Langsung ke konten utama

Postingan

Kisah Nabi Musa dan Khidir

  عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: Dari Ubay bin Ka'ab radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: > "خَطَبَ مُوسَى فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ، فَقِيلَ لَهُ: أَيُّ النَّاسِ أَعْلَمُ؟ قَالَ: أَنَا أَعْلَمُ.   "Musa pernah berkhutbah di tengah Bani Israil, lalu ditanya, 'Siapakah orang yang paling berilmu?' Ia menjawab, 'Aku.'  فَعَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ، إِذْ لَمْ يَرُدَّ الْعِلْمَ إِلَيْهِ، فَأَوْحَى اللَّهُ  إِلَيْهِ: بَلَى، عَبْدٌ لِي بِمَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ، هُوَ أَعْلَمُ مِنْكَ.  Maka Allah mencelanya karena tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Maka Allah mewahyukan kepadanya, 'Sesungguhnya ada seorang hamba-Ku di pertemuan dua lautan yang lebih berilmu darimu.'  قَالَ مُوسَى: يَا رَبِّ، وَكَيْفَ لِي بِهِ؟ قِيلَ لَهُ: احْمِلْ  حُوتًا فِي مِكْتَلٍ، فَحَيْثُمَا فَقَدْتَ الْحُوتَ، فَهُوَ ثَمَّ.  Musa berkata: 'Wahai Rabb-ku, bagaimana aku bisa menemuinya?' Allah berf...

Khutbah Jumat: ajaran Nabi jalan kebaikan

 --- Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh... Sesungguhnya ajaran para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah, merupakan jalan kebaikan dan keberkahan bagi siapa pun yang mengikutinya. Namun sayang, sebagian kaum justru menuduh bahwa para nabi adalah penyebab kesialan bagi mereka. Tuduhan ini muncul karena ketidaktahuan mereka terhadap hakikat takdir, bahwa kebaikan dan keburukan semuanya berasal dari Allah ﷻ. Dahulu kaum Fir‘aun mereka menyalahkan Nabi Musa atas musibah seperti kekeringan dan paceklik yang menimpa mereka. Allah ﷻ ceritakan hal dalam firman Nya, > وَإِذَا جَاءَتْهُمُ ٱلْحَسَنَةُ قَالُوا۟ لَنَا هَـٰذِهِۦ ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌۭ يَطَّيَّرُوا۟ بِمُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ ۗ أَلَآ إِنَّمَا طَـٰٓئِرُهُمْ عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Dan apabila datang kepada mereka kebaikan, mereka berkata, ‘Ini adalah karena (usaha) kami.’ Tetapi jika mereka ditimpa malapetaka, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang bersama di...

Kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat.

  Kezhaliman adalah suatu kegelapan pada hari kiamat. Mendengar perkataan ini menunjukkan begitu dahsyatnya larangan Ilahi dan teguran yang menakutkan dari kezhaliman. Perkataan ini merupakan hadits Nabi ﷺ  Rasulullah ﷺ bersabda:  الظُّلْمُ ظُلُماتٌ يومَ القِيامَةِ. "Kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat." (HR. Al Bukhari no. 2447 dan Muslim no. 2579) Lalu apa yang dimaksud dengan kezhaliman? Kezhaliman adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya. Mari kita sejenak merenungi sebuah kisah yang diceritakan oleh Baginda Rasulullah  عُذِّبَتِ ٱمْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حبستْهَا حَتَّى مَاتَتْ جوعا، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ، لَا هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلَا سَقَتْهَا إِذْ حَبَسَتْهَا، وَلَا هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ ٱلْأَرْضِ "Seorang wanita disiksa karena seekor kucing yang ia kurung sampai mati. Ia masuk neraka karenanya. Ia tidak memberinya makan dan minum ketika mengurungnya, dan tidak pula membiarkannya makan dari serangga di bumi." (HR. Al Bukhari d...

Tafsir surat Al-Baqarah ayat 82-86

  أيسر التفاسير — أبو بكر الجزائري (١٤٣٩ هـ) --- Makna Ayat-Ayat: Jamaah kaum muslimin rahimakumullah... Setelah Allah menyebutkan perihal neraka dan calon penghuninya untuk memberikan rasa takut, Allah sebutkan di ayat selanjutnya perihal surga dan calon penghuninya untuk memberikan motivasi untuk beriman dan beramal shaleh. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ "Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 82) Dan konteks ayat-ayat ini masih berkaitan dengan peringatan Allah kepada orang-orang Yahudi (yaitu Yahudi kota Madinah yang berjumlah tiga kabilah Bani Qainuqa', Bani Nazhir, dan Bani Quraizhah) mengenai kenikmatan dan nikmat yang telah diberikan kepada nenek moyang mereka, dengan tujuan agar mereka mau mengambil pelajaran dan mendapatkan petunjuk. Ayat 83: Allah berfirm...

Ada Apa Dengan Bulan Suro?

Pertama marilah kita memuji dan menyanjung hanya kepada Allah semata, Dialah yang telah menurunkan Al-Kitab sebagai penjelas dan rahmat bagi sekalian alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad yang telah mengeluarkan manusia dari alam kegelapan menuju alam terang benderang. Dan mengalir kepada keluarga, shahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Jamaah rahimakumullah... Saat ini kita telah memasuki bulan apa? Benar kita telah memasuki bulan Muharram lebih tepatnya tanggal 4 Muharram tahun 1447 H. Bulan Muharram oleh masyarakat Jawa sering disebut dengan bulan suro. Pembahasan kita pada malam hari ini adalah tentang serba-serbi bulan suro. Jamaah rahimakumullah... Bulan Suro (atau dalam kalender Hijriyah disebut Muharram) adalah bulan pertama dalam kalender Islam.  “Suro” berasal dari kata Asyura, yaitu hari ke-10 bulan Muharram, yang memiliki keutamaan dalam Islam. Bulan Allah Muharram adalah bulan yang agung lagi penuh berkah. Ia adalah bulan pertama dit...

Keadilan Islam dan Tolok Ukur Ketakwaan.

  Khutbah Jumat. Segala puji hanya milik Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, sang pembawa risalah agung, suri teladan kita dalam segala hal, termasuk dalam menegakkan keadilan dan kesetaraan. Beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman. Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah, Keadilan di antara sesama manusia merupakan salah satu prinsip agung yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam. Tidak ada keutamaan bagi seseorang atas yang lain kecuali dengan amal saleh dan ketakwaan. Sahabat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘Anhu mengabarkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah berkhutbah kepada para sahabatnya dalam Haji Wada’ (Haji Perpisahan terjadi pada tahun 10 Hijriah yang dihadiri oleh sekitar 100 ribu kain muslimin), tepatnya di pertengahan hari-hari Tasyriq. Beliau ﷺ bersabda: > "يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ" “Wahai manusia, sesungguhnya Rabb kalian adalah satu.” (HR...

Kaidah ke-15: Manusia Seperti Seratus Ekor Unta.

إنَّما النَّاسُ كالإِبِلِ المِائَةِ، لا تَكادُ تَجِدُ فيها راحِلَةً. "Sesungguhnya manusia itu seperti seratus ekor unta, hampir-hampir kamu tidak menemukan seekor pun di antaranya yang layak untuk dijadikan tunggangan (yang kuat dan cocok untuk perjalanan)." (HR. Al Bukhari no. 6133 dan Muslim no. 2547 dengan sedikit perbedaan lafaz. Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma) Apa makna dari perkataan Nabi ini? Orang yang istimewa dan orang yang mampu memimpin dan memiliki pengaruh sangatlah jarang padahal jumlah mereka sangat banyak dan tak jarang juga orang yang mengaku memiliki hal itu. Ini seperti keadaan unta yang jumlahnya cukup banyak, namun Unta-unta pilihan dan tunggangan yang andal itu sangat sedikit. Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam. Mengapa demikian? Karena Rasulullah ﷺ mengaitkan manusia dengan unta—hewan yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab saat itu. Perumpamaan ini tentu mengacu pada karakteristik unta yang sudah umum diketahui, seperti rakus ...