Langsung ke konten utama

Postingan

Kaidah Nan Indah Dari Hadits 'Aisyah

Pada pembahasan-pembahasan yang telah lalu kita telah menyelesaikan kaidah agung yaitu amalan tergantung pada niatnya, maka kaidah yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini merupakan kaidah yang sangat agung dan komprehensif, yang semisal dengan kaidah innamal amalu binniyaat. Hal ini dikatakan oleh Abu Ubaid Al Qasim bin Sallam rahimahullah (w.224 H), "Nabi menghimpun seluruh perkara akhirat pada satu kalimat yaitu siapa saja yang mengada-adakan perkara baru Dan Nabi menghimpun seluruh perkara dunia pada satu kalimat, kedua kaidah ini masuk pada semua bab. (Jamiul uluum wal hikam) Kaidah nan agung ini berdasarkan hadits yang mulia dari Aisyah مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ “Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak“. Hadits ini merupakan kaidah agung diantara kaidah-kaidah islam, yang merupakan jawamiul kalim (ucapan yang ringkas namun kandungan maknanya sangat luas) secara jelas sebagai bantahan ...

Mengapa Kita Harus Belajar Agama?

Diantara ucapan imam Asy Syafi'i -rahimahullah-,      مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَل َيْهِ باِلعِلْمِ “Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.”  (  Manaqib Asy Syafi'i  , 2/139) Seorang tokoh nasional, beliau pernah menjabat presiden RI yang ketiga (21 Mei 1998 - 20 Oktober 1999), dikenal luas sebagai seorang profesor dan ilmuwan dalam teknologi aviasi internasional dan satu-satunya presiden Indonesia hingga saat ini yang berlatarbelakang teknokrat. beliau pernah menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sejak tahun 1978 sampai Maret 1998, beliau juga terpilih sebagai Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) yang pertama. Habibie terpilih secara aklamasi menjadi Ketua ICMI pada tanggal 7 Desember 1990. beliau adalah ba...

Dua Hak Yang Agung

  Allah berfirman, وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Qs. al-A'raf:96) Saudaraku seiman ketahuilah, hak Allah ﷻ wajib kita dahulukan daripada yang lainnya, kita harus lebih bersemangat dan bersegera jika menyangkut hat-hak Allah ﷻ, ini adalah bukti keimanan dan keluhuran akhlak serta ketinggian pengenalan seorang hamba terhadap Rabbnya ﷻ Dari Mu’âdz bin Jabal Radhiyallahu anhu, ia berkata, كنتُ رديف النبيِّ ﷺ على حمارٍ “Aku pernah dibonceng oleh Nabi ﷺ di atas seekor keledai. Lalu Beliau ﷺ bersabda kepadaku: يا معاذ، أتدري ما حقّ الله على العباد؟ وما حقّ العباد على الله؟ Wahai Mu’âdz! Tah...

Semua Punya Hak

  Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk menunaikan setiap hak kepada yang berhak. Ada tiga hak yang harus kita penuhi, apakah saja hak tersebut? Yang pertama adalah Hak Allah ﷻ, kedua hak diri, dan ketiga adalah hak orang lain. Ketika hak tersebut telah dijelaskan dalam hadits berikut ini. Disebutkan dalam hadist Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya : فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْرِكَ عَلَيْكَ حَقًّا “ Dan sesungguhnya pada jasadmu ada hak atas dirimu, dan pada matamu ada hak atas dirimu, dan pada isterimu ada hak atas dirimu dan pada pengunjungmu ada hak atas dirimu.”   ( HR. Al Bukhari )   Diceritakan oleh Juhaifah Wahb bin Abdillah radhiyallahu 'anhu berkata: آخَى النَّبُّي ﷺ بينَ سَلمانَ وأبي الدَّرداءَ، فزارَ سَلمانُ أبا الدَّرداءِ، فرَأىَ أمَّ الدَّرداءِ مُتبذِّلةً Nabi ﷺ  mempersaudarakan Salman dan Abu Darda'. ...

Mengenali Diri Sebagai Seorang Hamba

Sebuah mindset yang selayaknya dibangun pada diri kita adalah bahwa kita semua adalah hamba Allah, bahkan makhluk paling mulia di muka bumi, Allah menyebutnya sebagai seorang hamba. Allah berfirman: وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا۟ بِسُورَةٍ مِّن مِّثْلِهِۦ وَٱدْعُوا۟ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (Qs. Al-Baqarah:23) Hamba yang dimaksud adalah nabi kita yang mulia yaitu nabi Muhammad. Beliaupun menyebutkan bahwa dirinya adalah seorang hamba. Diceritakan oleh Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha, كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ ، إذا صلَّى ، قام حتى تفطَّر رجلاه . “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya jika beliau shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kakinya mengeras ...

Sudah Cukupkah Bekal Kita?

Sesungguhnya sebuah perjalanan pasti membutuhkan bekal, semakin jauh perjalanan tersebut bekal yang dibutuhkan semakin banyak. Jika seseorang melakukan perjalanan beberapa hari, apakah ke luar kota atau pulang kampung halaman dari tanah rantau, pasti membutuhkan bekal, lalu bagaimana dengan perjalanan hidup seseorang di dunia? Dan bagaimana lagi dengan perjalanan setelah kehidupan dunia yang jauh lebih panjang dan sangatlah lama? Kita sangat membutuhkan bekal untuk menghadap Allah, dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. Allah  Ta’ala  berfirman, وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى “ Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. ” (QS. Al-Baqarah: 197) Kehidupan dunia merupakan tempat untuk mengumpulkan bekal, hidup kita merupakan modal yang Allah sediakan untuk berbekal, maka hendaknya kita beramal dengan sebaik-baiknya supaya bekal kita cukup. Shahabat Ali Radhiyallahu anhu  berkata : ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ ...

Nabi Muhammad ﷺ Hamba dan Rasul utusan Allah ﷻ

  Sesungguhnya diantara karunia Allah ﷻ yang sangat besar  bagi umat manusia  adalah Allah ﷻ mengutus Nabi Muhammad   ﷺ  sebagai rasul yang paling mulia dan penutup para nabi, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Sebagaimana yang telah Allah ﷻ firmankan: لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.  (Qs. Ali Imran:164) Seorang muslim ketika mengucapkan Dua kalimat syahadat ,   أشه...