Perang Uhud dan Perang Khandaq. 

Beliau mengikuti seluruh peperangan bersama Nabi ﷺ. 

Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan, beliau pergi ke Basrah untuk menuntut qishash bagi pembunuh Utsman, lalu beliau dibunuh oleh Amr bin Jurmuz pada Perang Jamal. Beliau wafat pada bulan Rajab tahun 36 Hijriah dalam usia 64 tahun.

Az-Zubair telah menanggung begitu banyak ujian di jalan Allah, hingga tidak tersisa satu pun anggota tubuhnya melainkan terdapat bekas luka dari peperangan bersama Rasulullah ﷺ. Umar Radhiyallahu 'anhu berkata tentangnya: 

"الزبير ركن من أركان الدين".

"Az-Zubair adalah salah satu tiang dari tiang-tiang agama."

* 7. Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abdul Harits bin Zuhrah. Beliau termasuk golongan awal yang pertama masuk Islam (al-Sabiqun al-Awwalun), di mana beliau masuk Islam sebelum Nabi ﷺ masuk ke Darul Arqam bin Abi al-Arqam. Beliau ikut dalam dua kali hijrah, mengikuti Perang Badar dan seluruh peperangan lainnya. Nabi ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa'ad bin Ar-Rabi' al-Khazraji. Shahabat yang terkenal dengan sedekah, kebajikan, dan kedermawanannya. Pada masa Rasulullah ﷺ, beliau menyedekahkan setengah hartanya, kemudian menyedekahkan lagi sebanyak 40.000 dinar, lalu menyumbang 500 ekor kuda di jalan Allah serta 500 unta tunggangan. Beliau juga sering menyantuni istri-istri Nabi ﷺ dengan hadiah dan harta.

Beliau pernah mengimami Nabi ﷺ dalam shalat Subuh pada Perang Tabuk. Umar Radhiyallahu Anhu berkata tentangnya: 

"عبدالرحمن سيد من سادات المسلمين"

"Abdurrahman adalah salah seorang pemimpin dari pemimpin kaum muslimin." 

Imam Adz-Dzahabi berkata: 

"كان أهل المدينة عيالًا على عبدالرحمن بن عوف، ثلث يقرضهم ماله، وثلث يقضي دَينهم، ويصل ثلثًا"، 

"Penduduk Madinah hidup dalam bantuan Abdurrahman bin Auf; sepertiga dari mereka dipinjami modal dari hartanya, sepertiga lagi dilunasi utang-utangnya, dan sepertiga sisanya diberikan santunan." 

Beliau dijuluki oleh Adz-Dzahabi sebagai 

"الغني الشاكر".

"Orang kaya yang pandai bersyukur".

* 8. Sa'ad bin Abi Waqqas Malik bin Wuhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah. Beliau berasal dari Bani Zuhrah, yang merupakan klan dari Aminah binti Wahb (ibu kandung Rasulullah). Rasulullah ﷺ sangat bangga dengan hubungan kekerabatan dari jalur ibu ini. Beliau lahir di Makkah, bekerja membuat dan meraut anak panah serta busur. Beliau masuk Islam di usia belia dan dianggap sebagai orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Rasulullah ﷺ menyatakan kerelaan menebusnya dengan kedua orang tua beliau sendiri pada Perang Uhud. 

 Seorang yang doanya selalu dikabulkan (mustajabut da'wah). Beliau adalah seorang pemanah ulung yang bidikannya tidak pernah meleset, dan merupakan orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah.

Nabi ﷺ juga mendoakannya: 

"اللَّهمَّ سَدِّد رَمْيتَه، وأجِبْ دعوتَه"

"Ya Allah, tepatkanlah bidikannya, dan kabulkanlah doanya," sehingga beliau menjadi orang yang makbul doanya. Beliau mengikuti berbagai peperangan bersama Nabi ﷺ, berjihad bersama para khalifah, serta menjadi panglima dalam Perang Qadisiyah dan penakluk kota Madain (ibu kota Kisra Persia).

Di antara hal yang terpuji dari Sa'ad adalah beliau memilih untuk mengasingkan diri (tidak ikut campur) dari fitnah yang terjadi di antara kaum muslimin pada zamannya. Ketika ditanya: 

"Apa yang menghalangimu untuk ikut berperang?" Beliau menjawab: 

حتى تأتوني بسيف يعرف المؤمن من الكافر.

"Sampai kalian membawakanku sebuah pedang yang bisa membedakan mana orang mukmin dan mana orang kafir."

* 9. Said bin Zaid:

   Istrinya adalah Fatimah binti Al-Khattab (saudara perempuan Umar bin Al-Khattab), yang menjadi sebab masuk Islamnya Umar. Beliau juga termasuk sahabat yang doanya dikabulkan oleh Allah.

* 10. Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin al-Jarrah bin Hilal bin Ahyab. Beliau adalah salah satu golongan awal yang pertama masuk Islam, yang memeluk Islam melalui perantara Abu Bakar As-Siddiq pada hari-hari pertama dakwah Islam. Beliau ikut berhijrah ke Habasyah pada hijrah kedua. Nabi ﷺ menjulukinya sebagai Amin al-Ummah (Orang Kepercayaan Umat Ini). Beliau termasuk orang yang teguh mendampingi Rasulullah ﷺ pada Perang Uhud, serta mengikuti berbagai peperangan bersama Nabi ﷺ dan para Khulafaur Rasyidin setelahnya. Beliau wafat karena Wabah Amwas dan dimakamkan di sebuah desa kecil yang dinamai sesuai namanya di wilayah Ghor, Yordania.

   Nabi ﷺ bersabda tentangnya: 

: "نعم الرجل أبو عبيدة"، 

"Sebaik-baik lelaki adalah Abu Ubaidah." Beliau juga bersabda: 

"إن لكل أمة أمينًا، وإن أميننا أيتها الأمة أبو عبيدة بن الجراح"

"Sesungguhnya setiap umat memiliki orang kepercayaan (kepercayaan yang jujur), dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah." 

Abu Ubaidah adalah seorang yang terpuji perjalanan hidupnya dan bersih hatinya.

Mereka semua adalah para sahabat yang telah diberi kabar gembira dengan surga saat mereka masih hidup dan berjalan di atas bumi di dunia. Alangkah agungnya kabar gembira tersebut!

Semoga Allah meridhoi sepuluh Shahabat ini dan seluruh Shahabat Rasul-Nya, serta membalas mereka dengan sebaik-baik balasan atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin.

Mungkin ada yang bertanya-tanya: Dengan amalan apa sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ini bisa meraih kemuliaan yang begitu agung?

Jawabannya diringkas oleh tabiin terkemuka, Said bin Jubair, dalam sebuah kalimat yang sangat singkat namun sarat makna. Sungguh indah apa yang dikatakan oleh Said bin Jubair:

"كانوا أمام النبي في القتال، وخلفه في الصلاة".

> "Mereka berada di depan Nabi saat berperang, dan berada di belakang beliau saat shalat."

Alangkah indahnya untaian kalimat ini, sebuah ungkapan yang merangkum seluruh perjalanan hidup sepuluh Shahabat tersebut. Kalimat ini menyampaikan pesan mendalam kepada kita semua: Bahwa surga itu membutuhkan pembuktian lewat amal nyata.

"Mereka berada di depan Nabi saat berperang, dan berada di belakang beliau saat shalat."

Kalimat ini juga menegaskan bahwa meraih kedudukan yang tinggi tidak bisa dicapai hanya dengan berangan-angan kosong. Su

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...

Kisah Menakjubkan Mukjizat Dalam al-Quran Tentang al-Ankabuut (laba-laba)

Firman Allah ﷻ:  مَثَلُ الَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَوْلِيَآءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوْتِ ۚ اِتَّخَذَتْ بَيْتًا ؕ وَ اِنَّ اَوْهَنَ الْبُيُوْتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوْتِ ۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ "Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, sekiranya mereka mengetahui." [QS. Al-'Ankabut: Ayat 41] Dua faidah indah dari surat al ankabuut : Faidah pertama: Mengapa dalam al-Quran kata al-Ankabut dalam bentuk muannats (betina) sedangkan dia adalah mudzakkar (jantan) ??? Perhatikan ta' ta'nits (تْ) pada kalimat اتخذت العنكبوت apakah mudzakar atau muannats? apakah kita katakan هذا عنكبوت hadza 'ankabut, atau هذه عنكبوت hadzihi 'ankabut? Yang benar adalah هذا عنكبوت hadza 'ankabut karena dia mudzakar, tidak dengan ta' ta'nits ( تْ ) pada kalimat al 'ankabut yaitu اتخذت Para pencela dan orang yang ragu ...

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang

Urgensi Beriman Kepada Hari Akhir Dan Pengaruhnya Terhadap Pribadi Seseorang. Beriman Kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat penting bagi seorang muslim yang demikian dikarenakan beberapa alasan sebagai berikut: 1. Beriman kepada hari akhir merupakan satu diantara rukun iman yang enam. 2. Beriman kepada hari akhir merupakan bagian dari keyakinan pokok islam yang mana bangunan akidah dibangun diatasnya setelah permasalahan keesaan Allàh. 3. Beriman kepada hari akhir dan tanda-tandanya termasuk beriman kepada perkara ghaib yang tidak bisa ditangkap oleh akal dan tidak ada cara untuk mengetahuinya kecuali dengan dalil wahyu (al Quran dan as Sunnah) 4. Iman kepada hari akhir seringkali digandengkan dengan iman kepada Allàh. Seperti dalam surat al Baqarah ayat 177, لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ َ Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke ara...